Ustadz Mukidi

|| Kontributor: Muhammad Syukri ||

Satu hal yg selalu saya syukuri dalam hidup ini adalah, karena Allah izinkan sebagian memori di kepala saya terisi oleh romantisme di jalan dakwah. Walaupun sedikit. Dan tak ada apa-apanya dibanding penggerak-penggerak dakwah yang lainnya.

Salah satu yang melekat erat adalah kenangan saat menyambut adik-adik yg ingin berjuang bersama di jalan ini. Diantaranya adalah hari itu. Saat kami menggelar acara untuk semakin menguatkan pundak-pundak mereka.

Maka sejak pagi itu saya sumringah menyambut detik-detik pelaksanaan acara. Dan makin sumringah saat tahu bahwa kader-kader yang berangkat dalam rangkaian ini adalah para “jagoan” dengan segudang potensi besar.

Jagoan harusnya gak mau disuruh-suruh. Jagoan harusnya gak mau diperintah-perintah. Nyatanya mereka mau. Artinya, mereka mampu menahan ego mereka. Artinya, mereka istimewa.

Untuk orang-orang istimewa seperti mereka, kami juga ingin hadirkan seorang pembicara yang sama istimewanya.

Pilihan kami jatuh ke (sebut saja) Ustadz Mukidi. Seorang ustadz istimewa yg nampak biasa saja.

Tak ada yang “heboh” dari selayang pandang seorang Ustadz Mukidi. Gaya parlente, tidak. Singa podium yang mampu membuat pohon-pohon berguncang mendengar teriakannya, nggak juga. Model ceramahnya biasa aja. Pakaiannya yo gitu-gitu aja. Sekilas memandangnya, anda hanya akan jatuh pada kesimpulan ini: seorang bapak-bapak yang nampak biasa saja. Itu saja.

Sore itu kami hubungi beliau, menyampaikan permohonan maaf karena jadwal sesi yang kami sediakan untuk beliau esok hari sangatlah pagi: ba’da subuh tet. Dan beliau mengiyakan. Tanpa pikir panjang.

Seketika terbayang di kepala saya. Perjalanan ke lokasi acara sekitar 1 jam. Adzan subuh jam 4 pagi. Trus beliau berangkat jam berapa?

“Jam 3, syukri. Tadi saya bangun jam 1, trus baca-baca materi sebentar, dan jam 3 saya berangkat”

Bisa jadi jam segitu kita masih berbalut hangatnya selimut! Namun seorang Ustadz Mukidi, beliau telah menembus dinginnya malam, meninggalkan keluarga tercintanya untuk sesuatu yang tak menghasilkan keuntungan materi apapun baginya.

Sekali lagi saya yakin, beliau tahu betul bahwa beliau akan pulang tanpa membawa segepok uang. (Ah, saya jadi teringat sama pembicara kampret yang kami undang di sebuah acara amal tahun lalu. Dia hanya mau datang kalau rekening gendutnya telah kami isi dana segar sebesar 20 juta. Pret kan.)

Lanjut. Lanjut. Jangan sering-sering ngampretin orang.

Okelah jika waktu yang amat pagi tak dianggap sebagai sebuah soal. Masalahnya, bocah-bocah yang jadi audiens itu sudah sangat lelah. Mereka juga lapar. Lebih tepatnya, kelaparan. Makan sore mereka hanya sepotong ubi cilembu. Itupun masih dibagi dua. Malamnya harus jalan kaki masuk desa-desa (plus kuburannya) hingga subuh tiba. Maka saya yakin betul Ustadz Mukidi faham bahwa ceramahnya hanya akan berakhir seperti ini: peserta tertidur karena kelelahan! Ceramahnya sangat berpotensi untuk dikacangin. Wis mangkat isuk-isuk, ra dibayar, ra digagas. Po rak lengkap?

Saya tak kuasa menahan rasa penasaran. Saya beranikan diri untuk bertanya,

“Ustadz rela meninggalkan keluarga pagi-pagi buta. Ustadz juga tahu bahwa ustadz tak akan mengantongi pundi-pundi rupiah sepulang dari sini. Dan itu ustadz lakukan hanya sekedar untuk menemui mahasiswa2 cupu seperti kami yg nampak sedang bermain-main. Apa yg membuat ustadz mau-maunya berangkat ke tempat ini? Bagi saya ini luar biasa.”

Beliau menjawab “saya bahkan tidak terfikir sama sekali untuk pulang dengan membawa uang. Sekarang setelah antum tanya, saya malah jadi kepikiran. Sini tanggung jawab. Kasih saya uang.”

Matek! Salah ngomong lek. Ngguyu tok wae mbangane isin.

Beliau melanjutkan “Saya kok nggak tahu ya, syukri. Bagi saya itu biasa saja. Tidak ada yang spesial. Aktivitas dakwah seperti ini telah saya lakukan bertahun-tahun. Mungkin itu yang membuat saya tidak lagi berfikir macam-macam. Ada seruan, jalan. Ada yang butuh, datang. Begitu saja. Urusannya bukan lagi untung-rugi, tapi surga-neraka. Dan andai apa yang saya lakukan ini dianggap sebagai hal yang luar biasa, antum perlu tahu, banyak sekali ustadz-ustadz kita yang jauh lebih pantas disebut luar biasa dibanding apa yang saya lakukan pagi ini.”

Itu saja jawaban yang keluar dari lisan beliau. Sisanya, beliau justru menceritakan kisah-kisah heroik tentang perjuangan masyayikh-masyayikh dakwah ini.

Dan di penghujung fajar itu, pak seorang rekan memberi tau saya,

“Uang bensinnya Ustadz udah tak kasihkan ke beliau.”

“Ntaps. Terus?”

“Nih dibalikin. Kata beliau buat tambah-tambah panitia.”

Dan saya hanya tertegun. Kagum dengan beliau. Malu dengan diri saya sendiri.


————-
Ikhwah, aktivitas dakwah yang kita telateni dengan istiqomah akan membuat kita tidak merisaukan sesuatu yang seharusnya dirisaukan orang-orang banyak. Aktivitas dakwah kita akan membuat kita menganggap biasa saja sesuatu yang menurut orang lain luar biasa. Aktivitas dakwah kita membuat kita menyederhakan kebahagiaan kita. Tahajud bersama di penghujung malam yang hanya tersisa sepertiga, itulah bahagia.

Maturnuwun sanget, Ustadz. Engkau telah mengajari kami bahkan tanpa perlu mengeluarkan kata-kata yang menegaskan bahwa kau sedang mengajarkan sesuatu pada kami.

Engkau mungkin nampak biasa saja. Tapi tidak bagi kami. Engkau salah satu prioritas kami.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *