7 Faktor Pembentuk Resiliensi Keluarga

0
163

segitiga emas membangun keluarga

Cahyadi Takariawan

Susi adalah seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani kehidupan bersama Anton, sang suami, lebih dari limabelas tahun. Pada sebagian besar rentang kehidupannya, Susi sangat banyak ditimpa kemalangan dan kesengsaraan hidup. Bermula dari suami yang terkena PHK, kemudian disusul kebangkrutan dalam berbagai bisnis dan usaha, bahkan akhirnya Anton mengalami kelumpuhan akibat penyakit yang mendera mereka.

Susi adalah perempuan yang tegar. Tiap pagi ia bangun sebelum Subuh dan mengerjakan semua urusan rumah tangga. Menyiapkan sarapan, menyiapkan keperluan anak sekolah, hingga mengantar anak-anak sekolah dengan sepeda motor tua. Usai itu, Susi segera mengurus sang suami yang lumpuh, dan mengantarkannya berobat ke dokter serta tempat pengobatan alternatif. Ia boncengkan sang suami dengan susah payah, namun ia tabah menjalani itu sekian lama.

Anton adalah tipe suami yang sangat bertanggung jawab. Sikap positif Anton tetap tampak sampai saat ia mengalami kelumpuhan. Anton tidak pernah mengeluh, dan menghadapi kemalangan tersebut dengan penuh kesabaran. Sikap positif Susi dan Anton sangat memberi inspirasi bagi banyak keluarga lainnya. Betapa dalam kondisi kemiskinan yang berat, Susi harus bekerja keras mencari uang untuk makan dan biaya sekolah anak-anak, serta biaya pengobatan sang suami tercinta.

Faktor apakah yang membentuk sikap hidup Susi serta Anton? Mengapa mereka demikian tegar menghadapi sejumlah masalah berat dalam kehidupan berumah tangga? Inilah yang disebut sebagai resiliensi (kelentingan) keluarga.

7 Faktor Pembentuk Daya Resiliensi

Pada postingan sebelumnya, sudah saya sampaikan tentang fungsi resiliensi bagi kehidupan keluarga. Pada kesempatan kali ini akan saya sampaikan tentang 7 (tujuh) sisi resiliensi, atau tujuh kemampuan yang membentuk daya resiliensi.

Pertama kali, saya ajak anda untuk melihat fenomena beberapa rumah tangga. Secara selintas kita menyaksikan ada keluarga yang tangguh dan ada keluarga yang rapuh. Ada keluarga yang kerap ditimpa kemalangan, namun sanggup mereka hadapi dengan penuh kedewasaan, kesabaran dan ketabahan. Mereka tidak suka mengeluh, dan cepat pulih setelah mengalami keterpurukan. Inilah keluarga yang tangguh. Namun ada pula keluarga yang begitu ditimpa kemalangan, begitu cepat mengeluh, dan tidak mampu bangkit dari keterpurukan. Keluarga ini mudah hancur berantakan. Inilah keluarga yang rapuh.

Untuk memamahami fenomena perbedaan kondisi keluarga tersebut, saya ingin memperlihatkan sisi-sisi resiliensi. Paling tidak ada tujuh faktor yang membentuk daya resiliensi dalam diri seseorang. Apabila suami dan istri memiliki daya resiliensi yang tinggi, maka keluarga akan menjadi tangguh. Keluarga yang resilien atau lenting, yaitu mampu menghadapi setiap permasalahan dengan cepat dan tepat, tanpa membahayakan kebaikan dan keutuhannya.

Dari berbagai studi, ditemukan setidaknya 7 (tujuh) faktor yang membentuk daya resiliensi pada diri seseorang. Tujuh faktor itu adalah:

1. Regulasi Emosi

Para ahli menyatakan, yang dimaksud dengan regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Orang yang tidak memiliki kemampuan mengatur emosi, cenderung mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Penjelasan yang sederhana adalah, tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu bersama orang yang mudah marah, cepat merengut, selalu cemas, khawatir serta gelisah di setiap saat.

Suami atau istri yang tidak mampu mengatur dan mengelola emosi, akan membuat pasangannya merasa tidak nyaman. Bahkan dalam kondisi tertentu, bisa membuat seseorang menjadi sangat tertekan karena sikap emosional pasangannya. Demikian pula dalam relasi antara orang tua dengan anak, jika orang tua tidak memiliki kemampuan regulasi emosi, akan membuat anak merasa tidak nyaman berada di dekat orang tua.

Dalam kehidupan keluarga, emosi yang dirasakan dan dimiliki oleh seorang anggota keluarga akan cenderung berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya. Uniknya, semakin seseorang terasosiasi dengan kemarahan, maka ia akan semakin menjadi pemarah. Misalnya, seorang suami yang dikenal dan disebut sebagai pemarah oleh istri dan anak-anak, akan membuat dia menjadi semakin mudah marah. Dengan sikap yang mudah marah tersebut, membuat istri dan anak-anak semakin tertekan. Inilah suasana keterkaitan dan keterikatan yang terjadi dalam suatu keluarga.

Ada dua keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi emosi, yaitu yaitu sikap tenang (calming) dan fokus (focusing). Dua keterampilan ini mampu membantu individu untuk mengontrol emosi, menjaga fokus pikiran ketika tengah banyak hal yang mengganggu, serta meredam stres yang tengah terjadi. Jika suami dan istri memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, maka berbagai masalah dan persoalan akan sangat mudah untuk diselesaikan. Karena pada dasarnya masalah menjadi mudah apabila dihadapi dengan sikap tenang dan tidak emosional.

2. Pengendalian Impuls

Yang dimaksud dengan pengendalian impuls adalah kemampuan untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri sendiri. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan pengendalian impuls, cepat mengalami fluktuasi emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perilakunya. Jika seorang istri tidak mampu mengendalikan keinginan, maka akan memunculkan sikap emosional terhadap suami, karena menganggap suami tidak peduli, tidak cinta lagi, disebabkan tidak segera memenuhi keinginannya.

Demikian pula suami yang tidak mampu mengendalikan keinginan, akan mudah meledak kemarahan terhadap istri hanya karena istri tidak segera memenuhi keinginannya. Oleh karena itu, kemampuan pengendalian impuls menjadi hal yang sangat penting agar resiliensi keluarga bisa tercapai dan bisa semakin tinggi. Semakin bagus kemampuan pengendalian impuls dalam diri suami dan istri, semakin bagus pula kemampuan resiliensi mereka.

Orang yang tidak memiliki kemampuan pengendalian impuls, menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif. Perilaku seperti ini membuat anggota keluarga merasa tidak nyaman sehingga berakibat pada buruknya hubungan di antara mereka. Pengendalian impuls bisa dilakukan dengan selalu berpikir positif serta konstruktif, mencegah terjadinya kesalahan pemikiran, sehingga dapat memberikan respon yang tepat pada permasalahan yang ada.

Seseorang dapat melakukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat rasional yang ditujukan kepada dirinya sendiri, seperti:

“Apakah kesimpulan yang aku ambil atas masalah ini benar-benar berdasarkan fakta atau hanya persangkaanku saja?”

“Apakah aku sudah melihat permasalahan secara komprehensif, ataukah hanya permukaannya saja?”

“Adakah hikmah dan manfaat dari semua masalah ini?”

Pertanyaan tersebut mengarahkan seseorang untuk lebih mampu mengendalikan impuls dalam dirinya. Kemampuan mengendalikan impuls ini memang sangat terkait dengan faktor yang sebelumnya, yaitu regulasi emosi. Keduanya berhubungan dengan sangat erat.

3. Sikap Optimistik

Pada dasarnya, individu yang resilien adalah individu yang optimis. Seseorang dikatakan optimis apabila ia mampu melihat masa depannya cemerlang, atau lebih baik dari saat ini. Pasangan suami istri yang yakin bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi permasalahan atau kemalangan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu, menjadi faktor pembentuk resiiensi. Sikap optimis yang dimiliki suami istri ini membuat mereka lebh tenang dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan.

Sebaliknya, pribadi yang pesimistik, membuat dirinya memandang segala sesuatu secara negatif, memandang lemah diri sendiri dan pasangan, merasa tidak berdaya, dan pada akhirnya membuat mereka mudah mengalami kegagalan saat menghadapi beratnya permasalahan. Optimisme diperlukan oleh semua orang, karena pada dasarnya berat atau ringan suatu masalah sangatlah relatif. Namun sikap optimis menghadapi kehidupan di masa depan akan membuat semua orang lebih nyaman dengan berbagai kondisi yang dihadapi saat ini.

Masyarakat Indonesia memiliki pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ini adalah contoh sikap optimis, bahwa kalaupun saat ini susah dan sakit, tapi ada harapan perbaikan di masa depan. Orang Jawa menyatakan, “wong kang ngalah dhuwur wekasane”, orang yang bersikap mengalah itu bukan berarti kalah. Justru mereka akan mendapatkan ketinggian posisi di masa yang akan datang. Ini juga merupakan sebentu optimisme menghadapi hal yang akan datang kemudian, sebagai konsekuensi dari sikap positif yang dibangun pada saat ini.

4. Analisis Penyebab

Causal analysis atau analisis penyebab, merujuk pada kemampuan individu untuk mengidentifikasikan secara akurat penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi. Orang yang tidak mampu mengidentifikasikan penyebab dari permasalahan yang dihadapi secara tepat, akan terus menerus berbuat kesalahan yang sama. Dalam sebuah keluarga, kemampuan suami dan istri untuk melihat penyebab atau akar masalah menjadi penting, agar mereka bisa menghindari masalah yang sama di waktu yang akan datang.

Semua persoalan dalam hidup berumah tangga, pada dasarnya bermula dari mereka sendiri. Oleh karena itu, sikap yang paling tepat adalah melakukan evaluasi atas diri mereka sendiri, dan tidak melempar kesalahan kepada pihak lain. Pribadi yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat, demi menjaga harga diri mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka, sebaliknya mereka memfokuskan dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan mereka mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan hidup mereka, bangkit dan meraih kesuksesan.

5. Sikap Empati

Empati adalah sikap menempatkan diri pada posisi orang lain, hal ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Beberapa individu memiliki kemampuan yang cukup mahir dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa nonverbal yang ditunjukkan oleh orang lain, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh dan mampu menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan empati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif.

Dalam kehidupan keluarga, suami istri yang mampu bersikap empati satu dengan yang lain, akan memiliki hubungan yang lebih menyenangkan. Mereka akan saling mengerti, saling memahami, dan saling menjaga perasaan yang lain. Dengan cara seperti ini, sikap terhadap diri dan pasangan akan positif, demikian pula sikap terhadap permasalahan akan lebih konstruktif. Masalah keluarga akan lebih dihadapi bersama, apabila mereka berdua memiliki sikap empati.

Ketidakmampuan bersikap empati berpotensi menimbulkan kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Suami dan istri yang tidak peka terhadap bahasa nonverbal dari pasangan, tidak akan mampu untuk menempatkan dirinya pada posisi pasangan, tidak mampu merasakan apa yang dirasakan pasangan dan memperkirakan maksud pasangan. Komunikasi dan interaksi akan tersekat jika memiliki sikap tidak empati seperti ini.

Ketidakmampuan suami dan istri untuk membaca bahasa nonverbal pasangan, dapat berdampak sangat merugikan. Hal ini karena salah satu kebutuhan dasar manusia adalah ingin dipahami, dihargai, diakui dan diterima.

6. Efikasi Diri

Self-efficacy atau efikasi diri adalah sebuah keyakinan bahwa seseorang mampu memecahkan masalah yang dihadapi dan mampu mencapai kesuksesan dengan upayanya. Self-efficacy merupakan hal yang sangat penting untuk mencapi resiliensi, karena sugesti atas kemampuan diri sangat berpengaruh positif dalam menghadapi setiap permasalahan. Suami dan istri yang memiliki efikasi diri, akan cenderung menghadapi semua hal dalam dirinya dengan sikap yang positif.

Dalam menghadapi setiap kerumitan, ada keyakinan akan potensi diri dalam menghadapi masalah. Efikasi ini akan sangat kuat apabila benar-benar bersumber dari dalam dirinya sendiri, bukan hasil sugesti orang lain. Namun terkadang seseorang memerlukan bantuan orang lain untuk menunjukkan bahwa dalam dirinya memiliki banyak potensi untuk keluar dari masalah dengan baik.

7. Reaching Out

Yang dimaksud dengan reaching out adalah kemampuan seseorang untuk menemukan dan membentuk suatu hubungan positif dengan orang lain, untuk meminta bantuan, berbagi cerita dan perasaan, untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalah baik personal maupun interpersonal atau membicarakan konflik dalam keluarga. Reaching out merupakan upaya mendatangkan aspek-aspek positif dalam kehidupan, baik pribadi maupun keluarga.

Suami dan istri yang berhasil meningkatkan aspek positif dalam hidup, akan mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, sekaligus memiliki makna dan tujuan hidup yang benar. Mereka mampu melihat gambaran besar dari kehidupan, sehingga tidak terjebak dalam fenomena yang bersifat sesaat. Saat menghadapi permasalahan atau tekanan dalam kehidupan berumah tangga, mereka lebih mampu mendayagunakan semua potensi secara positif sehingga mampu bertahan dan keluar dari masalah dengan sukses.

Dalam realitas keseharian, ditemukan banyak orang yang tidak mampu melakukan reaching out, karena sejak kecil telah ditanamkan untuk menghindari kegagalan dan kemalangan. Mereka adalah pribadi yang lebih memilih memiliki kehidupan standar dibandingkan meraih kesuksesan yang lebih besar namun memiliki resiko kegagalan dalam hidup.

Demikianlah tujuh faktor yang akan membentuk daya resiliensi individu, yang pada akhirnya akan meningkatkan resiliensi keluarga.

Bahan Bacaan: Diana Setiyawati, Ph.D., Modul Resiliensi, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here