Antara Sepeda dan Kenangan

0
70

“Sepeda ini dikasih sama Mbah Yai (Kyai) Hasyim. Ambil lah,”

“Tapi gimana ya, Pak. Yakin mau dikasih cuma-cuma ke saya?”

Aku mengulang pernyataan Pak Abdullah. Rasa ragu merasuk jauh ke dalam hatiku.

“Iya. Insya Allah akan lebih bermanfaat untukmu, Dik. Sejauh ini saya tidak merawatnya. Sayang sekali memang,” kulihat Pak Abdullah berusaha meyakinkanku.

***

Sepeda merk Phoenix ini kuperkirakan sudah berusia tiga dasawarsa. Ia tersandar di dinding kandang ayam. Keseluruhan rangkanya berbalut debu karena sudah sangat lama tak digunakan. Sepeda inilah yang akan diberikan Pak Abdullah kepadaku.

Kebimbangan merayapi hatiku ketika akan menerima sepeda itu. Sejatinya rasa inginku sungguh menggebu untuk memilikinya. Namun kisah Pak Abdullah tentang sepeda itu, mengetuk kesadaranku bahwa ada kenangan antara seorang santri dan Kyai serta pondok pesantren tempat ia menimba ilmu berpuluh tahun yang lalu.

“Sepeda itu dulu dipakai Mbah Yai (Kyai) untuk berjualan sayuran keliling. Itu aktivitas beliau di sela-sela waktu mengajar kami di pondok. Aku menerima hadiah sepeda ini dari beliau,”

Pak Abdullah lebih jauh menuturkan, bahwa ia dan Kyai Hasyim memiliki hubungan yang sangat dekat. Di pondok, Pak Abdullah adalah salah satu santri yang menonjol.Bukan dari sisi keilmuan, melainkan dari sisi kepatuhan. Ia tak sehebat santri lainnya dalam mengenyam pelajaran, namun ia dengan suka rela membantu memasak, mencuci, hingga melayani sesama santri lainnya. Ini yang membuat Pak Abdullah mendapat tempat tersendiri di hati seisi pondok.

Tentu saja, sepeda itu adalah satu-satunya benda kenangan yang ia terima dari Kyai Hasyim yang berwujud. Ada kenangan, cerita indah seorang santri, dan luapan emosi mendalam. Atas dasar itu pula aku merasa ragu untuk menerimanya.

Sepertinya Pak Abdullah mampu membaca kebimbanganku. Tak lama dalam diamku, ia melanjutkan ucapannya,

“Dik, sepeda ini memang penuh kenangan. Tapi ini hanya benda fisik. Sifatnya fana (sementara), tidak lah kekal. Bagiku biasa saja, kok,” ia berkata dengan santainya.

“Loh, kok gitu, Pak?” rasa penasaranku tumbuh.

“Bagiku, bukan wujud sepeda ini yang ada di hati, melainkan ilmu, kebaikan, jasa, dan semua nasihat Mbah Yai Hasyim itulah yang tumbuh. Karena itu semua tak akan hilang dan rusak. Itu yang tersimpan dalam hatiku dan menjadi bekal hidupku,”

Aku termangu mendengar pemaparan Pak Abdullah. Betapa lugas kalimat yang terucap dari lisannya, seolah ia ingin mengajarkan substansi, hakikat, dan intisari dari sebuah kejadian dan benda fisik.

“Cepat atau lambat, di tangan siapapun, sepeda ini akan mengalami kepunahannya. Makanya aku persilahkan dirimu memilikinya dengan cuma-cuma. Itulah yang membuatku tak mau menyimpannya dalam hati. Tentu Mbah Yai Hasyim juga tak akan kecewa, karena justru aku menyimpan lebih dari pada sepeda ini,”

O, demikian Pak Abdullah memberikan pencerahannya kepadaku. Bahwa ia tak sekedar memandang sebuah benda pemberian, namun apa yang jauh terkandung di dalamnya.

Sepeda itu kini telah tua. Barangkali sedikit melampaui usiaku. Namun ada satu yang tetap dijaga di hati Pak Abdullah, yaitu kenangan bersama Kyai Hasyim, kebaikannya, nasehatnya, serta seluruh ilmu yang telah terpatri dan bermanfaat hingga suatu masa nanti.

Kali ini, aku benar-benar belajar memahami sebuah arti. Dari Pak Abdullah, dari sepeda tua yang akan segera kumiliki… (*)

Salam sukses bersama!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day25

#Inspirasi #Santri #sepeda #pondok #islam #muslim #selfhealing #healing

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here