Arah

0
182

Eko Novianto

“Setiap kenikmatan itu ada pendengkinya”.

Sebentar… sebentar… tunggu dulu…

Mungkin kita segera setuju. Mungkin kita segera membenarkan kalimat itu untuk membenarkan kedengkian orang lain. “Ooo… mangkane dia ketok meri…”. Atau, “Oh itu sebabnya dia iri….”.

Belum tentu.

Kalimat itu bukan untuk membenarkan sudut pandang itu. Kalau cuma untuk membenarkan kegeeran dan kebodohan kita, tak perlu kalimat indah dan cerdas itu. Dengan kebodohan dan kebebalan, sudah cukup untuk meyakini bahwa kita baik-baik saja dan orang lain selalu dengki pada kita.

Kalimat itu lebih untuk mengatakan bahwa kita mungkin iri pada kenikmatan orang lain. Bahkan, kalau pun, kita menjadi raja, kita mungkin masih akan bisa dengki pada hal-hal sederhana yang dinikmati dan disyukuri oleh kaum papa.

Cobalah lebih keras melihat ke dalam. Cobalah menyeimbangkan arah pandang. Cobalah juga untuk berhati-hati pada kompetisi-kompetisi yang sedang terjadi. Karena cukup adalah cukup. Cukup dan qonaah itu soal bagaimana kita mengenal diri kita dan bagaimana kita mengenal Tuhan kita.

Dan, sebenarnya, tidak banyak tersedia waktu sisa untuk banyak menatap orang lain.

Jakarta, 6 September 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here