Arus Kebersamaan

0
121

|| Kontributor: Kang Ewa ||

Sungguh tiada penciptaan Allah swt yang sia-sia di muka bumi ini. Kalau lah tidak mengandung unsur kegunaan secara fisik, setidaknya penciptaan Allah swt tersebut memiliki kegunaan secara makna, yakni sebagai petunjuk, tamsil, atau pengingat untuk setiap hambaNya.

Salah satu tanda ketidaksia-siaan ini ada pada air yang ada disekeliling kita. Air menjadi asal tumbuhnya manusia di alam rahim, menjadi penyejuk bumi yang menghampar, penyegar jasad yang dahaga, hingga menjadi petaka apabila terlalu besar datangnya.

Air ketika kecil, ia menjadi sahabat yang menyenangkan untuk diarungi, bahkan untuk direguk kesegarannya. Namun tatkala membesar, ia akan menjadi arus yang bisa melabrak dan menenggelamkan siapa saja, bahkan kekuatannya tak terbendung.

Dalam perjalanannya, air yang mengalir di sungai adalah air yang mengalir dalam jumlah banyak. Dengan jumlahnya ia memberikan manfaat kepada seluruh mahluk. Ia dinikmati tetumbuhan sebagai bekal bertumbuh-kembang, dinikmati binatang dan manusia sebagai penopang kehidupan, serta menjadi penyeimbang alam sehingga memberikan kesejukan.

Pengecualian dari manfaat itu semua adalah bencana. Air yang bergerak dalam jumlah besar bukan hanya merepotkan manusia, tetapi menjadikannya sebuah bencana yang bisa berakibat hilangnya nyawa, harta, benda, serta sebuah tatanan masyarakat. Tsunami di Aceh, banjir bandang di Bengawan Solo, serta air bah yang melanda kaum Nabi Nuh as adalah sebuah isyarat, bahwa air dalam jumlah besar tak selamanya bersahabat dengan manusia.

Mengambil perumpamaan air, arus pergerakan umat Islam tidak kalah hebatnya. Dua hari lalu, Zionis Israel menyerah. Mereka membuka gerbang Masjid Al Aqsha dan melepas seluruh metal detektor lengkap dengan gerbang elektroniknya. Tentu saja, ini semua dilakukan atas desakan seluruh umat Islam di berbagai penjuru bumi ini.

Kemudian “bencana” dari kebersamaan umat Islam baru-baru ini paling hebat dirasakan oleh salah satu produsen roti. Aksi boikot umat Islam di Indonesia akibat sikap direksi pabrik roti tersebut berbuntut panjang. Bukan hanya dicap sebagai pabrikan yang tidak pro umat Islam, melainkan juga turunnya nilai di bursa saham serta kerugian secara materi, memberikan indikasi bahwa sebuah persatuan yang besar tidak bisa dianggap main-main dalam memberikan efek negatif terhadap sesuatu.

Dari kejadian-kejadian di atas, umat Islam tak ubahnya air. Ketika ia bersatu dan menuju ke satu titik tujuan bersama, maka manfaat besar akan didapat. Tetapi sebaliknya, ketika bersatu untuk menyelesaikan suatu perkara yang bisa memberikan dampak negatif, kerugian pabrik roti dengan market share terbesar di Indonesia tersebut tentu bisa dijadikan contoh nyata.

Saat ini, umat Islam bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia dibutuhkan untuk memiliki kesatuan yang utuh. Banyak masalah-masalah besar keumatan yang menanti untuk dituntaskan. Penindasan rezim Syiah Bashar Asad di Suriah, pembantaian dan teror kepada umat Islam di Xinjiang dan penjajahan di bumi Palestina menunggu untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Semoga, semangat persatuan umat Islam akan semakin bergelora. Tentu saja perbedaan pendapat, sikap, dan kebijakan tidak dapat dipungkiri, tetapi perlu diingat, bahwa kita berasal dari “mata air” keimanan yang sama, “mengalir” dalam syariat yang sama, serta akan “bermuara” pada kepentingan yang sama yakni; kejayaan Islam.

Itulah yang kita harapkan segera tumbuh di dada umat ini; sebuah arus kebersamaan yang akan membawa kepada perubahan. Aamiin (*)

Semoga sukses bersama!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day24

#Air #Motivasi #Inspirasi #edukasi #jamaah #Islam #Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here