Berbuat Seperti Angin

1
123

Di hari wafatnya Ali bin Husain, sebagian orang yang memandikan jenazah beliau merasa heran. Hal ini tidak lain disebabkan tanda kehitaman di pundak beliau. Lalu orang-orang tersebut mengajukan pertanyaan,

“Tanda kehitaman ini bekas apa?”

Sempat tak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, meski akhirnya sebab tanda kehitaman di pundak Ali bin Husain dapat diketahui.

Pada akhirnya ada yang menguak juga tentang kebiasaan Ali bin Husain yang selalu mengendap-endap di malam hari untuk membagikan sedekahnya. Bukan cuma takut diketahui orang lain, ia juga memikul sendiri seluruh bahan makanan yang akan disedekahkannya itu.

Selain penuturan tersebut, pasca wafatnya Ali bin Husain, masyarakat Madinah tidak lagi menjumpai ada bahan makanan di depan pintu rumah mereka. Sebelumnya, hampir setiap pagi selama sekian tahun lamanya, mereka menemukan bahan makanan, tanpa diketahui siapa pengirimnya.

Tidak kurang seratus paket bahan makanan ia pikul sendiri setiap malam. Itulah penyebab tanda kehitaman di punggung Ali bin Husain. Setiap malam ia bergerak dalam senyap, jauh dari hingar bingar pemberitaan.

Dalam Syarah Arbain Nawawiyah, mengutip apa yang diungkapkan Abu Hamzah Ats Tsimali, bahwa Ali bin Husain pernah berkata; “Sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi bisa memadamkan kemurkaan Allah swt,”.

Apa yang dilakukan Ali bin Husain tak ubahnya sifat angin. Ia bergerak, berbuat, dan mengisi ruang kehidupan manusia dengan segala manfaatnya. Namun ia tidak bisa ditengarai dari mana datangnya dan bagaimana bentuknya. Ia hanya dianggap ada, karena terdapat hasil dari usaha yang diberikannya terhadap sesama.

Angin telah mengajarkan kita tentang sebuah makna keikhlasan, bahwa di dalam kebaikan-kebaikan yang kita lakukan secara rahasia bukan sekedar sebuah gerak tanpa makna, melainkan tertanam di dalamnya ketulusan hati dan keyakinan bahwa semuanya karena kehendak Allah swt, dan akan berbalas kebaikan dariNya pula.

Tanyakan kepada para petani di sawah, kepada para nelayan di laut, serta para nakhoda kapal tentang apa kontribusi angin bagi mereka. Dengan fasih mereka bisa menjelaskannya.

Namun demikian, meskipun sangat besar kontribusi angin buat orang-orang ini, tak sekalipun mereka melihat seperti apa wujud angin, kemana ia pergi dan berasal. Tentu saja, yang mereka tahu, bahwa angin bergerak atas titah Tuhannya untuk membantu mereka.

Mengambil pelajaran dari angin, sebagai seorang manusia tentu saja kita sangat bisa untuk berbuat sepertinya; bermanfaat dalam senyap.

Barangkali untuk menambahkan, di dalam hati kita semua perlu tertanam keyakinan, bahwa sebuah kebaikan akan diceritakan penduduk langit apabila kita tak mencari puja-puji penduduk bumi.

Seumpama angin yang tak berhenti berhembus, semoga demikian pula kebaikan dan keikhlasan kita. (*)

Salam Sukses Bersama!
Imago Satire

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day26

#inspirasi #motivasi #selfreminder #selfhealing #writing

1 KOMENTAR

  1. Semoga kita bisa termasuk orang yang selalu bisa menjaga setiap amalan seperti angin, tak perlu mata orang lain bisa melihatnya agar kita (merasa) baik. Tapi karena memang kita sudah lebih baik dari dalam. Ayo Lebih Baik!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here