Bukan Karena Hebat, Tapi…

0
298

Setiap ngaji, sepertinya selalu saja ada hal-hal yang menyenangkan. Renyah untuk diingat. Bahkan… ya, ada saja pembelajaran yang tidak bisa dianggap enteng. Apalagi soal kesan, beuh… banyaknya bukan kepalang. Namanya juga banyak orang, banyak watak, banyak pula keunikannya.

Satu masa pernah seorang rekan ngaji membuat kami sekuat tenaga menahan bingung pada awal perkenalannya. Begini yang dia ucapkan;

“Alhamdulillah, keluarga Antum sehat. Antum sudah punya anak tiga. Istri Antum juga kerja. Semoga Ana dan istri-istri serta Anak-anak Ana juga demikian,” tuturnya serius.

“Oh, iya. Akh Abdullah, Ana kerja dimana? Sepengetahuan Antum, Ana kerja jadi mekanik yah?” ia pun melanjutkan.

Abdullah yang ditanya merenung bingung, sebagian lainnya nyengir sambil mutar pikiran atas ucapan rekan satu ini.

“Oh, iya. Saya kerja jadi mekanik,” jawab Abdullah seolah ingin mengingatkan kalau di majelis pengajian itu juga boleh menggunakan kata “Saya”, “Aku”, dan lainnya.

Sejujurnya ingin sekali kami mengingatkan rekan tersebut, bahwa kata yang digunakannya terbalik. ‘Ana’ yang semestinya berarti “Saya” diganti menjadi ‘Antum’ yang berarti “Kamu”. Tapi perjumpaan pertama tentu saja tak ingin kami warnai dengan kesan yang kurang nyaman bagi dirinya.

Namun keajaiban terjadi pada pertemuan pekan berikutnya. Rekan tersebut dengan senyum-senyum kecil berbicara di penghujung pertemuan.

“Maaf, kemarin saya keliru ya pas bicara. Maklum baru belajar ngaji,” begitu katanya disambut kepala kami yang manggut-manggut unyu. Hahaha.

Tapi itu dulu, di tahun 2009 lalu. Bersyukur juga aku dan kami khususnya sesama rekan sepengajian tak ada pikiran untuk meremehkan, mengejek, bahkan berlaku yang tidak pantas atas kekeliruannya itu, tidak underestimate -lah bahasa gaholnya.

Soalnya nih…. kini, rekan tersebut sudah bisa berbicara bahasa Arab. Bahkan bukan itu saja, ia juga telah menghafal beberapa Juz Al Qur’an dan belajar ilmu fiqih dengan baik. Tak lupa perlu kusampaikan, ia kini telah mahir berbicara di depan banyak orang. Bahkan memiliki “Santri Binaan” sendiri.

Pada suatu kali, aku mendengar seorang rekan lain memujinya.

Antum hebat, Akhi. Bisa hafal Al Qur’an, bisa berbahasa Arab, dan bisa punya binaan sendiri. Apa sih rahasianya?”

Rekan saya ini menjawab dengan senyum;

“Saya dulu bicara bahasa Arab pun salah. Percayalah, Saya bukan hebat, hanya duluan tahu saja. Kalau mau belajar nanti juga bisa…,” katanya tulus, namun seolah ingin meninggalkan pesan tentang bagaimana cara merendahkan diri.

Dan, ia tak pakai ‘Ana’ atau ‘Antum’, entah karena di hadapanku, atau karena ia mengerti, di tempat umum memang agak aneh mendengungkan sebutan yang demikian.

Itulah ia, rekan yang tak kulupa hingga kini. Ternyata ia bukan hebat, hanya karena duluan tahu saja; begitu katanya!.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here