At-Takatsur dan Lampu Merah Kematian

Di jalanan yang ramai dan agak padat, awalnya Rossi membawa motor dengan santai. Namun ada pengendara lain yang bermanuver menjengkelkan. Rossi pun terusik, lalu meladeni tingkah pemotor itu. Sehingga terjadilah kebut-kebutan di jalan.

Kayak orang bener, mereka berdua meliuk-liuk di antara kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Kadang Rossi ada di depan, kadang yang lain makin ketinggalan. Maklum, Rossi mengendarai motor Yamahmud, mesin haus bensin pabrikan Jepang.

Mendekati persimpangan, Rossi melihat lampu hijau menyala dari kejauhan. Makin kesetanan lah ia. Tarikan gas makin dalam memburu rambu yang membolehkan kendaraan melaju.

Tapi sebentar kemudian lampu kuning menyala dan lampu hijau mati. Dan sesaat lalu giliran lampu merah yang hidup.

Menyadari ia harus berhenti juga di simpangan itu, Rossi pun menurunkan kecepatannya. Membiarkan lawannya melaju mendahului. Percuma balapan, nanti di depan lampu merah motornya akan berada berdekatan dengan motor lawan.

Rossi tersadar juga, buat apa sih balapan? Bukankah tujuannya sampai di rumah, bukan untuk beradu cepat dengan orang lain? Malah dengan trek-trekan itu bisa-bisa ia kecelakaan di jalan, dan sampainya di rumah sakit, bukan ke tujuan semula.

Asyik merenung, tak terasa Rossi sudah sampai di persimpangan. Menanti lampu hijau di samping motor lawannya tadi.

*****

Sebuah ilustrasi lain.

Sejak dulu Rossi bersaing dengan sepupunya. Di bidang akademis saat masih sekolah dan kuliah, dalam hal pekerjaan setelah lulus, lalu berlanjut adu pamer rezeki pemberian ciptaan Allah.

Hingga suatu ketika kematian seorang teman yang ia pandang sukses, berdekatan waktunya dengan kematian kawan yang ia anggap kurang beruntung, menyadarkan Rossi.

Di garis kematian semua akan terhenti. Yang sukses maupun yang tidak akan berada berdampingan dalam kubur dengan keadaan tak punya apa-apa.

Sadarnya Rossi diperkuat lagi setelah ia membaca buku “Wahai Jiwaku Dengarkanlah” karangan Zico Alviandri yang berisi tulisan-tulisan taushiyah penuh makna bagi hidup. Buku yang sarat renungan, bahan kontempasi diri. Eeeh.. keceplosan ngiklan. Maaf. Maaf.

Setelah itu Rossi tak meladeni provokasi sepupunya. Ia biarkan anak pamannya itu memerkan karir, barang mewah, dan hal lain.

Rossi sadar, tujuannya adalah selamat sampai di surga. Aktivitas “At-Takatsur” yang dikecam oleh Allah bisa melalaikannya sehingga kehidupan akhiratnya celaka dan tak sampai ke tujuan.

*****

Lampu merah kematian akan menghentikan semua orang. Yang ngebut maupun santai akan berhenti berdekatan. Yang berlimpah harta maupun yang berkekurangan akan berada dalam alam yang sama. Menanti kehidupan berikutnya.

Tak perlu ngegas mengejar dunia. Karena tujuan kita adalah akhirat. Sengebut apa pun akan terhenti juga di depan lampu merah kematian.

Yang kita cari adalah keselamatan sampai di tujuan. Yaitu urga Allah seluas langit dan bumi, yang kekal abadi.

Sementara apa yang kita kumpulkan di dunia akan lenyap pada waktunya.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS Ar-Rahman; 26-27)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS At-Takatsur: 1-2)

Zico Alviandri

Ketika Doa Tak Terwujud

Sebuah ilustrasi. Spongebob sedih cukup dalam ketika ia gagal mendapat predikat employee of the month di restoran Krusty Krab tempatnya bekerja. Padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk beberapa kebutuhan yang ia harap bisa didapat melalui penghargaan itu.

Ia sudah berdoa siang malam dalam sujud panjangnya tiap sholat maupun waktu-waktu mustajab lain. Tapi tak disangka, harapannya tak terkabul kali ini. “Apakah Tuhan mengacuhkan aku?” tanyanya dalam hati.

Ya, ia mulai menggugat Tuhan. Mengapa tak dikabulkan bisik penuh harapnya itu. Dan apa yang salah? “Oke, oke, aku pasti punya dosa. Tapi apa telah tertutup bagiku untuk memanjatkan doa?” Spongebob bingung, sedih, dan kecewa.

Ketika pulang kerja, di parkiran ia menghidupkan motor transparannya pemberian paman Mermaid Man. Sembari menanti mesin panas, Spongebob berdoa untuk keselamatan seperti yang biasa ia lakukan bila hendak bepergian. Dan seketika hatinya terenyuh.

Ia mendadak sadar bahwa setiap hari Allah mengabulkan doanya. Buktinya, ia selalu selamat pergi dan pulang dari kerja. Bahkan ketika harus lembur sampai dini hari, ia tetap pulang dengan selamat meski melewati jalan yang rawan begal.

Spongebob jadi sadar, bahwa pengabulan Allah terhadap doanya lebih banyak daripada yang (ia sangka) tertolak. Ia pun merenung, bahwa doa yang rutin diucapkan agar mendapat keluarga yang samara dengan anak-anak yang menjadi qurrota a’yun sebenarnya telah terwujud. Doa untuk mendapat kesehatan juga sering terkabul meski ada kalanya sakit ringan melanda. Juga doa mendapat kelapangan rezeki karena nyatanya ia sedang dalam kecukupan.

Ia juga tiap hari berdoa memohon ampun kepada Allah, memohon ditunjukkan jalan yang lurus. Dan sampai kini ia istiqomah dengan Islam sebagai minhajul hayah.

Spongebob menyusuri jalan pulang dengan hati yang masih sedih tapi dikuat-kuatkan. Teringat ia akan surat An-Najm ayat 24. “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” Konteks ayat itu sebenarnya menyangkal prasangka orang musyrik bahwa mereka akan mendapat syafaat dari sembahan selain Allah swt. Tetapi redaksi ayat tersebut secara harfiah juga sekaligus membantah bahwa manusia pasti akan selalu mendapat yang ia inginkan. Belum tentu.

Spongebob mengangguk perlahan. Ia tersadar, bahwa doa hanyalah sebuah proposal kepada Tuhan. Namun bukanlah komando layaknya atasan kepada bawahan.

Masalahnya, manusia (eh.. Spongebob mah spons ya…?) si pembuat proposal itu pengetahuannya terbatas, tak mengetahui yang ghaib, serta berlumur nafsu sehingga apa yang diajukannya itu belum tentu yang terbaik bila menyangkut urusan dunia. Allah yang lebih tahu yang terbaik untuknya.

Bukan doa tak terjawab. Tapi angan-angan yang tak terwujud.

Spongebob teringat cerita bagaimana Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Zakaria a.s. mengarungi hari bertahun-tahun bersama doa mendapat keturunan. Dan Allah tahu saat yang tepat untuk mengabulkan doa itu. Sehingga Ismail a.s., Ishaq a.s., dan Yahya a.s. adalah sosok luar biasa yang hadir di bumi berdasar skenario Allah swt.

Allah telah mempersilakan hamba-Nya berdoa. Namun “falyastijibuu lii”, “penuhi perintah-Ku” kata Allah dalam QS Al-Baqarah:186, termasuk perintah berbaiksangka dan ridho atas ketetapan Allah. “Wal yu’minuu bii”, dan berimanlah dengan sifat Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Ia tak kan menzholimi hamba-Nya.

Berdoalah, haturkan permohonan. Bila sudah, Allah bebas untuk memodifikasi skenario yang kita inginkan. Konten doa urusan Allah, sedang urusan kita untuk ridho pada apa yang akan terjadi.

Spongebob mengangguk. Sampai di rumah, hatinya agak lapang. Sedihnya berkurang.

Tapi setengah jam lagi bakal kepikiran lagi dan bakal sedih lagi. Yhaa…

Zico Alviandri

MASA BERSAMA ANAK

By. satria hadi lubis

Secara implisit tadi saya menyampaikan kepada bapak ibu peserta parenting di Depok bahwa waktu kita bersama dengan anak lebih singkat dari apa yang kita duga.

MASA bersama anak terbagi menjadi 4 fase :

1. Masa Intim

Masa Intim adalah ketika anak berusia 0-8 tahun. Masa dimana anak menempel terus kepada ortu. Masa manja-manjanya seorang anak, sehingga ia tidak sungkan dipeluk dan memeluk ortunya. Inginnya kemana-mana bersama orang tuanya dan sangat mudah untuk diajak ikut oleh orang tuanya.

Di masa ini, kadang orang tua merasa kewalahan, bahkan jengkel, karena anak menempel terus dan tidak bosan-bosannya menempel kepada orang tuanya.

2. Masa Kritis

Masa Kritis adalah ketika anak berusia 9-13 tahun. Masa dimana anak sudah masuk sekolah dasar dan mulai sibuk dengan lingkungan sekolah dan teman-teman seusianya.

Disini anak mulai belajar dari banyak sumber, termasuk dari guru dan teman-temannya. Ia juga mulai membandingkan perlakuan orang tuanya dengan perlakuan orang tua dari temannya.

Dari sumber belajar yang beragam tadi, seorang anak di masa ini mulai bersikap kritis terhadap pendapat orang tuanya. Lalu bertanya dan membantah, sehingga muncul perbedaan pendapat dengan ortunya.

Di masa ini juga mulai muncul perasaan tidak puas, kecewa atau sakit hati terhadap perlakuan orang tuanya yang tidak sejalan dengan keinginannya. Lalu memorinya menyimpan hal tersebut, sehingga ia mulai menjaga jarak kepada orang tuanya.

Mereka masih mau dipeluk atau ikut bersama orang tuanya, tapi mulai bertanya secara kritis mau kemana atau untuk apa ikut orang tuanya.

3. Masa Sibuk

Masa sibuk adalah ketika anak berusia 14-23 tahun. Ini masa dimana anak sudah sibuk dengan kegiatan sekolah di SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Pergaulan mereka juga biasanya makin luas, sehingga waktu bersama orang tuanya makin terbatas. Apalagi jika anak di sekolahkan di pesantren atau kuliah di lain kota.

Bagaimana bahasa tubuh mereka ketika dipeluk? Sudah mulai susah dan malu untuk dipeluk. Apalagi jika dipeluknya di tempat umum. Anak lelaki apalagi makin susah untuk diajak berpelukan oleh ayah ibunya.

Untuk diajak pergi-pergi sama orang tuanya juga makin sulit karena mereka sudah punya agenda lain. Sok sibuk lah…hehe😛

Keadaan menjadi berbalik. Dulu anak yang inginnya nempel terus kepada orang tuanya. Di fase sibuk ini, ortu yang inginnya nempel dengan anaknya. Bagi seorang ayah, ia ingin menggunakan waktunya yang sedikit (quality time) di tengah karirnya yang sedang menanjak untuk “bermesraan” dengan anaknya, tapi ternyata anaknya udah ogah. Patah hati deh orang tuanya….hadeuhh…😢

4. Masa Mandiri

Masa Mandiri adalah masa dimana anak berusia 23 tahun ke atas atau masa dimana anak sudah bekerja atau menikah. Inilah masa dimana anak sudah seharusnya mandiri dan kita sebagai ortu harus siap mental menghadapinya.

Anak mulai semakin jarang ketemu orang tuanya, karena makin sibuk dengan dunianya sendiri.

Bersama dengan tubuh yang makin tua dan ringkih, orang tua kembali menjadi “pengantin baru” lagi. Rumah menjadi sepi. Tidak ada lagi tawa dan tangis anak. Yang ada hanya tinggal kenangan manis di masa dulu bersama anak yang masih imut.

Kerja orang tua adalah menghitung hari, sambil melihat mainan anaknya di sudut rumah, kapan ya hari raya akan datang atau kapan ya anak sempat mampir ke rumah di tengah kesibukannya.

Masa bersama anak itu berlalu begitu cepat. Singkat. Rasanya baru kemaren anak kita gendong dan kita peluk. Tapi sekarang sudah sulit ditemui atau menemui kita.

Ada yang bilang ke saya, masa yang paling indah bagi orang tua adalah masa intim ketika anak masih imut-imut. Sampai-sampai pelawak Dono almarhum pernah berucap, “Momen yang paling membahagiakan saya adalah ketika saya main kuda-kudaan dengan anak saya dulu”.

Makanya jangan sia-siakan masa intim tersebut. Ia adalah golden moment, sekaligus golden age. Punyalah waktu untuk anak ketika mereka kecil, sebelum mereka tidak mempunyai waktu untuk kita.

Namun begitulah hidup. Ia mengajarkan kita untuk tegar kepada perjalanan hidup anak-anak kita. Ia mengajarkan kita untuk terus bertanggung jawab dalam setiap masa pertumbuhan anak dengan proporsinya masing-masing.

Nanti…anak kita juga akan mengalami apa yang kita rasakan. Terus begitu bergulir sampai akhir jaman.

Yang abadi adalah doa. Doa yang dipanjatkan orang tua kepada anaknya. Dan doa yang dipanjatkan anak yang sholih kepada orang tuanya. Doa itulah yang menyambung kembali kebersamaan anak dengan orang tuanya. Nanti di akhirat kelak.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya” (QS. Ar-Ra‘du ayat 23).

SBL

Ustadz Surianda Lubis: Guru yang Jadi Teladan dalam Dakwah dan Cinta

Sepulang musyawarah pembentukan Presidium Ormas dan Komunitas Islam Kota Binjai tadi malam, saya mendapat kabar bahwa Ustadz Surianda dilarikan ke RS Bina Kasih Sunggal diduga karena hipertensi. Bakda subuh, berita berikutnya datang: beliau belum sadarkan diri, mengalami pendarahan di otak dan harus segera di otak. Dan tak lama tiba di kantor belasan grup Whatsapp yang saya ikuti tak henti mengirim notifikasi. Isinya: sang guru yang dicinta telah berpulang menghadapNya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Hampir saya kebingungan bagaimana menahan isak di hati. Baru lagi kami berjumpa beberapa hari lalu dalam kondisi beliau yang bugar. Beliau lantunkan doa tentang tsabat, keteguhan di jalanNya.

Sulit rasanya melupakan kenangan manis bersama beliau. Beliaulah ulama dan guru yang senyumnya membahagiakan setiap orang. Setiap yang disapanya merasa amat diperhatikan. Seolah sudah karib dekat sementara yang lain tidak. Padahal semua saudara yang berjumpa diperlakukannya serupa: dijabat erat tangannya sambil ditatap wajahnya. Masya Allah. Saya seperti membaca kisah Hasan Al Banna dalam kitab Ath-Thariq Ilal Qulub karya Abbas As-Sisi yang terjemahan Indonesianya berjudul “Bagaimana Menyentuh Hati.”

Saya mendengar ceramah beliau sejak SMA. Isinya mungkin sederhana. Tapi beliau selalu hadirkan sudut pandang yang berbeda. Unik. Menyejukkan. Sirah diangkat dengan perspektif yang menggugah nurani. Diksi-diksinya yang terpilih begitu menghentak hati. Apalagi kalau beliau sudah lantunkan doa, rasanya tak ada yang bisa menahan air mata untuk berlinangan.

Semua yang pernah mengenal beliau pasti sepakat bahwa beliau adalah teladan dalam banyak hal. Ia suguhkan kepada kita bukan hanya lautan ilmu, tapi juga contoh perilaku. Kesantunan bertutur kata, keramahan sikap, kesederhanaan dan kebersahajaan gaya hidup.
Walau pernah jadi Wakil Ketua DPRD Medan, beliau tetap menjalani hidup -bisa dibilang- dengan zuhud.

Alumni UIN Sumatera Utara angkatan 96 ini jiga dikenal sebagai pembina berbagai komunitas dakwah anak muda Medan yang berpusat di Masjid Al Jihad. Ahad 13 Januari kemarin beliau baru saja mengisi talk-show “Dakwah Sosial Media Zaman Milenial” bersama content creator dan selebgram @fuadbakh di Masjid Al Jihad Medan.

Beliau pun pernah menjadi Pembina di komunitas menulis kami Forum Lingkar Pena Sumatera Utara. Sebab memang beliau termasuk yang tekun menulis. Beberapa tulisannya pernah menghiasi koran lokal. Ketika saya masih kuliah di Unimed, beliau menjadi kolumnis di Majalah Asy-Syifa terbitan LDK BTM3. Beliau juga membantu crowdfunding film Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali besutan Mbak Helvy Tiana Rosa. Inilah di antara proyek kebaikan yang beliau turut menyokongnya.

Pernah suatu kali saya memoderatori beliau ketika mengisi sebuah acara daurah (pelatihan) pranikah. Waktu itu saya hadiahkan buku saya “Married Because of Allah” untuk beliau. Sejak itu, asal ketemu beliau selalu memanggil saya “Abang Penulis”.

Allahu Akbar. Sungguh tak terlupakan. Beliau juga sempat mengisi Isra’ dan Mi’raj bertema “Shalat dan Integritas” di kantor kami. Saat itu kami sekaligus meresmikan program pembinaan mental pegawai yang hingga kini kami lestarikan dengan kegiatan micro learning pekanan.

Gurunda, kami menjadi saksi atas semua ketulusan dan pengorbananmu di jalan kebaikan. Hari ini peristiwa kembalinya engkau ke pangkuan Rabbul Alamin jadi pelajaran bagi kami. Orang-orang melihat flyer kajian di komunitas “Generasi Perindu Surga” yang akan kau isi Ahad pekan depan. Temanya “Taubat dan Ajalku Tak Menunggu Siapku”. Subhanallah.

Sebelumnya di momen pergantian tahun, kau turut berbagi inspirasi dalam event Muslim Brothers yang dihelat Aliansi Satu Cinta. Cuplikan tausiyahmu lagi-lagi menohok kami. Aku menyimaknya di akun instagrammu. Judulnya saja sudah menampar-nampar jiwa kami: “Melalaikan Waktu Lebih Buruk dari Kematian”. Kau lalu mengutip atsar seorang ulama, “Orang yang melalaikan waktu pada dasarnya menjauhkan dari Allah dan negeri akhirat, memisahkan jiwa dari pemiliknya dan akhirat. Sementara kematian itu cuma memisahkanmu dari dunia dan keluargamu.”

Allahu Akbar.

Gurunda, kau telah menepati janjimu dengan Rabbmu. Kau telah tuntaskan perjuangan di dunia dengan pelbagai amal kebajikan. Tinggallah kami yang terseok-seok amalnya ini menanti giliran.

Doa kami agar engkau husnul khatimah. Doa kami pula supaya ananda Atqiyah dan Subhan Najiyullah menjadi pelanjut jihadmu dan pewaris kesetiaanmu dalam berjamaah.

Keluasan ilmumu dalam kajian Quran, muhasabah, parenting, pranikah hingga dakwah insya Allah menjadi amal jariyah yang tak akan putus sampai kapan pun.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

Medan, 16 Januari 2019
Anugrah Roby Syahputra

Source: facebook.com/story

,

Semangat Ibadah dan Masa Promo

SPG itu tersenyum manis. “Mau berlanganan AndalehTV pak? Lagi masa promo. Sebulan seratus ribu rupiah saja. Bisa nonton channel-channel dari luar negeri bahkan planet lain,” katanya.

Seseorang yang lewat di depan stand AndalehTV itu tertarik. “Kapan lagi bisa nonton banyak channel dengan modal cuma Rp 100.000,” pikirnya. Terjadi deal. Dan esoknya televisi orang tersebut telah terpenuhi puluhan saluran pilihan.

Lantas berselancar lah ia dari tayangan satu ke tayangan lain. Yang paling membuatnya terkesan adalah channel olahraga. Pertandingan-pertandingan langsung sepakbola dari liga sepakbola ternama di dunia bisa ia nikmati. Tak perlu ke luar negeri dan memesan tiket.

Namun, yang namanya masa promo, tentu ada jangka waktunya. Setelah tiga bulan, hanya channel lokal yang bisa ia akses. “Buat apa bayar kalo cuma nonton siaran stasiun lokal?” pikirnya.

Lalu ia menghubungi customer service AndalehTV. Jawaban petugas, kalau masih mau nonton saluran olahraga serta channel pilihan lain, harus membayar sampai Rp 300.000. Orang itu terlanjur ketagihan dengan siaran langsung sepakbola. Akhirnya ia bersedia membayar lebih. Asalkan masih bisa menikmati tayangan favoritnya.

Masa promo itu berhasil menggaet seorang pelanggan yang rela berkorban lebih setelah tahu bahwa ada manfaat yang bisa ia dapat.

*****

Sadarkah kita, dalam menyembah-Nya ada fenomena yang mirip dengan ilustrasi di atas?

“Al imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Itu lah prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada masa-masa rajin karena Allah memberi rasa semangat ke dalam jiwa. Beribadah begitu ringan. Kalbu terasa lapang dengan isak tangis di malam hari. Terasa melegakan lapar dahaga di siang hari. Manisnya iman dikecap. Cinta kepada Allah memenuhi dada.

Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya. Rasulullah saw mengajarkan umatnya doa berikut:  “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” (HR.Muslim)

Lalu, sebagaimana fitrah manusia, datanglah rasa bosan. Ibadah yang tadinya ringan, mulai terasa berat. Kiranya Allah tengah menguji orang yang telah merasakan nikmatnya beribadah itu dengan mood yang berkurang tak seperti kemarin.

Masih mau merasakan syahdunya sholat malam? Bisa, tapi tidak mudah. Indahnya kondisi jiwa ketika “masa promo” di saat hati sedang giat, mensyaratkan orang yang tengah futur itu harus melawan kantuk dan rasa malas demi kembali dapat rasakan sejuknya hati di kala sujud.

Mau kembali rasakan kelegaan di kala berlapar dahaga? Bisa, tapi tidak mudah. Saat hati tak seantusias kemarin, perlu perjuangan ekstra agar tetap menjalankan rutinitas shaum sunnah.

Tapi pilihan di tangan Anda. Bisa saja rasa malas itu dituruti. Kalau begitu, Anda membiarkan rasa manisnya beribadah yang telah Allah berikan tak terulang lagi. Memang ada gantinya. Kenikmatan duniawi berupa tidur yang nyenyak, rasa kenyang di hari yang terik, dsb.

Untuk jiwa yang sedang terliputi rasa bosan dan malas, coba kenang lagi lezatnya ibadah saat masa semangat. Yakin mau berhenti berlangganan indahnya taat kepada Allah?

Zico Alviandri

Perempuan

Perempuan

Saat Kecil
dia membuka pintu Syurga untuk ayahnya..

Saat dewasa
dia menyempurnakan agama untuk suaminya

Saat menjadi ibu,
Dia menjadi penggerak semua doa

oleh karena itu,
dia dimuliakan Allah dengan menempatkan syurga di telapak kakinya

ketika seorang perempuan sudah menjadi IBU,
maka ALLAH akan menganugerahkan kepadanya satu senjata yang sangat ampuh di muka bumi ..

“Tahukah anda apa itu?”

Itu adalah Lisannya.

Lisannya akan menjadi Berat timbangannya.

Lisannya akan menjadi pembuka pintu-pintu langit.

Ucapannya akan diijabah.
Do’anya akan diangkat tanpa penghalang.

doa ibu akan mampu menjadi penghancur kesulitan bagi anak keturunannya..

Dan mengeluhnya seorang ibu akan menjadi pemberat langkah setiap anggota keluarganya, termasuk bagi suaminya..

Maka pantang bagi seorang ibu untuk mengeluh,
kerana keluhannya pun akan menjadi kenyataan,
sebagaimana harapan dan doanya pun akan menjadi kenyataan.

ucapan buruknya akan menjadi musibah bagi dirinya dan keluarganya

Lisan seorang ibu layaknya seperti Karomah para wali.

Maka berhati-hatilah
wahai para ibu
ketika anda menggunakan
senjata terampuh ini.

gunakan untuk bermunajat meminta kepada ALLAH agar suamimu dimudahkan dalam mencari nafkah.

Jangan mengeluhkan tentang dirinya.

Itu akan semakin memberatkan dan menyukarkan kehidupan anakmu

Gunakan untuk bermunajat meminta kemudahan dan Kesolehan  atas   anak-anakmu
jangan mengeluhkannya.

Karena itu akan menjadi benar adanya.

Subhanallah
untuk para IBU

Tolong Bawa Aku ke Syurga

Sebuah kisah nyata..

Mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tangan saya, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu.

Dalam airmata berlinang dan ucapan yang terbata-bata dia berkata,” jika kamu tidak melihat aku di syurga, tolong tanya pada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu…”

Dia langsung terisak menangis, lalu saya memeluknya dan meletakkan muka saya di bahunya. Sayapun berbisik,” Insyaa Allah, insyaa Allah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak terlihat aku di syurga.”

Kami pun menangis bersama, entah berapa lama.

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau.

Sebenarnya pesan itu pernah di sampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata kepada sahabatnya sambil menangis :

” Jika kamu tidak menemui aku di syurga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku ; Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga.”

Ibnu Jauzi berpesan hal ini, bersandar kepada sebuah hadits :

“Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah ; Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia bersholat bersama kami, berpuasa bersama kami dan berjuang bersama kami…”

Maka Allah berfirman, ” Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah”.
(Ibnu Mubarak dlm kitab Az Zuhd)

Maka wahai sahabat-sahabatku,

Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yang boleh membantu kita bukan ikatan di dunia, tetapi hingga akhirat.

Carilah sahabat2 yang senantiasa berbuat amal sholeh, yang sholat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Teman yg dicari kerana urusan niaga, pekerjaan, teman nonton bola, teman memancing, teman berbelanja, teman fb untuk bercerita hal politik, teman whatsapp untuk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis mati dan masing-masing hanya akan membawa diri sendiri.

Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke syurga….

Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau yang ada mungkin lebih buruk dari kita.

Ayo berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia, carilah teman yang membawa kita bersama ke syurga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk syurganya Allah..

Perbanyaklah usaha, semoga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu syurga….

Al-Hasan Al-Bashri berkata :

” Perbanyakkanlah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat”.

Pejamkan mata, berfikirlah,.. siapa agaknya diantara sahabat-sahabat kita yang akan mencari dan mengajak kita bersama-sama ke syurga..

Jika tidak, mulailah hari ini mencari teman ke syurga sebagai suatu misi peribadi.

Agaknya kepada siapa antum boleh menyampaikan pesan ini?

——————-
Sahabat, tolong tanyakan pada Allah jika aku tiada bersamamu di syurga-Nya…

Antara Orang Cerdas Dan Orang Telat Cerdas

Bermimpi sukses itu kerjaan setiap orang, dan kagum kepada orang sukses itu adalah perilaku setiap orang. Namun sadarkah anda bahwa hanya berbekalkan rasa kagum dan mimpi menjadi sukses tidak cukup untuk menjadi orang sukses?

Orang yang puas dengan rasa kagum kepada orang sukses, apalagi beranggapan bahwa rasa kagumnya yang hanya dibubuhi dengan doa sudah cukup untuk menjadikannya turut sukses, sejatinya adalah orang yang telat cerdas.

Orang cerdas selalu sadar bahwa setiap kesuksesan biasanya mengandung empat unsur utama:

1. mimpi menjadi orang sukses yang belanjut menjadi tekad kuat.

2. Usaha keras yang diiringi dengan pengorbanan.

3. Doa yang dilandasi oleh keyakinan dan iman.

4. Taufiq dan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Dengan keempat hal inilah orang sukses menggapai suksesnya.

Karena itu, akan lebih bijak bila setiap kali Anda melihat orang sukses Anda mempelajari langkahnya, melihat pengorbanannya bukan hanya menggeleng-gelengkan kepala anda dengan keras karena tak kuasa menahan rasa kagum .

Karena itu bila anda ingin sukses seperti mereka, maka jangan puas dengan kekaguman dan terus hanyut dalam geleng geleng kepala kekaguman. Namun segera bulatkan tekad, langkahkan kaki, lakukan pengorbanan dan teguhkan iman anda. Insya Allah anda segera menyusul menjadi orang sukses.

Contoh nyata, bila anda melihat orang mengendari mobil mewah, maka jangan hanya kagum dengan kemewahan mobilnya, karena hanya kagum anda tidak akan pernah bisa memilikinya. Namun pikirkanlah, berapa harganya dan bagaimana ia dapat memiliki uang sebanyak itu sehingga bisa membelinya.

Anda melihat lelaki memiliki istri cantik, jangan hanya kagum kepada kecantikan istri lelaki itu, namun pikirkan dengan apa wanita secantik itu terpikat kepada lelaki itu dan bagaimana lelaki itu berhasil memiliki hal tersebut, dan dengan apa lelaki itu mengikat wanita itu sehingga setia kepadanya?

Selamat mencoba, semoga sukses.

Dr. M. Arifin Badri

Perpecahan di Depan Mata, Hanya Kita Yang Mampu Menghentikannya

Oleh : Aa Dym

Kita yang mengaku dirinya manusia
Bukan jin, bukan syaitan bukan malaikat
Kita yang mengaku hamba Allah SWT
Kita yang mengaku kaum beriman
Kita yang mengaku dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusanNya

Kita yang mengaku berketuhanan Yang Maha Esa
Kita yang mengaku berkemanusiaan yang adil dan beradab
Kita yang berpersatuan Indonesia
Kita yang mengaku berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Kita yang mengaku berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kita yang telah bersumpah dihadapan Allah SWT dan rakyat Indonesia
Kita yang telah bersumpah bahwa kami adalah putra dan putri Indonesia
Kita yang telah mengakui keberagaman selain keberagamaan
Kita yang telah mengakui kebhinekaan selain keaneka ragaman suku bangsa, bahasa, kebudayaan dan juga agama
Kita yang telah mengakui bahwa hukum adalah harus di atas segala-galanya

Kita yang telah mengaku bahwa NKRI harga mati
Kita yang telah mengaku bahwa Agama adalah sesuatu yang utama alias harga mati juga
Kita yang mengaku bahwa ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah insaniyah atau basyariyah

Pantaskah kita menodai atau merusak itu semuanya?

Kira-kira butuh sejarah apalagi untuk memperkokoh pilar-pilar itu?

Pantaskah kita saling membenci satu dengan yang lainnya?

Hanya karena perbedaan pilihan politik, ormas atau komunitas

Pantaskah kita saling membully, berpecah belah dan saling perang kata-kata atau ucapan, panggilan dan hinaan?

Padahal kita sudah melewati momentum sejarah #AksiBelaIslam 1, 2 dan 3 ada tagar saat 411 maupun 212.

Lalu angka berapa lagi yang akan kita gunakan untuk menyatukan generasi penerus kita ke depan? Hanya satu angka yaitu AHAD atau WAHID atau TAUHID

Hanya satu kalimat untuk menyatukan kita yakni kalimat tauhid setelah itu kita akan berada pada bingkai besar apakah kita kaum beriman, kaum yang ingkar atau kaum yang memutuskan atau merusak segala perjanjian kita baik perjanjian dengan Allah dan Rosul-Nya, atau perjanjian, ikrar atau sumpah diantara kita yang salah satunya adalah SUMPAH PEMUDA.

Bekasi, 27 Oktober 2018

Kesombongan yang Menghancurkan

Kalau ala-ala film televisi kekinian mungkin judulnya akan sepanjang ini: Azab Penjual Obat Kuat Yang Sempat Kaya Tapi Sombong, Yang Terjatuh Dan Tak Bisa Bangkit Lagi Sampai Tak Kuat Lagi Menghadapi Kenyataan

Malin adalah pemuda desa yang bercita-cita menjadi saudagar kaya. Sejak kecil, dia hidup ditengah himpitan ekonomi. Orangtuanya tak mampu mewujudkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari dia bertemu seorang kakek yang bijak dan menceritakan mimpi-mimpinya pada sang kakek tersebut.

“Anak muda, kamu tahu negeri ini belum kuat?” Tanya kakek bijak.

“Negeri ini masih lemah, buktinya banyak penjual obat kuat yang bisa kamu temui di pinggir jalan?”

“Saya punya sedikit ilmu yang bisa kamu ambil untuk mewujudkan mimpi-mimpimu anak muda”

Singkat cerita si kakek bijak dan Malin berpisah. Malin merasa semakin percaya diri karena sudah punya bekal dan ilmu.

Malin pun pulang ke desanya dan langsung mengaplikasikan ilmu dari si kakek tadi. Malin yang biasa bangun siang dan malas-malasan, kali ini harus bangun lebih pagi untuk membuka tokonya.

Tokonya bukan ruko di gedung-gedung perkotaan, hanya teras rumahnya yang dilengkapi etalase. Hari pertama, penjualannya cukup lumayan. Dilanjutkan hari kedua dan seterusnya, omzet semakin meningkat.

Malin merasa puas akan hasilnya. Dengan kerja keras dan ilmu yang didapat, tak menyangka dia sudah jadi saudagar kaya.

Datanglah seorang teman, mengajaknya pergi ke masjid untuk beribadah dan mengikuti sebuah kajian. Karena kesibukan dan hal lain, Malin tak bisa mengikuti kesempatan itu.

Hari ke hari, kesibukan Malin semakin meningkat seiring omzet dari penjualan obat kuat yang terus melesat. Sampai-sampai tak punya waktu untuk beribadah. Berbeda dengan Malin yang dulu, sekalipun pemalas, dirinya masih sempat untuk beribadah.

Di tengah kesuksesannya sekarang, dia berkata pada dirinya “Apa yang sudah aku dapatkan saat ini, adalah hasil dari kerja keras dan kepandaianku (ilmu yang didapat)”.

Barang branded yang dulu hanya bisa dilihatnya di online shop, kini bisa diborongnya. Dompet yang dulu setipis ATM, kini sudah setebal make up para biduan, lengkap dengan kartu kredit, debit, dan lainnya.

Hampir 9 bulan hidup penuh dengan kemewahan dia rasakan. Dan di bulan 10 menjadi bulan ujian baginya. Supplier yang biasa memasok produknya harus berurusan dengan pihak berwajib karena produknya belum memenuhi standar dan izin. Alhasil produk kosong, penjualan pun kopong. Dan Malin kembali ke zaman susahnya kembali.

Barangkali kita pernah berada di posisi Malin tadi. Merasa kesuksesan yang didapat adalah hasil kerja keras dan kepandaian kita. Padahal setiap kesuksesan yang didapat adalah semata karena ada pertolongan dariNYA.

Sebagaimana orangtua yang tanpa pamrih menolong anaknya disetiap situasi. Atau ketika kita sedang mendapat kesusahan, kita pasti akan meminta tolong kepada teman kita. Tanpa kasih sayang dan kedekatan dengan mereka, rasanya mereka enggan menolong.

Karena kita selaku manusia itu sangat lemah, maka ketika kita ingin mendapatkan pertolongan dariNYA, dekatkan diri kita padaNYA.

Ali RA, pernah berkata:
“Kasihan sekali manusia itu. Ia tak mengetahui kapan ajal tiba. Tubuhnya adalah penyakit. Segala perbuatannya selalu dicatat. Kutu kecil pun bisa menyakitinya. Ia bisa mati hanya dengan tersedak. Dan baunya busuk hanya karena keringat”.

Sesungguhnya kita itu lemah. Dan Allah mengecam pada orang-orang yang memiliki rasa sombong.

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah” (QS. An-Nisa: 28).

Ketidaksadaran yang sering kita rasakan adalah sadar kita ini lemah tapi seringkali salah bersandar pada yang tak seharusnya.

Lahaula wala quwwata illa billah

fazarfirmansyah.com