Cu, Kuberitahukan Padamu…

dzikir

-Bang Joy-

Cucuku
Mata nenek semakin rabun
N a m u n . . .
Rasa cinta nenek pada Allah
Makin menjadi dan tak pernah kabur
Terhalang jarak pandang

Cucuku
Tiada bosan nenek membaca surat cinta-Nya
Sungguh…
Sampai mati akan nenek lakukan

Cucuku
Sebelum bertemu Allah
Membaca al qur’an
Adalah obat rindu yang paling ampuh

Cucuku
Bacalah al qur’an
Di kala sedih dan senang
Jika kau terpuruk
Ada Allah tempat mengadu
Jika kau bahagia
Jangan lupa Allah
Sebab apapun yang terjadi
Semua atas kehendak-Nya

Cucuku
Tak banyak harta yang bisa nenek wariskan
Satu pesan nenek

“Hidup dalam genggaman hidayah. Nilainya sungguh teramat mahal, tak tergantikan.
Peluk dan genggam erat. Jangan lepaskan lagi”

Cucuku
Jangan terperdaya oleh berita hari ini
Melihatlah dengan hatimu
Tak perlu nenek meraih simpati netizen
Atau istana sekalipun
Cukup Allah saja
Bersama penduduk langit
Yang membersamai hari-hari nenek
Jika kau ingin terus bersama nenek
Ikuti cara nenek
Banyak-banyak baca qur’an

Cucuku
Cukup dulu sampai di sini
Nenek ingin lanjutkan #tilawahquran

Oiya cu
Sudah berapa juz yang kamu baca?

nenek baca quran

—-

Sahabatmu,

Bang Joy

 

Capek Bang!

bekerja

-Bang Joy-
Foto: Abu Umar

Terik memang menyengat. Tapi di pasar masih banyak yang tak patah semangat. Meski perut kosong, mental tetap kuat. Agar kita bisa bedakan, mana lebah atau lalat.

Tadi kami sempat berbincang sedikit.

Bang Joy (BJ): Capek bang?

Pendorong Gerobak (PG): Cape..diringi hembusan nafas

BJ: Tadi #sahur?

PG: Memberikan anggukkan, sambil mengatur nafas

PG: Kalo puasa jam segini, udah berasa capenya

BJ&PG: Berpisah karena kesibukkan masing-masing. Saya sibuk dengan kuda besi. Si abang bergegas dengan gerobaknya.

#Tabik. Untukmu bang. Keringatmu penghapus dosa istri dan anak-anakmu.

#Salut. Ototmu kuat seperti mentalmu yang kokoh.

Sahabatmu,

Bang Joy

pekerja

Mendikte Tuhan

pksart hikmah ktt

– Bang Joy-

Dunia yang semakin materialistis. Serta kepungan kapitalis. Membuat kehidupan kian terkikis. Sulit segala keinginan di tangkis. Bujukkan iklan menggoda disajikan dan sangat sistematis.

Rayuan iklan membuat tumpukan keinginan kian menggunung. Bahkan terbawa dalam renung. Hingga ibadah-ibadah yang dilakukan serba tanggung. Terbayang THR, tetangga sudah punya mobil baru lagi, hingga tanah kelahiran, kampung.

Mulai mendikte Tuhan dalam pinta. Fokus pada keinginan dalam doa. Berdoa seperti bisnis, selalu berpikir dapat apa?

Bila tak terkabul, dengan mudah berucap, “Tuhan tak sayang, Tuhan tak adil?”
Segunung fonis ia bawa, padahal tangannya masih menengadah.

Air matanya kering-kerontang dalam doa. Namun, saat melihat bintang pujaan di layar kaca, tersakiti. Air matanya tak terbendung. Tangis suka cita atau duka cita yang keluar. Bingung membedakannya.

Bila guru mendikte murid. Saat berlatih menulis, itu bagus!
Tapi mendikte Tuhan dalam doa? Oh malang nian hamba, ya Rabb.

Sampai kudapati sebuah jawaban. Saat dunia makin bergetah. Ada secercah harapan. Dari nasehat seorang sahabat.

“Pada Allah azza wa jalla harusnya fokus memberikan amal terbaik kita, bukan pada apa yang kita inginkan” ( Ellina Supendy )

Sahabatmu,

Bang Joy

#ntms

Soal Jadwal, Nduk

harisun ala waqtih

Eko Novianto

Nduk, piye Ramadhanmu? Piye jadwal Ramadhanmu?

Adik Ul akan dijadwal oleh pondoknya sampai tanggal 18. Adik Zaim juga.

Kalian beda. Tidak ada yang menjadwal kalian. Kalian sendiri yang harus menjadwal. Kalian harus menciptakan jadwal kalian sendiri.

Ini jadwal dan rencanaku, nduk. Jadwalmu piye?

Aku bangun antara jam 1 sampai jam 2-an. Lalu mandi. Karena ga taraweh di masjid, aku taraweh jam itu. Lalu aku menyiapkan sahur, makan sahur, dan lainnya. Sampai subuh datang.

Subuhan di masjid dan tidak pulang sampai jam 6-an. Lalu pulang ke kos sebentar untuk nyuci piring gelas bekas sahur. Memasukkan barang yang akan aku bawa ke kantor. Lalu berangkat ke kantor.

Jam 7 sudah di kantor. Ada tahsin di pagi itu. Lalu ngantor seperti biasa. Aku usahakan tidak tidur banyak di siang hari, nduk. Aku memilih tidur di awal waktu malam.

Khusus Ramadhan, aku sudah boleh pulang jam 15.30. Aku usahakan segera pulang. Aku pulang setelah meracik radix hangat di termos kecilku dan air jeruk di tempat minumku.

Sampai kos, aku mandi. Lalu ke masjid lagi menunggu magrib. Khusus Ramadhan ada jatah kurma, roti, dan air putih dari kantor. Rencanaku, aku berbuka dengan itu. Kalau masih lapar, masih ada roti tawar dan kurma di kamar. Aku usahakan tidak makan nasi untuk buka puasa, nduk.

Kemarin, aku ga kebagian nasi pas buka puasa. Warung-warung kehabisan nasi diserbu pembeli. Ternyata aku kuat juga makan nasi di jam 20-an. Mungkin akan aku jadikan jadwal aja sekalian.

Aku berusaha tidur diawal waktu. Setelah berwudhu dan berdoa agar bisa bangun dindini hari sesuai jadwal.

Ksmis sore, rencanaku, tetap badminton sampai magrib.

Insyaallah.

Nduk, itu jadwalku. Jadwal kalian piye?

Jangan terlalu mengandalkan esok. Esok itu sesuatu yang belum tentu ada.

Setelah cita-cita dan target, kalian butuh jadwal. Tanpa jadwal, kalian susah mengevaluasi diri.

Nduk, jadwal kalian piye?

Jakarta, 7 Juni 2016

Menjadi Hafiz itu Baru Awalan

Membaca Quran

-Bang Joy-

Beliau penasehat spiritual kami. Anak-anaknya sudah menjadi hafiz. Hari pertama ramadan dilaluinya dengan tilawah qur’an 10 juz. Beliau berkata, beliau melaksanakan. Moga Allah selalu berkahi beliau dan keluarganya…aamiin.

Dikepalanya tertancap azzam yang kuat. Untuk melahirkan anak-anak Indonesia menjadi penghafal qur’an sejak sekolah dasar.

Beliau sedang merintis mendirikan sekolah dasar. Anak-anak yang tamat SD sudah hafal qur’an. Setelah lulus SD diarahkan masuk SMP berbasis bahasa Inggris dan Arab. Setelah lulus SMP, diarahkan ke SMA yang sesuai minat bakat. Di perguruan tinggi, memilih dan mematangkan minat bakat yang sudah dirintis sejak SMA, bahkan sketsanya mulai di rekam sejak SMP.

Ya Allah..mudahkan segala urusannya. Mewujudkan sekolah para penghafal qur’an.

Dengan senang hati dan jazakumulloh. Bila sahabat ikut mengaamiinkan doa kami.

Semoga seluruh sahabatku, Allah berkahi sepanjang hayat..aamiin.

Pesan beliau yang masih kuat bersemayan dihatiku.
“Setelah kita hafal qur’an
itu baru awalan,
langkah berikutnya adalah
bagaimana al qur’an menjadi karakter di jiwa kita?”

(Diam #termenung. Yang sudah hafal saja di bilang masih awalan. Gmn gw yang masih belang-bentong…..#ntms….nonjok banget nih, #dalem #bradasista)

Ramadhanku Ramadhanmu Ramadhan kita

amal ikhlas

Alhamdulillah, hari ini (6 Juni 2016) kita memasuki hari pertama di bulan suci Ramadhan, dengan penuh syukur segala puji tak henti-hentinya kita panjatkan pada Allah SWT, yang telah mengizinkan kita untuk bertemu dengan ramadhanNya kembali

Sebulan ini masjid akan menjadi magnet bagi makhlukNya, berbondong-bondong manusia mendatangi rumah Allah itu

Menenteng alat salat dan mushab petunjuk jalan bagi kita menuju ke surgaNya

Meniggalkan semua aktifitas untuk kembali bermunajat pada Sang Pemilik segalanya

Menyandarkan kembali semua tumpuan hidup pada Sang Pemilik kehidupan

Inilah Ramadhanku, Ramadhanmu, Ramadhan kita

Bulan yang bisa menyatukan kita untuk beribadah bersama

Bulan yang bisa menyatukan kita untuk saling bersaudara

Ramadhan, semoga magnetmu ini semakin kuat menarik kami, menahan kami hingga kami bisa beribadah seperti ini terus sampai bertemu engkau di tahun berikutnya

Aise

Menyiapkan Imam untuk Masa Depan

dari masjid menuju kebangkitan peradaban 3

Khansa S@F

Aku baru tersadar saat ini,  ternyata dalam setiap kampung harus ada generasi penerus untuk menjadi imam masjid.  Dulu,  aku sangat membanggakan kampungku karena di kampungku lahir banyak alim ulama,  namun semakin berjalannya waktu,  generasi-generasi yang lahir seolah mulai meninggalkan ilmu agama mengejar kehidupan dunia.

Kebiasaan di daerahku tatkala sebelum ramadhan tiba,  satu, dua atau tiga hari sebelumnya orang-orang mengadakan “munggahan” munggahannya berbeda-beda,  ada yang jalan-jalan ke pantai, bermain ke tempat wisata, atau hal-hal yang sebenarnya mendekatkan diri kepada maksiat.  Namun itulah tradisi di daerahku. Aku dan keluargakupun tak luput dari munggahan,  namun munggahan yang aku dan keluargaku lakukan ialah mengunjungi/bersilaturahim ke rumah nenek sekaligus makan besar,  kata bapak kalau jalan-jalan ke pantai atau ke tempat rekreasi lainnya menghabiskan uang dan alhamdulillah aku dan keluargaku sendiri kurang begitu suka dengan jalan-jalan.  Kalaupun jalan-jalan yaa jalan-jalan yang berkualutas dan berkah.

Aku munggahan sehari sebelum datangnya bulan ramadhan, pulang dari silaturahim bada magrib, pada saat itu aku dan keluargaku belum mengetahui apakah tepat  malam itu teraweh pertama di laksanakan atau tidak,  aku dan keluargaku belum mengetahui karena menunggu keputusan dari pemerintah.  Di tengah perjalanan terlihat orang-orang muali bersiap-siap menuju masjid,  akhirnya aku dan keluargaku menyimpulkan bahwa puasa ramadhan jatuh pada esok hari. Malam itu  sebenarnya ada rasa gelisah menyeruak dalam dada karena takut tidak bisa melaksanakan shalat teraweh pertama di masjid karena masih di perjalanan.  Namun alhamdulillah sekalipun kepepet dan masbuk solat isya, aku bisa melaksanakan solat teraweh pertama di masjid.

Setelah solat isya di laksanakan,  salah satu pengurus masjid berkhutbah sebentar dan menyampaikan beberapa pengumuman. Salah satu pengumumannya menetapkan bapakku sebagai imam selama bulan ramadhan. Setelah pengumuman itu selesai,  salah satu adikku berkata kepadaku, dalam perkataanya ia kasihan melihat bapakknya tentunya bapakku juga.  Ia kasihan melihat bapak karena pada saat itu sebenanrnya bapak capek dan lelah namun bapak harus menjadi imam belum lagi teraweh di masjidku 23 rakaat.  Aku hanya tersenyum mendengar keluh adikku.  Dari situpun aku bangga pada bapakku,  karena sekalipun kondisi ia capek dan pastinya lelah karena seharian bersilaturahim namun manakala azan berkumandag ia tak lalaikan tanggungjawabnya sebagai imam.

Aku baru tersadar,  siapa lagi yang akan menggantikkan bapakku jika suatu hari bapakku Allah panggil,  sedangkan bapak tidak memiliki anak laki-laki dan aku sendiri sedih melihat pemuda yang ada di kampungku saat ini  sudah  tidak ada yang fokus belajar ilmu agama.

Akupun mulai belajar untuk  tidak  egois memikirkan kebahagiaanku saja,  sekalipun aku tidak bisa menggantikan posisi bapakku namun aku akan berusaha mencari sosok laki-laki yang gemar dan giat mengkaji ilmu agama. Sekalipun nanti ia tidak mejadi imam di masjid namun ia mampu menjadi imam di keluarga kecilku dan  Ia mampu menjadi imam bapakku manakala bapakku mulai renta.

Saat ini  pengetahuanku akan memilih calon pendamping hanya sebatas tau saja tanpa tau makna. Aku hanya tau  jika harta,  keturunan dan  kecantikan tidak lebih berharga daripada agama.  Namun setelah malam itu, aku mulai sangat sadar bahwa betapa pentingnya memiliki pendamping yang luas dan cinta akan ilmu agama, karena selain ia mengayomiku juga mengayomi keluargaku.

Dan mulai saat malam itu juga,  aku mulai berkeinginan untuk merancang semuanya,  yah semuanya,  agar tatkala Allah hadirkan ia,  dengan senang hati akan aku paparkan rancangan yang aku berharap dengan rancangan itu antara aku dan ia mendapat syurga.

Banten, 1 Ramadhan. 07:47 WIB

Doa-doa yang Tersembunyi

|| Kontributor: Istiqomah Febriani ||

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Allah, Dialah Dzat yang Tiada tandingannya. Segala bermuara dan bermula dari pada-Nya. Sebait syukur, sebakul kerinduan akan keabadian yang berwarna hijau dengan penuh rendah diri dimohonkan kepada-Nya. Tiada lama setelah dua puluh empat utusannya membawa risalah, tibalah saatnya di urutan ke dua puluh lima, Muhammad Saw. Dialah Rasul Allah, utusan Allah yang terakhir, yang menjadi penutup hingga tiada lagi setelahnya sampai tiada matahari bersinar lagi di bumi ini. Semoga shalawat senantiasa tercurahkan padanya.

Sedikit mengingat ketika berhadapan dengan sebuah kaca. Ternyata sudah lama tubuh ini berjalan-jalan di dunia. Lebih lama dari kepenatan-kepenatan yang terasa. Lebih lama pula dari rasa bosan yang mungkin melanda. Dan yang pasti, lebih lama daripada rasa lelah yang dirasa. Bergurau bersama saudara. Berjuang bersama kawan dalam iman dan Islam terkadang membuat urat wajah tertekuk menjadi masam. Namun banyaknya ialah simpulan senyum di wajah tiap bertemu dalam harian.

Tanpanya mungkin semakin ada saja masalah yang terasa lebih berat. Tanpanya pula seakan tiada asa yang bisa tercapai dalam tujuan. Kecil memang, untuk terlihatnya. Namun sangat besar terasa, begitu maknanya. Saudara seiman.

Tercengang malu saat membaca sebuah kisah dari salah satu sahabat Rasulullaah yang setiap ia berdoa isinya adalah nama-nama sahabatnya. Atau hadits yang mengakatan bahwa malaikat akan mendoakan seseorang ketika ia berdoa untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudara yang didoakan.

Mungkin suatu hari pernah terjadi semua urusan selesai sesuai harapan. Bisa jadi satu sebabnya adalah doa yang tidak tahu siapa pengirimnya. Suatu saat pernah merasakan ketenangan dalam dada meski sedang menghadapi masalah. Bisa jadi, sebab di dalamnya adalah doa yang entah darimana datangnya. Mungkin suatu waktu nanti, tiba-tiba merasakan kuat padahal pundaknya sedang diuji dengan beban berkapasitas berbeda dari biasanya. Bisa jadi, itu adalah hasil dari doa saudara yang diucapkan diam-diam.

Ucapan ketika berpisah saat bertemu di suatu tempat bisa menjadi sebab adanya doa. Ketika hujan deras ia berdoa bisa jadi di saat yang sama wajah saudaranya ada dalam hatinya hingga ucapan doanya bertambah untuk sesama. Ketika menunggu waktu shalat selepas kumandang adzan mungkin terlihat diam namun bisa jadi hatinya bergumam memohon ampunan untuk teman seperjuangan. Atau ketika lahapnya ia makan saat sahur tetap teriring harapan untuk kemudahan saudara seiman. Bisa jadi ketika ia pamit pergi untuk safar beberapa hari, dalam perjalanannya ia ingat saudara di seberang dan mendoakannya. Dan mungkin ketika ia bangun di saat beberapa di dekatnya terlelap, disebutlah nama-nama saudaranya bersama dengan kesunyian malam.

Dan akhirnya, yang terlontarkan oleh ucapan lirih tanpa ada manusia yang mendengar, akan terasa dan terjadi pada diri sendiri. Semuanya tentang kebaikan. Hanya melalui satu hal, doa yang tersembunyi. Doa yang tidak diketahui. Doa yang menurutnya tidak ada doa. Doa yang senantiasa menemani perjalanan hidup. Entahlah. Doa yang senantiasa mengalir dari jauh, dari dekat, dari seberang lautan, dari beda tempat dan dari dalam hati.

Terimakasih untuk doa-doa tersembunyi yang senantiasa mengiringi. Yang tiada lelah mendoakan. Yang tetap tidak melupakan meski kebersamaan sudah menjadi kenangan.

Selesai di tulis di atas sebuah kursi. Pagi hari. 06.04.