Kekuatan Seorang Wanita

“Ketika Allah menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
“Mengapa begitu lama Engkau menciptakan wanita, Ya Allah ???”

Allah menjawab:

“Sudahkah engkau melihat dengan teliti setiap apa yang telah Aku ciptakan untuk wanita?”
Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan kerisauan, dan semua itu hanya dengan dua tangan”.

Malaikat menjawab dengan takjub,
“Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!”

Allah menjawab,”Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan boleh bekerja 18 jam sehari”.

Malaikat mendekati dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
“Ya Allah, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”

Allah menjawab,”Itu tidak seperti apa yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa???”, tanya malaikat.
Allah melanjutkan,
“Air mata adalah salah satu cara dia menunjukkan kegembiraan, kerisauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona lelaki,ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki oleh wanita.

Wanita dapat mengatasi beban lebih baik daripada lelaki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri,
Dia mampu tersenyum ketika hatinya menjerit kesedihan,mampu menyanyi ketika menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa ketika ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya,
Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan,
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang,
Dia gembira dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia,
Dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran.
Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,
Tapi dia mampu mengatasinya.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

Allah S.W.T berfirman:
“Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.

Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia,
namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.”

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya. ”

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah,
dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”

“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”

“Aku memberinya kekuatan untuk menyokong suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.”

“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya,
tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.”

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan.”
“Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk tubuh yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.

Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada.”

“CINTANYA TANPA SYARAT”.

Allahuakbar… specially dedicated kepada semua wanita di sana dan di sini. Istimewanya seorang Ummi,mak,mama,ibu…. dan beruntungnya dijadikan sebagai seorang wanita.

Tak Sepenuhnya Membaca

Eko Novianto

(أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ)
[Surat Al-Mu’minun 68]
via @QuranAndroid

Mereka yang mengingkari, akan selalu berpaling dan ingkar atas dakwah. Padahal sejarah risalah telah menetapkan bahwa rasul-rasul datang berturut-turut kepada kaumnya masing-masing. Tetapi, mereka yang mengingkari selalu akan mengingkari karena kebencian mereka terhadap kebenaran dan karena hawa nafsu yang telah mengakar dan telah terlanjur mereka bangga-banggakan.

Benarlah Allah dengan firmanNya itu. Tidakkah mereka menghayati? Bukankah telah datang informasi istimewa? Mengapa berlalu begitu saja?

Itulah. Selalu saja berulang. Tak sepenuhnya terbaca.

Dilantunkan, iya. Bahkan dengan suara yang merdu. Dieja-eja dengan posisi lisan yang benar dan seharusnya, iya. Dibunyikan dengan memenuhi hak dan sifat-sifat hurufnya, memang iya. Diucap berulang-ulang, iya. Dihafal luar kepala, memang benar adanya. Tetapi tak sepenuhnya dibaca. Tak dimengerti maknanya, tak dihayati gunanya, dan tak didalami artinya. Cenderung berlalu begitu saja. Tak mengikis keangkuhan dan menciptakan rasa tenang dengan interaksi yang minimal sekali itu. Lalu merasa aman dan berbangga dengan yang minimal itu. Tak pernah terbaca sepenuhnya.

Tak heran jika kemudian, seperti air hujan yang terserap bumi tak berbekas. Sebatas tenggorokan saja. Berbangga dengan suara, nada, dan irama. Tapi miskin makna. Firman-firman itu menjadi bacaan-bacaan suci dengan pahala-pahala yang ditumpuk-tumpuk di dalam benak, tetapi lemah dalam penghayatan. Tak terbaca sepenuhnya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

Respek

Eko Novianto

Masih anak-anak, kehausan kelelahan, tampak miskin, tapi dia sanggup memikirkan lingkungannya.

Tangan kecilnya berkali-kali kembali memegangi ujung karungnya. Menjaga agar karungnya tetap rapat ke pahanya. Sambil mengenggam erat gelas es cincaunya. Dan menarik lagi ujung karungnya, terutama jika dia sadari ada orang yang berlalulalang di depannya. Terlihat sekali, dia tak ingin karungnya itu mengganggu lalu lalang jamaah sholat jumat Masjid Cut Meutia.

Siang itu, rasa haus menyergapnya. Setelah mengisi penuh karungnya dengan koran-koran bekas sajadah jamaah, dia ingin tenggorokannya dimanja es cincau. Duduk di sebelahku, mengurai uang kertas kumal, menghitung-hitungnya, lalu memutuskan memesan segelas pada si abang es cincau.

Masih muda, bahkan belia, tak berpunya, terlihat papa, dan tampak nyaris tersisih dari hiruk pikuk dunia, tetapi dia tak ingin karungnya menghalangi lalu lalang pengunjung pasar kaget yang sedang sibuk menimpali teriakan dan rayuan para pedagang.

Salut.

Sebuah oase di tengah keangkuhan Jakarta. Keangkuhan yang rajin dipertontonkannya. Diperlombakannya. Dijejalkannya rapat-rapat ke dalam jiwa. Sampai tercipta utopia dan menafikan kemuliaan budi. Padahal ada. Dan kadang ditunjukkan oleh seseorang yang tampak diremehkannya dan nyaris disisihkannya.

Jakarta, 20 Oktober 2018.

Mensiasati Masalah Hidup

Hidup di dunia ini pasti banyak masalah. Masalah itu adalah bagian dari karunia Allah, bukan bagian dari musibah. Masalah menjadi musibah jikalau kita salah menyikapinya.

Seperti ujian di sekolah, ujian tersebut adalah karunia karena ujian menjadi kesempatan untuk bisa naik kelas.

Salah satu kesalahan yang dilakukan banyak orang ketika menghadapi masalah adalah sibuk mengandalkan sesuatu selain Allah.

Mungkin sibuk hanya mengandalkan pikiran sendiri, pengalaman sendiri, tenaga sendiri, atau mengandalkan pertolongan orang lain.

Bukan tidak boleh semua itu, tapi jika semua itu ditempuh tanpa mendapat bimbingan dan izin Allah maka semuanya tidak akan berarti apa-apa.

Masalah sebesar apapun jika Allah menolong, maka akan menjadi sangat ringan dan mudah.

Sedangkan urusan remeh sekalipun, jika Allah tidak menolong, maka akan menjadi terasa sangat berat dan sulit.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan sehingga kita bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi setiap masalah hidup.

Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan pertolongan kepada kita. Aaamiin.

Syaiful Ramadhan

Seberapa Greget Dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, apakah pernah menantang seorang jawara gulat tak terkalahkan, dan kamu berhasil menang sampai dua atau tiga kali? Padahal kamu tak terbiasa bergulat sebelumnya.

Rasulullah saw pernah begitu. Mengalahkan Rukanah yang punya rekor tak terkalahkan di Mekkah. Dari sekian banyak pertandingan, baru ketika melawan Rasulullah saw badan Rukanah terbanting hingga perutnya menyentuh tanah.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah memecahkan sebuah batu besar sendirian yang orang-orang tidak ada yang sanggup memecahkan batu itu.

Rasulullah saw pernah begitu. Ketika sedang persiapan menghadapi perang Khandak, para sahabat membuat parit yang mengitari kota Madinah. Di tengah pekerjaan, ada batu besar yang sulit dipecahkan. Telah dicoba oleh para sahabat, namun batu itu sebegitu kokohnya. Hingga akhirnya para sahabat mengadu kepada Rasulullah saw. Dan beliau memecahkan batu itu sendirian.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah merengsek ke hadapan ketika pasukan yang lain mundur dalam peperangan?

Rasulullah saw pernah begitu dalam perang Hunain. Pasukan muslim terdesak, tergempur oleh panah-panah suku Hawazin yang handal. Mereka mundur menghindari hujanan anak panah. Tetapi Rasulullah mantap melangkah maju. “Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib,” teriak Rasulullah yang memotivasi umat muslim yang mentalnya jatuh.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah kamu memaafkan suatu kaum yang sudah melempari kamu dengan batu, mencaci kamu, mengatakan kamu orang gila? Ketika ada kesempatan untuk membalas perbuatan mereka, kamu abaikan.

Rasulullah saw pernah begitu ketika dakwah ke Thaif. Tak hanya menolak dakwah, bahkan penduduk Thaif pun melempari Rasulullah saw dengan batu dan mencaci beliau. Lalu malaikat menghampiri Rasulullah yang sedang dalam keadaan terluka, menawarkan untuk menimpakan sebuah gunung kepada penduduk Thaif. Rasulullah menolak. Masih berharap keimanan penduduk Thaif, setidaknya anak cucu mereka.

Seberapa greget dirimu?

Seberapapun gregetnya kamu, pernahkah berbuat baik kepada orang yang sudah berbuat jahat kepadamu?

Rasulullah saw pernah begitu. Ketika seorang Arab Badwi tiba-tiba menarik selendang beliau dengan kuat hingga menyebabkan guratan luka di leher seraya berkata “Hai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu!”. Rasulullah menoleh kepadanya dan tertawa lalu memberikan apa yang orang Badwi itu inginkan.

Seberapa greget dirimu?

Ah… rekor-rekor kegregetan yang kau ciptakan, tak kan bisa menyaingi keagungan kehidupan Rasulullah saw. Hal-hal luar biasa yang kita pamerkan dalam challenge “seberapa gregetnya kamu” yang sedang ramai, tak kan bisa menandingi keberanian Rasulullah saw, kekuatan beliau, serta akhlaknya yang pemaaf, santun, pemurah, dsb.

Pada hal-hal yang luar biasa yang terjadi dalam hidup beliau saw, terdapat keteladanan yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Karena itu, mari jadikan sunnah Rasulullah saw menghiasi hidup kita daripada disibukkan menjadi yang tergreget di zaman ini.

Seberapa greget dirimu?

Eits.. jangan lupa sholawat. Allahumma sholi ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Elooo, yang Perlu Istighfar

Kita tidak mungkin menyelesaikan semua masalah, karena manusia tidak dirancang oleh Sang Pencipta untuk menyelesaikan masalahnya sendirian. Butuh berteman, berjamaah, bermasyarakat dan terutama butuh pertolongan Allah SWT.

Dalam tahapan dan ujian masalah itu Allah akan meng-ayak dan memilah mana ksatria, mana pendurhaka. Mana Pandawa mana Kurawa. Mana muhajirin dan anshor mana teman2nya ibnu salul dan keponakannya ariel sharon.

Tugas kita memastikan diri kita, tidak menjadi bagian dari masalah. Mencegah orang lain, sedapat mungkin agar tidak ikut menjadi masalah.

Sueeer, kita butuh hidayah dan pertolongan Allah dalam setiap langkah hidup kita. Karena faktanya banyak orang hebat tapi kalah dan bangkrut amalnya, orang cerdas tapi berbuat bodoh kuadrat, orang alim keblinger dengan ilmunya.

Penyebabnya sederhana tapi fundamental. Terlalu pede dengan kemampuannya, lupa minta petunjuk dan pertolongan Allah dalam menyelesaikan masalahnya.

Apalagi bila pede dicampuri dengan sifat jumawa, meremehkan saudaranya. Lengkaplah sudah atribut sombong bin kibir dalam dirinya.

Orang seperti ini, hampir sia-sia kita ingetin taubat dan istighfar. Karena dia akan balik menyerang kita dengan ungkapan kebangsaannya, “enak aja. Eloo yang istighfar….”

Hiiiihh, ngerrrriiii.

#AyoLebihBaik

Menilai Orang Lain


By. Satria hadi lubis

Suatu ketika khalifah Umar ra pernah menghukum seorang pencuri, beliau berdoa: “Ya Allah…kami menghukum dia dari apa yang tampak saja, sedang hatinya urusan-Mu ya Allah”

Amirul mukminin berkata begitu karena sadar bahwa menilai hati orang lain sangatlah sulit. Yang bisa dinilai dari orang lain adalah perbuatannya.

Apakah kita boleh menilai perbuatan orang lain? Dan apakah menilai perbuatan orang lain bisa menggambarkan tingkat keimanan dan kemunafikan orang tsb? Jawabannya, bisa! Sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat” (HR. Al- Bukhari).

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan sholat” (HR. Muslim).

Bahkan di dalam al Qur’an banyak sekali ciri-ciri perbuatan orang beriman, kafir atau munafik sebagai patokan kita untuk menilai orang lain. Salah satunya tentang ciri orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (Surat Al-Anfal, Ayat 2).

Jadi, setiap kita sesungguhnya bisa menilai perbuatan orang lain. Yang dari perbuatan tsb bisa menggambarkan tingkat keimanan, kemunafikan dan kekafiran orang lain.

Masalahnya tinggal apakah penilaian kita benar atau tidak? Di sinilah letak perdebatannya. Disinilah letak ruang diskusi untuk menilai mana yg lebih mendekati kebenaran.

Dalam Islam, ukuran kebenaran adalah mana yg paling sesuai dalil naqli (al Qur’an dan Hadits). Lalu setelah itu mana yg sesuai hukum positif yg tidak bertentangan dgn dalil naqli. Baru terakhir, mana yg paling sesuai dengan logika yang sehat.

Silakan berbeda pendapat dalam menilai sesuatu. Tapi jangan kita mengatakan “siapa antum yang berhak menilai”. Ini perkataan khas orang sekuler yang terpengaruh ideologi relativisme. Sebuah ideologi yg menganggap semua nilai itu relatif, sehingga tidak ada yg benar atau salah. Dari relativisme inilah muncul ideologi yg sekarang menguasai dunia, ideologi liberalisme.

Ada yg berkata, “jangan soklah menilai orang lain karena kebenaran hakiki hanya milik Allah” atau “urus aja diri loe. Elu aja belum bener, udah berani menilai orang lain” atau “emang surga hanya milik kamu!” atau perkataan semisalnya, yg membuat orang menjadi tidak percaya diri untuk menilai orang lain, sehingga berkembanglah budaya induvidualistik yg tidak peduli dgn kelakuan menyimpang orang lain. Tidak berani menegur tetangganya yg kumpul kebo, temannya yg gay, bapaknya yg korupsi, dll. Lalu kerusakan merajalela seperti yg kita lihat sekarang ini. Jangan heran jika turun bencana di tengah-tengah kita, seperti firman-Nya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Surat Ar-Rum, Ayat 41).

Tugas kita sebagai muslim adalah berani menilai perbuatan orang lain (disamping terus memperbaiki diri). Allah murka kepada manusia yg telah diberikan mata, pendengaran dan hati, tapi tidak digunakan untuk menilai mana yg benar dan salah. “Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai” (Qs. 7 ayat 179).

Tugas kita mendekati kebenaran hakiki milik Allah dgn cara terus menilai dan belajar dari kesalahan. Repot kalau kita tidak boleh menilai. Nanti kita galau dan bingung terus terhadap perilaku di sekitar kita. Itulah yg sebenarnya dimaui musuh-musuh Islam agar umat Islam meninggalkan budaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab mereka tahu amar ma’ruf nahi mungkar akan membuat umat Islam kembali kepada kejayaannya. “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Qs. 3 ayat 110).

Ketahuilah…netralitas itu sesungguhnya tidak ada. Sebab orang yg netral sebenarnya berpihak juga. Minimal berpihak pada ideologi bingungisme (nihilisme).

Dalam Islam, hanya ada dua pilihan nilai : hak dan batil. Apalagi untuk hal-hal yang prinsip dan fundamental. “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs. 2 ayat 42).

Di akhirat saja hanya ada surga dan neraka. Surga untuk kelompok hak dan neraka untuk kelompok batil. Tidak ada tempat untuk orang yg netral dan tidak berani menilai.

Jangan terpengaruh dengan lagu galau, seperti “engkau milik orang lain, tapi jangan salahkan rasa cinta ini”. Atau film yang ujungnya-ujungnya galau, karena endingnya tokoh yang benar jadi jahat dan tokoh yg jahat jadi baik, sehingga kita empati dengan orang jahat.

Jadi jangan terpengaruh dgn ideologi relativisme yg membuat seseorang tdk berani menilai perbuatan orang lain. Jika kita beda pendapat dalam menilai orang lain itu wajar. Silakan terus belajar dan terus diskusi mana yg paling benar. Lalu berani mengakui kesalahan jika kita salah dan berani memperjuangkan kebenaran jika kita benar.

Wallahu’alam.

Titik Awal Yang Baru

Oleh: Cecep Y Pramana

Jika kita tidak berhati-hati, rasa puas diri dapat membuat semua yang kita peroleh hancur ke tanah. Jangan biarkan kesuksesan kita menjadi korban kesuksesan yang sama.

Hindari rasa puas diri dengan menanggapi setiap kesuksesan dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan usaha yang berkelanjutan tanpa henti. Perlakukan kesuksesan sebagai peluang untuk menciptakan lebih banyak kesuksesan lainnya.

Jika semua yang kita lakukan dengan nasib baik kita adalah mengonsumsinya, maka kita akan segera ditinggalkan tanpa penyesalan. Tapi sebaliknya, raihlah peluang untuk membangun kesuksesan kita.

Kegembiraan dari pencapaian adalah dalam melakukan kerja dan terus berikhtiar. Cara untuk melanjutkan kegembiraan itu adalah melanjutkan pekerjaan dengan jalan terbaik.

Sadarilah, bahwa imbalan terbesar dari kesuksesan apa pun adalah kesempatan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, dari yang Maha Besar. Rasakan sejauh mana peluang itu, dan mulai bekerja di situ.

Buatlah setiap kesuksesan menjadi titik awal yang baru. Senang terus mengisi dunia kita dengan pencapaian dan nilai baru.

Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

link tulisan:
Titik Awal Yang Baru

Titik Awal Yang Baru

Menjadi Kupu-kupu atau Batu Bata?

Eko Novianto

Jika perbaikan dan penjagaan kualitas kehidupan manusia dimulai dari membangun kualitas pribadi, lalu membangun keluarga berkualitas, terus berlanjut sampai menjadi sosok yang berkontribusi untuk dunia, maka keinginan untuk selalu berbalik adalah masalah dari rangkaian perjalanan kehidupan itu.

Kepintaran seseorang hanya akan menjadi masalah jika kepintarannya itu hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Kekayaan seseorang hanya akan menjadi masalah jika hanya digunakan untuk membusungkan dada. Pun jabatan, panggilan-panggilan dan gelar, serta keindahan anak dan istri. Semua itu hanya akan menjadi masalah jika kembali digunakan untuk menjadi angkuh, membanggakan diri sendiri, atau mengangkat dagu karena sombong.

Keinginan untuk kembali memuaskan diri itulah pula yang sejatinya menghambat upaya perbaikan kualitas kemanusiaan. Perjalanan menjadi tak mudah melaju. Perjalanan menjadi tak mudah menanjak ke kualitas yang lebih baik. Perjalanan menjadi mandek. Perjalanan menjadi mundur. Dan – bahkan – kerap terhenti.

Itulah nyanyian sepanjang zaman. Seseorang menanjak seperti segera akan bersinar, tetapi lalu melemah dan memilih kembali ke titik awalnya. Atau seseorang melaju seperti akan bersinar, tetapi lalu melambat dan memilih untuk berhenti atau mundur. Sepanjang dunia berputar, kisah semacam ini adalah kisah yang tersedia dalam setiap putaran zaman.

Memang pasti tak mudah untuk memiliki determinasi. Memang pasti tak mudah untuk memiliki persistensi. Atau istikamah. Atau disebut apa. Memang pasti tak mudah.

Di antara yang harus dimiliki adalah visi. Saya tak berbicara tentang visi kemanusiaan. Saya sedang ingin kita merenungkan visi yang khas di antara kita masing-masing.

Manusia adalah makhluk yang khas. Unik. Tak pernah ada dua manusia yang identik sama. Kalaupun memiliki ciri fisik yang sama, dia memiliki lekuk jiwa yang berbeda. Kalaupun dua manusia memiliki tabiat dan kecenderungan yang sama, pasti ada hal lain yang membedakan keduanya. Manusia adalah makhluk yang khas. Tuhan menyebutnya sebagai Khalqan Akhar. Penciptaan yang (sama sekali) berbeda.
Manusia adalah makhluk yang khas.

Kekhasan itu bukan cuma menuntunnya pada perbedaan personal semata. Kekhasan itu juga menuntun manusia pada penugasan atau peran sosial yang khas dalam kehidupan.

Tak ada seorang pun yang tak memiliki peran atau pos yang penting dan khas dalam kehidupan ini. Maka, menjadi penting bagi setiap anak Adam untuk menemukan dan menentukan peran khas, spesial, unik, dan penting itu.

Sambil melakukan peran dan posisi khasnya itu, manusia tak bisa menghindari rute umum yang dilalui oleh kebanyakan. Belajar, bekerja, mencari nafkah, mengejar jabatan, menikah, membesarkan anak keturunan, dan lainnya. Setiap dan semua manusia akan menjalani jalan umum itu.

Di jalan umum itulah kerap manusia tak bisa menghindari kompetisi. Ada dorongan untuk bisa lebih cepat, keren, mentereng, dan semua proses kompetisi menuju kesempurnaan itu. Kompetisi itu baik, namun jika semuanya berorientasi publik dan dalam perspektif ‘jalanan umum’, manusia berpotensi tergerus arus dan kehilangan peran dan tugas khasnya. Seperti produk massal, manusia tak lagi memiliki identitas diri yang kuat. Kecuali makhluk yang sedang berlomba untuk lebih cepat dan lebih banyak.

Padahal setiap manusia memiliki ‘Bab Pendahuluan’ dan Mukadimah yang khas. Bagaimanapun, tak bisa menyeragamkan. Ingat, manusia diciptakan dengan penciptaan yang baru dan unik. Maka, adalah hal penting bagi setiap insan untuk memahami dirinya dan memahami kekhasan dirinya dalam kerumunan.

Setiap manusia harus memiliki definisi personal soal tugas dan perannya. Setiap manusia harus mampu mengukur diri. Lalu menempatkan diri dalam posisi dan peran khasnya itu. Tanpa gundah karena kompetisi. Tanpa resah karena kompetisi. Dan tak berkeluh kesah karena kompetisi-kompetisi fana itu. Setiap insan harus memiliki pendefinisian yang khas secara kokoh dalam dirinya. Ini hal penting, karena setiap manusia memiliki ukuran dan kapasitas. Tak bisa menerima beban di luar kapasitasnya dan merugi ketika menjalani peran di bawah kapasitasnya.

Memang tak bagus jika di bawah kapasitasnya, tapi bukan hal yang membanggakan jika sebaliknya. Dan di tengah iklim kompetisi ‘jalanan umum’ itu, manusia kini kerap digegas, kerap dipacu, lalu kehilangan pendefinisian dirinya. Lalu melakukan apologi dan pembenaran-pembenaran di tengah kebingungan dan kehilangan pendifinisian dirinya itu. Dan jika itu yang terjadi, manusia kerap melakukan perjalanan ke belakang. Seperti menanjak, tetapi melorot menurunkan kualitas dirinya. Seperti melaju, tetapi—sejatinya—mundur dan menurunkan kualitas dirinya sendiri.

Memang keren jika bisa menjadi Kupu-kupu. Dalam sesaat melakukan metamorfosis lalu menjelma menjadi makhluk cantik yang mengundang kekaguman. Tetapi mungkin perlu juga disisipkan dalam benak untuk menjadi batu bata yang meski tak memukau, namun menjadi tempat berpijak bagi proses kehidupan yang selanjutnya.

Jika setiap kita mampu melakukan ini semua, kualitas kehidupan manusia akan melaju ke depan. Ke atas. Dan memberikan lebih banyak jaminan bagi keberlangsungan proses penjagaan dan perbaikan kualitas kehidupan itu.

Hanya perlu sedikit ketenangan, kesinambungan berpikir, kelaziman berzikir dan merenung, dan sedikit kebiasaan untuk mengembangkan sikap respek. Itu saja. Lalu tawakal.

Membuat Perbedaan

Faktanya adalah bahwa kita bisa membuat perbedaan. Tapi pertanyaanya, maukah kita melakukannya, hari ini?

Bahkan jika tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mengerti, atau jika tidak ada yang peduli, maka kita dapat membuat perbedaan.

Kita dapat memberi dunia dorongan yang terus-menerus ke arah positif.

Tentu saja, kita bisa memilih untuk menyusuri permukaan kehidupan yang gemerlap, atau menambah simpanan sensasi tanpa makna.

Kita juga dapat berhenti, menggali, dan melakukan pekerjaan yang sulit, seringkali tanpa pamrih, untuk membuat perbedaan.

Lain kali saat kita melewati cermin, maka berhenti, lalu lihatlah, dan tanyakan pada diri kita, apa yang sebenarnya ingin kita lakukan dengan hidup kita?

Apakah kita hanya ingin mengunggah gambar wajah kita yang cantik dan ganteng, atau apakah kita lebih suka melihat orang lain secara langsung di mata dan juga melihat perbedaan yang kita buat dalam hidup mereka?

Tidak ada kehidupan seperti itu yang dijalani dengan baik jika hidup hanya untuk kepentingan pribadi kita yang sempit.

Lebih dari sekadar berpose sebagai seseorang yang peduli, lebih dari sekadar menyuarakan dukungan untuk semua penyebab yang tepat dan mengesankan.

Temukan caranya, cara khusus kita sendiri, untuk membuat perbedaan. Maka lakukanlah.

 

Cecep Y Pramana
Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com | Blog: ceppangeran.wordpress.com