Kita adalah Apa-apa yang Kita Biasakan

Dan bencana bisa muncul karena kelalaian kita.

Dua minggu lalu, laptop ku tersiram kopi. Sedikit saja, dan ia mati seketika. Ya, ia mati tak tak hidup lagi. Ketika kuserahkan pada ahlinya, aku pun menerima penawaran penggantian kerusakan yang luar biasa besarnya. Hampir-hampir seharga laptop baru. Aku pun meringis, sembari mengelola gejolak jiwa ini, yang lazimnya dalam keadaan serupa ini memang goyah ke sana kemari.

Singkat cerita, solusi pun berhasil didapat. Dan aku memang tak ingin berkisah tentang itu. Aku hanya ingin merenungi kejadian pemicunya. Ya, kejadian itu sungguh membuatku merenung dalam. Bagaimana rupanya, sebuah kerusakan demikian parah, terjadi hanya disebabkan kelalaian kecil. Sebab aku bukan seorang yang teledor selama ini. Aku cukup disiplin menyingkirkan segala cairan saat sedang bekerja dengan laptop. Namun entah mengapa di momen itu, aku lupa pada kebiasaanku. Dan _cukup satu kali lupa itu_ untuk menghasilkan kerusakan yang luar biasa.

Ya, cukup satu.

Bukankah demikian dalam keseharian kita? Banyak kehancuran bukan disebabkan oleh hal-hal besar. Ia justru disebabkan oleh sumber-sumber kecil yang disebut kelalaian. Rusaknya karakter seseorang, runtuhnya bangunan keimanan seseorang, tidak terjadi serta merta karena bencana yang tiba-tiba. Hanya lahir dimulai dari permakluman terhadap keburukan-keburukan yang sederhana.

Tiba-tiba aku teringat pada bahasan yang sedang ramai belakangan, tentang bermunculannya komunitas homoseksual dan kawan-kawannya yang terkesan demikian berani. Sungguh kejadian serupa itu takkan mungkin terjadi 20 tahun yang lalu. Mengapa ia tampak nyata sekarang? Bukan, ini bukan tiba-tiba. Perhatikan saja tayangan dan berita yang disajikan beberapa tahun belakangan. Niscaya ia menyelusup secara halus, tak tampak, lewat kemasan-kemasan keseharian. Ia tak lahir lewat sebuah pemaksaan budaya. Ia justru lahir karena pembudayaan yang amat halus.

Maka waspadalah, wahai diri, justru pada hal-hal kecil yang dianggap remeh. Sebab yang menjadikan sebuah bangunan demikian tinggi adalah kumpulan pasir jua. Maka iman yang runtuh, adalah sebab ditumpuknya dosa-dosa yang diremehkan. Sedang iman yang kokoh, adalah sebab kebaikan-kebaikan yang dipupuk dengan ketekunan.

Ya, ini berita gembiranya. Kebaikan pun tak terjadi tiba-tiba. Ia dipupuk dari kebiasaan-kebiasaan yang sederhana. Diulang, diperbaiki, disempurnakan, terus-menerus hingga kuat jadinya.
Kita, adalah apa-apa yang kita biasakan

Teddy Prasetya Yuliawan
Presiden INLPS (Indonesian Neuro Language Program Society)

Belajar Amanah Dari Mesin

Dalam kehidupan ini sebenarnya banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari setiap peristiwa yang kita alami? Terkadang dari hal yang sepele dan sepertinya mungkin tidak ada yang istimewa bagi sebagian orang. Termasuk apa yang ingin saya ceritakan ini.

Saat di mall ketika hendak membeli minuman ringan kemasan botol di suatu lemari pendingin dengan sistem swalayan, ada kejadian yang membuat saya tertarik untuk menuliskan ini.

Saat mau membeli maka kita harus memasukkan sejumlah uang sesuai harga yang akan kita beli. Peristiwa lucu dan mungkin bisa kita ambil pelajarannya adalah : Mesin hanya melayani sesuai dengan prosedur yang berlaku. Ketika dimasukkan uang cetakan terbaru mesin tidak menerima, ketika uangnya basah tidak menerima. Bahkan dia tidak menerima uang melebihi harganya karena tidak melayani kembalian.

Pelajaran yang bisa diambil yaitu seandainya mesin itu manusia maka dia sosok orang yang jujur. Hanya mau sesuatu yang baik, tidak melanggar ketentuan dengan menyalahi aturan yang berlaku serta tidak mau menerima sogokan. Keren kan andai manusia perilakunya amanah kaya mesin ini….??!!

Ratih Marti

Cikarang 17072017

Kreatif di Kala Futur

Kreatifitas dibutuhkan untuk mendobrak kejemuan. Termasuk untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, karena keimanan itu fluktuatif, naik dan turun. Hati manusia yang berada di “dua jari Allah swt”, kadang mengalami rasa giat, dan kadang mengalami kejenuhan.Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib berpesan: “Hiburlah hatimu sedikit demi sedikit, sesungguhnya hati itu apabila tidak suka, menjadi buta. Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana fisik juga bisa bosan, maka carilah untuknya keindahan hikmah (kebijaksanaan).”

Tapi tulisan ini bukan bermaksud mengajak kita kreatif untuk mengada-adakan ibadah yang baru yang tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Bukan itu. Tapi kreatif untuk mengakali mood yang turun, agar dalam futur kita tidak terlalu jauh dari Allah swt.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang futur tetap dalam keadaan diatas sunnah, maka ia akan mendapat hidayah. Dan barang siapa yang futur tidak diatas sunnah, maka ia akan celaka”.(Hadits riwayat Imam Abu Dawud). Secara Etimologi arti futur adalah diam setelah giat dan lemah setelah semangat.

Sudah cukup banyak artikel yang membahas tentang futur. Dan yang bisa saya tuangkan hanyalah beberapa tetes ide yang mengalir di kepala saya, dan beberapa berasal dari pengalaman saya.

Bahan bacaan di kala futur

Saat hati melemah, ada baiknya selektif memilih bahan bacaan. Bahan bacaan yang bisa membangkitkan gelora untuk berjuang di jalan Allah, berbuat sesuatu untuk menolong keadaan umat Islam yang sedang terpuruk, memang baik. Tapi apakah bahan bacaan itu cocok untuk hati kita yang sedang lemah?

Tiap orang berbeda, tetapi di saat rasa bosan menyerang, saya lebih memilih bahan bacaan yang akan membangkitkan semangat beribadah kepada Allah swt. Bacaan-bacaan seperti fadhilah/keutamaan sholat tahajud, membaca Al-Qur’an, shoum sunnah, sholat sunnah, juga bacaan tentang keadaan saat sakaratul maut, keadaan dalam qubur, dan di akhirat; adalah bacaan yang saya pilih saat hati melemah. Saya menghindari bacaan yang akan banyak membuat saya memeras otak dan berfikir lebih rumit. Bacaan-bacaan seperti itu bisa optimal saya lahap kalau semangat saya sedang naik.

Sekali lagi, tiap orang bisa berbeda keadaannya. Butuh eksplorasi atas diri kita sendiri.

Mencari jalan untuk membangkitkan harapan kepada Allah

Saya pernah tinggal di sebuah daerah, di mana bila saya hendak pergi ke masjid yang dekat dengan rumah, ada sebuah jalan yang melewati kuburan. Tapi jalan utama menuju ke masjid itu tidak melewati kuburan. Dan saya lebih sering menghindari kuburan untuk mencapai masjid.

Jalan yang melewati kuburan itu kadang saya lalui kalau saya terkena futur. Tidak, saya tidak hendak meminta-minta pada kuburan agar hati saya semangat lagi. Tapi saya cuma memanfaatkan rasa penakut saya, agar ketika melewati kuburan, timbul harapan kepada Allah swt agar dihindarkan dari kejadian yang seram-seram. Ketika melintas di dekat kuburan itu hati saya akan banyak berdzikir kepada Allah swt dan mengakui kesalahan-kesalahan saya.

Yah, itu memang cara yang agak aneh. Padahal seharusnya saat melintasi kuburan, saya mengingat kematian, mengingat adzab kubur dan susahnya kehidupan di sana, dari pada memanfaatkan rasa takut saya. Karena dengan mengingat adzab kubur itu seharusnya bisa membangkitkan harapan kepada Allah swt.

Ada banyak cara lain untuk membangkitkan harapan kepada Allah swt. Mudahnya, benturkan saja diri kita dengan apa yang kita khawatirkan.

Terkadang ada saat-saat kita terlingkupi dalam comfort zone. Semua nyaman. Finansial, jauh dari masalah. Karir, jelas terlihat jalannya. Kesehatan prima. Keadaan seperti ini bisa memancing rasa tidak memerlukan Allah swt dalam diri kita. Bahaya!!! Dan lebih berhaya lagi apabila hati melemah saat terlena dengan keadaan nyaman.

Oleh karena itu bisa diterima kalau ada yang bilang musibah itu adalah nikmat. Karena melalui musibah, ada kenikmatan yang Allah berikan – kalau kita mau meraih kenikmatan itu. Yaitu kenikmatan rasa memerlukan Allah swt.

Ada taujih yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Taujih yang saya terima saat i’tikaf di masjid Al-Madani di Padang pada akhir 1999 dan awal tahun 2000. Dalam taujih itu, para pendengar diminta untuk mencari tantangan. “Cobalah jalan ke hutan sendirian, dan bekali diri kita hanya dengan sebuah pisau. Di situ kita akan merasa sangat memerlukan Allah swt. Selama ini mudah sekali kita mendapat makanan. Kalau tidak ada makanan di rumah, di luar banyak yang menjual. Tapi kalau di hutan, kita akan merasa kesulitan sehingga tumbuh rasa harap kepada Allah swt.

Atau coba jalan-jalan ke Muara (daerah pantai di Padang), kayuh sebuah perahu ke tengah laut. Di tengah laut itu, dirikan sholat sunnah 2 rakaat. Saat itu resapi, bagaimana kita sangat bergantung kepada Allah swt. Bisa saja ada ombak besar menghantam perahu kita sehingga kita jatuh ke laut. Di situ kita dilingkupi kecemasan sehingga kita berharap kepada Allah swt.”

Redaksi taujihnya tidak mungkin sama, tapi intinya seperti itulah. Taujih itu yang memotivasi saya untuk kreatif ketika dilanda futur.

Zico Alviandri

8 Oktober 2010

Tak Keras Lagi Dentingnya

Aku mengajarkan pada anak-anak dan mican agar banyak berdoa bagi alam di sekitarnya. Hewan. Tumbuhan. Batu. Jalanan. Gedung. Angin. Dan semuanya. Memintakan kebaikan baginya. Dan meminta mereka hanya menjadi kebaikan bagi diri kami.

‘Can, kalau melintas Cirebon, menengoklah ke arah Kuningan. Lalu berdoalah agar semua menjadi kebaikan bagi nak lanang…’, begitu. Misalnya. Juga lainnya.

Permintaan itu diperhatikannya baik-baik. Seperti ada lonceng yang berdenting setiap kali dia melintasi Cirebon. Jarang sekali dia terlelap saat keretanya melintas membawa hatinya itu.

Kini, laki-laki itu tak lagi di Kuningan.

‘Ngerti-ngerti sampe Purwokerto iki.. Pas Cirebon Prujakan koq gak denger pengumumannya ya? Nglintek iki. Bangun-bangun, pas Haurgelis.’, tulisnya di grup keluarga. Aku balas, ‘Sejak mas Zaim ga di Kuningan, alarm biologis mican sudah mati. Ga lagi berdering kalau lewat Cirebon..’. Dan kami tertawa-tawa.

Tapi bukan main-main.

Kami serius. Serius untuk selalu mendoakan semesta agar baik dan agar baik bagi kami.

Serius ini.

Eko Novianto

Serpong, 21 September 2018

Sentuhan Fisik

Kebersamaan. Juga kepedulian. Melebur menjadi sebuah entitas baru. Penyubur kala cinta bersemi dan penguat saat badai menerpa. Mendegradasi keakuan, mengikis keegoan dan menumbuhkan jiwa yang gersang.

Kebersamaan adalah syarat. Syarat meniti kehidupan. Juga melewati ketidakpastian. Kebersamaan adalah harmoni. Harmoni yang mengelaborasi cinta dan membuahkan kerja. Juga merupakan representasi cinta. Sedangkan kebersamaan tanpa sentuhan fisik adalah penderitaan. Penderitaan yang memerihkan jiwa.

Seorang wanita bisa tahan saat kesulitan melanda. Walaupun tak dibenarkan membiarkan berlama-lama dalam kesulitan. Tapi seorang wanita tidak akan kuat bila biduk rumah tangganya hambar. Minim kepedulian atau keengganan menebar romantisme.

Pertemuan dua anak manusia adalah fitrah. Menguatkan juga menyeimbangkan. Tapi apa akibatnya jika dua insan yang telah bersatu itu terpisahkan?

Kegoncangan. Sebagaimana yang dialami oleh wanita yang ditinggal perang suaminya.

Berbulan-bulan. Hinggapan kerinduan itu menyergap. Syair-syair pengobat rindu dilantunkan sebagai penghibur rasa. Rintihan jiwa seolah menguatkan cabikan dirinya. Umar bin Khatab sedang melewati rumahnya, mendengar rintihannya. Umar gelisah mendengar bait-bait yang terlantun. Rasa bersalahnya membuat kegelisannya semakin membuncah. Ditanyalah pada anaknya tentang lamanya seorang wanita berpisah dengan suami. “ Wahai putriku, berapa lama seorang wanita tahan berpisah dengan suaminya?” tuturnya.

“Bisa sebulan, dua bulan atau tiga bulan. Setelah empat bulan ia tidak akan mampu lagi bersabar” ujarnya. Jawaban itu membuat sisi-sisi kemanusiaan itu hadir. Umar lalu membuat kebijakan mengenai batas lamanya seorang prajurit pergi perang.

Kebersamaan adalah sentuhan dan sentuhan itu menghidupkan. Juga menghangatkan. Lihatlah kisah Laila dan Qais. Kisah cinta yang menyiksa karena tembok egoisme. Apakah cinta bisa berkembang tanpa sentuhan fisik?

Qais contohnya. Ia akhirnya gila dengan kenyataan tidak bisa memiliki cinta fisiknya Laela. Juga dengan Laela yang mengalami penderitaan berkepanjangan. Lalu bagaimana dengan ungkapan cinta tak harus memiliki? Jika manusia diciptakan berpasangan, bukankah sentuhan fisik adalah ruh dari kebersamaan?

*Dhiyya Uddin*

Haruskah Aku Berpaling?

Mencintai dengan seutuhnya cinta adalah milik Allah, tak ada yang bisa mencintai seperti Ia mencintai hamba-hamba Nya. Ah jika membahas kesetiaan tentulah Allah yang akan menjadi pemenang karena Allah lah yang selalu senantias menunggu hamba Nya untuk kembali pada jalan Nya.

Ada satu cinta lagi, cinta yang bila mencintainya maka akan bertambah rasa cinta dalam nyata. Terjal memamg jalan untuk terbersama menumbuhkan cinta, namun mulia bila tetap bersama dalam cinta bersamanya. Tersebab jatuh cinta itu mudah namun bertahan dan berjuang bersama dengannya sampai akhir itulah yang susah.

Haruskah aku berpaling? Melepas semua yang sudah terbangun dan mendarah daging?

Mencela bahagia yang pernah terbangun?
Mencaci empati yang sudah di hati?

Jika berpaling itu indah, maka sudah tentu akhir cerita bahagia yang akan terlantun berdawaikan cinta bersama dalam keberpalingan.

Jika berpaling itu mudah, toh tentu rasa setia itu akan terobohkan!

Namun tidak demikian indahnya berpaling, menyayat hati siapa saja, mengundang tanya pada setiap jiwa

Pantaskah yang berpaling diberi setia?
Bukankah suatu keberpalingan akan dibalas dengan keberpalingan yang amat menghujam raga hingga muncul derita?

Berpaling dalam barisan cinta tak akan membawa siapa saja bahagia.

Haruskah berpaling jika setia akan menjadi cerita bahagia?

Aise

Marah [Catatan Ramadhan]

Marah itu tak pernah benar menurut Allah, menurut orang lain, bahkan, ketika telah tersadar, marah itu pun tak bagus bagi pemarah. Marah tak pernah bagus, bagi siapa pun.

Marah-marah, maki-maki, sumpah serapah, dan semacamnya itu hal yang banyak merusak puasa. Marah itu mengosongkan makna puasa. Berlapar dan berhaus diri tetapi nyaris tanpa pendidikan diri. Seperti secangkir kopi hangat paling enak sedunia yang tertetes arsenik atau sianida.

Tak banyak kesempatan untuk bisa meluruskan bab ini. Menyela orang yang sedang marah, lebih sering memasukkan diri ke dalam situasi tak nyaman. Melerai orang sedang marah-marahan, malah mengakurkan mereka dan membuat mereka marah bersama pada kita. Yang sedikit itu, di antaranya ketika dalam pengajian. Atau ketika membaca nasehat tentang hal buruk itu.

Dan saya menggunakan kesempatan yang tak banyak itu sekarang ini.

Karena sesungguhnya, marah-marah dan sumpah serapah itu tak pernah bagus untuk semua.

Pengajian menjelang Buka Bersama di Musholla Al Fatah, Deresan, Bantul, 11 Ramadhan 1439/26 Mei 2018

Tentang Sedikit Harapan Itu [Catatan Ramadhan]

“Beh.. tolong diginiin ya..”, kata Mican sambil mencontohkan gerakan mengaduk-aduk kecil masakan berkuah di atas panas api sedang itu. “Supaya nggak rusak..”, katanya seperti memahami dan mengantisipasi ketidakfahamanku. Aku membatin, mungkin supaya santan di masakan ini nggak pecah atau semacam itu. Seperti yang pernah aku dengar-dengar itu.

Aku melakukan perintahnya itu. Tetapi, belum lama, sudah ada perintah baru. “Sudah, be.. Sekarang ngupas telur..”, katanya. Aku pun menjalankan perintahnya. Belum lama, datang perintah baru. “Diginiin, beh..”, katanya mencontohkan membuat sayatan-sayatan pada telur-telur rebus itu. Aku tak menjawab, hanya menjalankan arahan itu. “Trus dicemplungke ya, beh..”, katanya kemudian. Aku pun manut. “Sekarang diaduk lagi kek tadi..”, katanya. Aku pun mengaduk lagi. “Supaya tidak rusak khan, Can..”, kataku dalam hati saja.

Di balik punggungku, dia beraktivitas yang lain, entah apa itu.

Lalu aku memanfaatkan kekosongan perintah itu dengan bertanya padanya.

“Mican tau cara masak ini piye, Can? Khan kamu nggak disiapkan untuk masak, punya anak, dan lainnya. Kamu khan nggak benar-benar belajar untuk ini semua?”.

“Trus apa nggak kaget, Can? Khan begitu banyak hal baru, bertubi-tubi datangnya, dan seperti tanpa henti…”, tanyaku sambil terus mengaduk. Mengaduk masakannya.

“Belum lagi, ternyata kamu menikahi laki-laki yang cuma begini ini. Laki-laki yang sangat biasa, mendatangkan banyak masalah baru, menyeretmu dalam dinamikanya..”, kataku sambil terus mengaduk. Mungkin mulai mengaduk hatinya juga.

Dan hari ini, aku sholat di sebuah masjid tempat aku menerima nikahnya. Hari ini, aku duduk di bagian shaf laki-laki itu lagi. Waktu itu, kata adikku, Mican menangis setelah ijab kabul itu dinilai sah. Dua puluh lima tahun yang lalu.

Waktu itu, kami hanya punya sedikit harapan, sedikit cita-cita, dan banyak ketidaktahuan. Dan hari ini, kenangan dan kesadaran itu mengaduk hati kami.

Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Eko Novianto
Sleman, 12 Ramadhan 1439/28 Mei 2018

Gajah dan Anjing Hamil

Seekor gajah dan seekor anjing hamil pada saat yang sama. Tiga bulan kemudian anjing melahirkan enam anak anjing. Lalu, enam bulan kemudian anjing itu hamil lagi, dan sembilan bulan berikutnya anjing itu melahirkan selusin anak anjing yang lain. Demikian seterusnya.

Pada bulan kedelapan belas, anjing itu mendekati gajah sambil bertanya, “Apakah kau yakin bahwa kau sedang hamil? Kita hamil pada tanggal yang sama, saya telah melahirkan tiga kali untuk lusinan anak anjing dan sekarang mereka tumbuh menjadi anjing besar. Tetapi kau masih saja hamil. Apa yang sedang terjadi?”

Gajah itu menjawab, “Ada sesuatu yang saya ingin kau mengerti. Apa yang saya bawa bukan anjing tetapi gajah. Saya hanya melahirkan satu bayi gajah dalam dua tahun. Ketika bayi saya menyentuh tanah, bumi akan merasakannya. Ketika bayi saya melintasi jalan, manusia berhenti dan melihat dengan kekaguman, apa yang saya bawa menarik perhatian. Jadi, apa yang saya bawa dalam perut ini perkasa dan besar.”

Jangan kehilangan iman ketika kita melihat orang lain menerima jawaban atas doa-doa mereka. Jangan merasa iri atas kesaksian orang lain. Jika kita belum menerima berkat kita sendiri, jangan merasa putus asa. Berkatalah pada diri sendiri, “Waktu saya akan tiba, dan ketika menyentuh permukaan bumi, orang akan berdecak kagum.”

,

Mampu Atau Tidak Mampu Itu Ada Ujiannya

Ujian terberat pada kemampuan kita adalah kesombongan, sedang pada ketidakmampuan adalah kemalasan.

Benarkah?

Kalau ingin mendeteksi sifat sombong, mungkin bisa dicoba dengan mendata keunggulan kapasitas kita. Lalu pikirkan. Pasti ada setitik kebanggaan diri dari potensi semisal pandai menulis, jago orasi, terampil berkreasi, cakap berbahasa asing, pintar meneliti, piawai memimpin atau sekedar juara berpenampilan menarik.

Setitik bangga memang masih wajar. Bahkan perlu ditumbuhkan secara positif agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi hati-hati, dari setitik itu juga dapat menjadi celah keburukan jiwa yang dibenci Allah bila berkembang membentuk kesombongan. Orang yang hatinya diliputi rasa sombong kelak akan menderita kerugian besar berupa hangusnya amal atau dibinasakannya semua hal yang membanggakannya dalam sekejap mata. Tak sampai di situ, kehidupan orang sombong di akhirat kan berakhir pada kenestapaan abadi sebagaimana sabda Rasul saw berikut :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)

Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Bahkan seorang pendakwah dapat tergelincir ke neraka jika ceroboh berucap sesuatu yang mengisyaratkan kesombongan layaknya kisah dalam hadits berikut :

“Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Sampai suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka!
(HR Imam Ahmad)

Wal ‘iyyadzubillaah…

***

Sementara deteksi terhadap kemalasan barangkali bisa dicoba dengan cara meneliti berbagai aspek kelemahan kita. Lalu renungkan. Adakah terbesit keengganan dalam membenahi tiap kekurangan diri seperti sulit konsentrasi, lambat menghitung, tidak terampil, kurang rapi, cenderung pasif, selalu terbelakang dalam berinisiatif, dsb?

Sebersit memang kadang lumrah atas nama pemakluman terhadap kekurangan yang ada di setiap manusia. Namun waspadai jika perasaan ini terus dibiarkan apalagi sampai dipelihara. Sebab bukan mustahil, ia akan bertambah kuat, membesar serta mengakar di jiwa membentuk karakter pemalas.

Bila kondisinya semakin akut, seorang pemalas biasanya akan mudah menyalahkan takdir Allah.

“Ah emang sudah dari sananya saya punya kekurangan ini itu. Gak bisa berubah lagi.”

“Yang bikin kondisi fisik saya begini, kan Allah. Jadi ya sudahlah terima aja ketidakmampuan saya…”

Akhirnya kemalasan yang mengendap berpotensi membuat aqidah jadi keropos. Pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit.

Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang berhasil meraih prestasi luar biasa meski dalam kondisi tak sempurna baik secara jiwa maupun raga. Disebabkan kegigihan dan ketekunan akhirnya mereka sukses melampaui ketidakberdayaaan diri.
Itulah buah manis jika kemalasan telah sekuat tenaga kita perangi dan tundukkan.

Begitulah kemampuan dan ketidakmampuan mutlak menghiasi pribadi kita sebagai insan tak sempurna. Di antara keduanya Allah ta’ala tidak hanya menyelipkan ujian tapi juga kesempatan untuk mengintrospeksi diri agar tak terjatuh pada kerugian akhirat saat menyikapinya.

Maka amat pantas jika kita meminta perlindungan pada Allah terus menerus agar jiwa tak sampai menyandang predikat sombong dan malas akibat kegagalan ujian kita.

اللهم إنا نعوذ بك من الكبر والعجب والريا والسمعة

Ya Allah kami berlindung dari sifat-sifat tercela; sombong, membanggakan diri, riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

Karawaci,12052015

#catatanrefleksi