Isra Mi’raj dan Ilmu Pengetahuan

Dengan apa manusia menyangkal Isra’ Mi’raj? Dengan ilmunya yang secuil.

Maka dulu mereka berkata tak mungkin bisa seseorang berjalan hanya dalam semalam hilir mudik Mekkah – Yerusalem. Seraya menyangka teknologi di zaman itu telah berada di puncaknya.

Waktu bergulir 14 abad kemudian. Dan tersibaklah ketidakmungkinan itu. Setelah burung besi ramai lalu lalang di angkasa.

Kini, penyangkalan berlanjut dengan, “tak mungkin alam semesta ini dilintasi hanya dalam satu malam”. Diajukan argumentasi teori kecepatan cahaya, teori relativitas, dan lain sebagainya. “Mustahil,” simpul mereka.

Bila misteri Isra’ saja butuh waktu 14 abad untuk dipahami, lalu berapa lama agar Mi’raj terdengar masuk akal?

Akhirnya keimanan menyudahi kerut kening yang keheranan. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun keyakinan akan peristiwa Isra Mi’raj tidak menanti akal terpuaskan.

Sebagian orang yang mengimani kejadian itu membuat spekulasi-spekulasi agar Isra Mi’raj bisa bersesuaian dengan teori-teori yang ada. Ya terserah saja. Namun bila kelak berkembang pengetahuan baru yang membantah yang sempat berlaku, jangan sampai ada iman mengempis.

Jangan sampai minder gara-gara apa yang harusnya diimani tak bisa dibuktikan oleh segenap teori di zaman ini.

John Dalton dibantah oleh JJ Thompson. Heliosentrisme membantah geocentrisme. Banyak penyakit yang dulu tak ada obatnya, kini bisa disembuhkan. Semua ilmu itu akan ada pembaharuan.

Tapi manusia angkuh. Di setiap penemuan anyar, ia menyangka telah mencapai puncak pengetahuan. Lalu dengan itu ia meremehkan apa yang dianggapnya tak masuk akal dalam ajaran agama.

Tak perlu minder. Tentang dua laut yang tak dapat bercampur, tentang perkembangan janin, fenomena pergerakan gunung, dan berbagai hal dalam Al-Qur’an yang telah terbukti oleh sains, itu pun tak menjadikan orang-orang kafir beriman.

Maka bersyukurlah yang telah dikaruniai hidayah dan taufik oleh Allah swt untuk mengimani semua ajaran Islam, yang masuk akal atau pun tidak.

Zico Alviandri

Enkapsulasi Amal Sholeh

Kehidupan Allah ciptakan dan berikan pada makhluk, dengan tujuan sebagai kontestasi siapa yang paling baik perbuatannya (QS Al Mulk: 2). Sementara, amal sholeh manusia adalah produk yang paling ringkih, paling rapuh, paling rawan penggembosan. Maka diperlukan “enkapsulasi” pada setiap aktivitas kebaikan.

Hidup berarti beramal terbaik, yang akan kita bawa ketika kembali pada-Nya. Namun, betapa banyak letih penat berdiri dalam sholat tak berbekas kecuali menjadi debu berterbangan. Lapar dahaga puasa siang hari hanya sia-sia.

Ada “rayap” berupa riya’ dan sum’ah yang bergentayangan menggerogoti setiap bentuk amal sholeh anak manusia. Kecepatan mereka memusnahkan sebuah pahala sangat mengagumkan. Bahkan sebelum sebuah perbuatan dilakukan, bisa dibuat tak berarti.

Maka, ikhlas adalah kapsul terbaik pembungkus amal manusia. Satu-satunya cover yang kokoh yang dengan itu Allah memverifikasi perbuatan positif dan mengganjarnya dengan pahala.

Keikhlasan itu harus dibungkuskan ke sebuah amal, sebelum, ketika, dan sesudah dilakukan. Menjaga keikhlasan sebelum berbuat (ketika masih diniatkan) menjadikan kita punya perencanaan yang matang untuk mencapai tujuan. Kalau sebelum beramal sudah tidak ikhlas, maka kita akan merencanakan hal-hal di luar tujuan, yaitu keridhoan Allah swt. Hanya merancang sebuah keletihan tak berarti. Malah bisa berbalik menjadi adzab.

Menjaga keikhlasan saat perbuatan sedang dikerjakan membuat kita fokus pada aktivitas dan sasaran. Tidak ikhlas saat beramal, mengundang spontanitas yang norak yang bisa mengacaukan suasana.

Menjaga keikhlasan setelah beramal menjauhkan kita dari rasa besar kepala dan cepat puas. Ketiadaan ikhlas setelah mengerjakan sesuatu, membuat kita mengungkit-ungkit jasa pada manusia dan harap-harap cemas menanti pujian.

Ikhlas punya dzat anti rayap riya’ dan sum’ah. Hati yang alpa dari kapsul tersebut, maka akan menjadi sarang hama yang menghabisi setiap amal sebelum dan yang akan terjadi.

Namun bila kapsul-kapsul keikhlasan memenuhi hati, maka jadilah orang tersebut berderajat mukhlas. Yang Iblis tak mampu memperdayainya. (QS Shad: 83)

Lakukan enkapsulasi pada setiap kita beramal, agar tahan lama dibawa ke akhirat.

Zico Alviandri

Konsep Diri Seorang Muslim

Menjadi muslim berarti bukan lagi menjadi manusia biasa. Seorang muslim itu istimewa karena keimanannya kepada Allah swt. Dan keimanan itu menghadirkan sebuah karakter yang kokoh, karena sikap itu disandarkan pada Al-Qur’an dan sunnah.

Ada banyak hadits dan ayat Al-Qur’an yang bisa menjadi pembentuk karakter seorang muslim. Salah satunya adalah apa yang dinasehatkan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya, Abu Dzar r.a.

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”.

Ada tiga karakter yang dikandung dalam hadits ini

Integritas

Rasulullah saw berpesan agar selalu bertaqwa di setiap tempat. Artinya seorang muslim dituntut memiliki komitmen dan konsistensi untuk senantiasa menjaga integritasnya.

Di kantor, ia harus menjaga ketaqwaannya dalam perilaku jujur dan profesional, tak menipu atasan atau klien, tak berbuat khianat. Kesibukan tak memberikan dispensasi untuk alpa sholat. Bahkan dalam kesibukan, sholat di awal waktu dan berjamaah tetap terjaga.

Saat kongkow dengan teman-teman, orang lain terjaga oleh mulut dan tindakannya. Tidak meng-ghibah, menghasut, atau mencelakai rekan kerja.

Di rumah, ia pun tetap menjaga ketaqwaannya. Ia tak melepaskan disiplin sholat berjamaahnya meski sedang santai, juga memperlakukan anak dan pasangannya dengan baik.

Itulah muslim yang bertaqwa. Memegang integritas di hadapan Allah swt dan manusia di mana saja berada.

Perbaikan

Rasulullah meminta umatnya, melalui nasihat kepada Abu Dzar, agar menyusul setiap kesalahan dengan kabaikan. Seorang muslim tak kan bisa melepaskan sifat manusiawinya, yaitu sering kali khilaf dan berbuat salah. Karena itu, ada eksepsi dari karakter alami manusia ini, yaitu mem-follow-up kesalahan dengan perbaikan.

Follow up yang paling umum setelah melakukan kesalahan adalah meminta maaf. Bila kesalahan itu dibuat kepada manusia, ia harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Sedangkan bila dosa yang berhubungan kepada Allah swt, maka ia harus bertaubat.

Permintaan maaf kadang tidak menyelesaikan masalah. Harus ada tindak lanjut perbaikan. Misalnya kita tidak menepati janji kepada klien, produk yang kita hasilkan tidak sesuai spesifikasi kesepakatan awal, maka perbaikilah dengan melengkapi apa yang kurang. Seperti sebuah program komputer yang wajar bila ada bug, kemudian tugas programmer untuk memperbaiki bug tersebut.

Selain minta maaf dan memperbaiki yang kurang, tambahkan juga kebaikan lain. Klien protes kepada seorang programmer atas sebuah bug yang ditemuinya, lantas programmer meminta maaf dan memperbaiki problem yang ditemui serta menambahkan sebuah sebuah fitur pada aplikasinya agar sang klien senang dan kecewanya terobati. Ibaratnya seperti itulah tebusan atas kesalahan kepada seseorang.

Konsep diri ini juga mencerminkan konsep Jepang yang disebut Kaizen. Yaitu perbaikan terus menerus.

Kepribadian

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” Begitu pesan Rasulullah saw. Keunggulan Islam adalah pada konsep akhlak. Rasulullah mencontohkan sendiri bagaimana aplikasi akhlak mulia dalam Islam. Kita tidak akan mengerti dengan sempurna apa saja poin-poin akhlak Islam sebelum membaca kisahnya.

Pribadi yang jujur, sopan santun, menjaga perkataan, pemurah, penyabar, dll adalah daya rekat yang kuat agar orang lain mendekat. Sebagai seorang atasan, ia tidak menyombongkan diri. Sebagai seorang bawahan, ia menghormati atasan dan rekannya secara wajar, tidak mengghibahnya atau menjelek-jelekkan rekan kerja. Sebagai seorang suami/istri, ia senantiasa menjaga perasaan pasangannya. Sebagai seorang warga, ia memuliakan tetangganya.

Integritas, mau melakukan perbaikan, dan berkepribadian hangat adalah karakter yang disenangi oleh klien, disenangi atasan, disenangi tetangga, disenangi anggota keluarga, dan menjadi jalan menuju kesuksesan.

Zico Alviandri

Makhluk Penuh Cinta

Allah Maha Penyayang. Sudah paham kita bahwa kata ‘maha’ pada sifat Allah itu telah menunjukkan bahwa Allah swt tiada tandingannya dalam sifat itu. Tapi tetap saja Rasulullah memperbandingkan sifat kasih sayang Allah dengan sifat kasih sayang makhluk – untuk memberi pemahaman kepada umat bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang yang diperbandingkan. Tentu kasih sayang makhluk yang diperbandingkan itu bukanlah kasih sayang yang sepele. Kalau kita ingin memberi pemahaman pada anak kita yang masih kecil sebesar apa ikan paus itu, tentu kita tidak akan memperbandingkan dengan ikan cupang, tapi kita akan katakan “tahu sebesar apa ikan hiu atau lumba-lumba? Ikan paus jauh lebih besar.”

Umar bin Khatab pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. “Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Muttafaq Alaih)

Perbandingan itu membuat saya memahami bahwa begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan setiap bentuk kasih sayang yang lain, sekaligus membuat saya tersadar begitu besarnya cinta seorang ibu sampai-sampai dijadikan perbandingan untuk cinta yang maha dahsyat milik Allah swt.

Sebuah Berita Memulai Cerita Cinta

Test Pack, Ultrasanografi (USG), atau apa pun medianya telah memulai perjalanan kisah cinta yang agung. Tidak malu-malu air mata menghias di kerling mata seorang calon ibu ketika mendapat berita hadirnya buah hati yang menyatu pada jasadnya. Bukan simbiosis mutualisme, apalagi parasitisme, tapi jalinan hubungan yang dijalani oleh organisme yang memakan makanan induk semangnya pada jasad seorang wanita merupakan simbiosis cintaisme. Simbiosis yang sangat-sangat ditunggu oleh seorang wanita.

Setelah hadirnya kabar itu, seorang wanita akan menemukan cinta di sekelilingnya, di setiap harinya.

Morning Sickness dan Semua Kepayahan

Jasadnya saja yang menderita morning sickness, tapi hatinya along day hapiness. Rasa mual memang mengganggu, tapi tak menjadi beban pikiran. Dan setiap kepayahan yang terasakan, tak mampu mempengaruhi hari-hari bahagia seorang wanita. Ada cinta baru, kebahagiaan, dan rasa syukur kepada Allah swt yang berkekuatan dahsyat mendominasi kesadaran wanita tanpa ada yang bisa mengkudetanya.

Siapa yang bilang kalau cinta itu pasti selalu mudah dan menyenangkan?

Ekspresi yang Tak Rasional

Seorang pria dengan pikiran rasionalnya mempertanyakan kebiasaan seorang wanita mengandung yang rajin mengelus perut dan berbicara pada janinnya. “Sia-sia. Bagaimana mungkin jasad itu mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan?” Wanita itu menjawab, “Ah, tahu apa kamu tentang cinta ini. Apakah kau percaya ada energi hangat yang jatuh dari matahari ke bumi? Kau melihatnya? Kalau kau tak melihatnya tapi percaya, maka lebih masuk akal lagi bahasa cinta ini. Tapi kemampuan rasional mu terbatas, wahai pria…”

Perbincangan wanita pada janinnya itu monolog. Indoktrinasi cinta dari seorang calon ibu pada anaknya.

Dan Wujud Cinta itu pun Terlihat Nyata

Yang mencintai merasakan perih, yang dicintai menangis keras. Ada pertengkaran kah? Justru puncak kebahagiaan baru saja hadir. Rasa geregetan selama sembilan bulan untuk segera melihat buah hati tuntas sudah. Cinta bergemuruh di dada seorang ibu. Kalau selama ini usapan cinta terhalang oleh perut, kini cinta itu bisa ditransfer langsung di dekat jantung seorang ibu. Jantung yang tiap hari denyutnya digerakkan oleh cinta.

Seorang ibu mengerti, bila bayi menangis di tengah malam adalah karena ia rindu mendengar detak jantung si ibu. Selama sembilan bulan sebelumnya si bayi tak pernah alpa sehari pun mendengar denyut jantung si ibu, kini setelah lahir si bayi merasa kehilangan denyut cinta itu. Karenanya, kapan pun ia merasa rindu, si bayi mengeak keras.

Dan waktu terus berjalan, sang anak tumbuh besar. Tapi cerita cinta si ibu tidak pernah berhenti. Ketika seorang anak sudah lama disapih, sudah lupa bunyi detak irama cinta dari ‘alat musik’ jantung seorang ibu, si anak pun mulai tergerus kesadarannya akan cinta seorang ibu. Itu yang membuat seorang anak berani menantang ibunya. Semoga bukan karena tidak mampunya ibu membahasakan cinta pada seorang anak ketika si anak telah tumbuh. Karena bahasa cinta di setiap umur seorang anak itu berbeda-beda. Seorang ibu harus paham bahasa yang tepat untuk setiap usia.

Bahkan setelah remaja, seorang anak mulai memadu cinta ibunya. Tak masalah karena itu fitrah. Tapi saat nama lain mulai masuk ke hati, sering kali nama itu bersikap egois dengan berusaha menyingkirkan nama ibu yang sebelumnya ada di hati seorang anak. Tragis. Semoga bukan karena kedudukan cinta ibu di hati anak yang memang lemah. Seorang anak di dunia ini akan menemukan berbagai cinta, kalau ibu tidak mampu mengokohkan cintanya di hati seorang anak, maka cinta ibu itu rawan dikalahkan oleh cinta lain.

Bakti yang Agung Pada Manusia Penuh Cinta

Cinta. Menjadi alasan yang kuat kalau seorang muslim wajib menaati orang tuanya, terutama ibu. “Penuhilah hak ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i; diriwayatkan juga oleh Bukhari, kita adab; Thabrani; dan Al-Hakim). Kalau Rasulullah mengumpamakan surga berada di bawah telapak kaki ibu, lalu apa yang ada di kening seorang ibu? Cinta di jantung seorang ibu, surga di telapak kakinya.

Seorang hamba merindukan keridhoan Tuhannya. Ia lakukan amal-amal jawarih (amal anggota tubuh) dan nawafil (sunnah). Ia tahan kantuk di sepertiga akhir malam, ia tahan lapar di siang hari, dan bergegas ia ke masjid untuk ihtiromil waqtih (menghormati waktu) sholat wajib. Sudah sampai kah pada ridho Tuhannya? “Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi,Hakim). Kalau ia belum melakukan birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) sehingga orang tuanya ridho, amal-amal itu beserta kesusahannya belum membuat Allah swt ridho.

Keridhoan orang tua… padahal itu mudah. Karena cinta ibu pada anak tertanam kuat di jantungnya. Kesusahan mengandung, melahirkan, dan mengasuh adalah upaya menanam pondasi cinta sampai ke dasar jantung. Apa yang dapat meruntuhkan bangunan kokoh itu? Kedurhakaan!!

“Siapa yang membuat orang tuanya sedih, maka ia telah durhaka kepada keduanya.” (HR Bukhari)

Hamba itu ingin menyempurnakan usahanya. Ia tak mampu terus menerus sholat dan puasa sepanjang waktu. Tapi ada amal ruhbaniah/kependetaan (seperti pada hadits riwayat Ahmad) yang sebanding dengan terus menerus sholat dan puasa selama mengerjakan amal itu. Yaitu jihad. (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah). Hamba itu bersemangat kepada amalan itu. Adakah halangan?

“Aku ingin berangkat perang, dan aku datang untuk meminta nasihat Anda.” Kata seorang pemuda kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi bertanya, “Apakah Anda masih punya ibu?” Jawab pemuda itu, “Ya masih.” Nabi berkata “(Kalau begitu) pergilah, penuhilah kewajiban Anda untuk berbakti kepadanya, sebab surga itu berada di antara kedua kakinya.” (HR Hakim, shahih menurut beliau dan disepakati Adz-Dzahabi).

Ibu… wanita itu adalah manusia penuh cinta. Respon lah cinta itu karena surga dan keridhoan Allah bergantung dari bagaimana kita merespon cinta ibu.

Robirhamhuma kama robbayani sighoro. “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS 17:24)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS 46:15)

Zico Alviandri

,

Semangat Ibadah dan Masa Promo

SPG itu tersenyum manis. “Mau berlanganan AndalehTV pak? Lagi masa promo. Sebulan seratus ribu rupiah saja. Bisa nonton channel-channel dari luar negeri bahkan planet lain,” katanya.

Seseorang yang lewat di depan stand AndalehTV itu tertarik. “Kapan lagi bisa nonton banyak channel dengan modal cuma Rp 100.000,” pikirnya. Terjadi deal. Dan esoknya televisi orang tersebut telah terpenuhi puluhan saluran pilihan.

Lantas berselancar lah ia dari tayangan satu ke tayangan lain. Yang paling membuatnya terkesan adalah channel olahraga. Pertandingan-pertandingan langsung sepakbola dari liga sepakbola ternama di dunia bisa ia nikmati. Tak perlu ke luar negeri dan memesan tiket.

Namun, yang namanya masa promo, tentu ada jangka waktunya. Setelah tiga bulan, hanya channel lokal yang bisa ia akses. “Buat apa bayar kalo cuma nonton siaran stasiun lokal?” pikirnya.

Lalu ia menghubungi customer service AndalehTV. Jawaban petugas, kalau masih mau nonton saluran olahraga serta channel pilihan lain, harus membayar sampai Rp 300.000. Orang itu terlanjur ketagihan dengan siaran langsung sepakbola. Akhirnya ia bersedia membayar lebih. Asalkan masih bisa menikmati tayangan favoritnya.

Masa promo itu berhasil menggaet seorang pelanggan yang rela berkorban lebih setelah tahu bahwa ada manfaat yang bisa ia dapat.

*****

Sadarkah kita, dalam menyembah-Nya ada fenomena yang mirip dengan ilustrasi di atas?

“Al imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Itu lah prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada masa-masa rajin karena Allah memberi rasa semangat ke dalam jiwa. Beribadah begitu ringan. Kalbu terasa lapang dengan isak tangis di malam hari. Terasa melegakan lapar dahaga di siang hari. Manisnya iman dikecap. Cinta kepada Allah memenuhi dada.

Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya. Rasulullah saw mengajarkan umatnya doa berikut:  “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” (HR.Muslim)

Lalu, sebagaimana fitrah manusia, datanglah rasa bosan. Ibadah yang tadinya ringan, mulai terasa berat. Kiranya Allah tengah menguji orang yang telah merasakan nikmatnya beribadah itu dengan mood yang berkurang tak seperti kemarin.

Masih mau merasakan syahdunya sholat malam? Bisa, tapi tidak mudah. Indahnya kondisi jiwa ketika “masa promo” di saat hati sedang giat, mensyaratkan orang yang tengah futur itu harus melawan kantuk dan rasa malas demi kembali dapat rasakan sejuknya hati di kala sujud.

Mau kembali rasakan kelegaan di kala berlapar dahaga? Bisa, tapi tidak mudah. Saat hati tak seantusias kemarin, perlu perjuangan ekstra agar tetap menjalankan rutinitas shaum sunnah.

Tapi pilihan di tangan Anda. Bisa saja rasa malas itu dituruti. Kalau begitu, Anda membiarkan rasa manisnya beribadah yang telah Allah berikan tak terulang lagi. Memang ada gantinya. Kenikmatan duniawi berupa tidur yang nyenyak, rasa kenyang di hari yang terik, dsb.

Untuk jiwa yang sedang terliputi rasa bosan dan malas, coba kenang lagi lezatnya ibadah saat masa semangat. Yakin mau berhenti berlangganan indahnya taat kepada Allah?

Zico Alviandri

Simpul Waktu

Kehidupan adalah untaian tali waktu. Padanya terdapat simpul-simpul yang menyatukan potongan waktu yang satu dengan yang lain.

Simpul-simpul itu adalah titik terbaik bagi kita berdiri untuk memindai kembali potongan waktu yang telah berlalu, menelusuri kembali dengan rinci untuk menemukan apa yang harus kita mintakan ampunan, apa yang harus diperbaiki, atau yang harus ditingkatkan.

Mengamalkan nasihat Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a., “Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbanglah diri kamu sebelum kamu ditimbang dan bersiaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kamu barang satu pun.”

Simpul itu ada yang bernama pergantian tahun. Hijriah atau masehi, dua-duanya merupakan simpul yang menyatukan dua rentang waktu yang kita hidup di dalamnya. Air mata di malam pergantian tahun yang mengalir karena takut terhadap Dzat yang tak pantas kita berbuat lancang pada-Nya selama setahun belakangan, jauh lebih mulia daripada kembang api yang melukiskan pemandangan indah di langit gelap.

Simpul itu bisa juga bernama bulan. Simpul itu bisa bernama pekan. Bisa juga bernama hari. Jelang mata terlelap, melayangkan ingatan pada aktivitas seharian tadi, lalu memeriksanya dengan rinci kedurhakaan apa yang telah diperbuat kepada Allah swt.

Seorang sahabat dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah saw karena ada kebiasaan pada dirinya yakni melepaskan semua dengki dan dendam kepada sesama manusia sesaat sebelum tidur. Itu juga bagian dari muhasabah.

Yang lebih kecil lagi, simpul itu adalah waktu Ashar dan Shubuh. Di saat tersebut terjadi pergantian malaikat yang bertugas di bumi.

Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah saw bercerita. “Para Malaikat malam dan Malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat Fajar (Subuh) dan ‘Ashar. Kemudian Malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta’ala bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya), ‘Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu? ‘ Para Malaikat menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat’.” (HR Ahmad)

Pada simpul Ashar dan Shubuh, malaikat melaporkan amal manusia kepada Allah swt. Sehingga bagi orang yang senantiasa waspada terhadap dirinya, simpul itu menjadi tempat yang rutin ia duduki untuk merenungi apa yang telah ia kerjakan kurang lebih 12 jam lalu. Dua kali dalam sehari bermuhasabah.

Indahnya bila pada dua simpul dalam sehari itu kita termasuk orang yang dilaporkan oleh malaikat sedang melakukan ibadah dan termasuk yang dimintakan ampunan. Dan ideal sekali bila bisa mengisi tiap simpul waktu (hari, pekan, bulan, tahun, dll) dalam hidup dengan taubat dan amal sholeh.

Simpul yang paling akhir adalah kematian. Maka, sebagaimana pada simpul shubuh dan ashar, kita pun ingin berada di simpul itu sedang dalam melakukan kebaikan. Husnul khotimah. Ketika tak lagi diberi kesempatan bertaubat, semoga amal sholeh yang terakhir dikerjakan menjadi penggugur dosa sepanjang hayat.

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari)

Pada simpul waktu, mari bermuhasabah, bertaubat, dan mengisinya dengan hal yang baik.

Zico Alviandri

Dapatkah Kita Membalas Kebaikan Ibu

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”

Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, “Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).

Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat”, surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?”

“Masih ya Rasulullah” jawab laki-laki itu.

Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, “Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.”

Kemudian Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan al-Hakim).

Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyiba al-a’raaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu a’lam.

Ketika Masalah Datang Dari Semua Sisi

Alkisah seekor rusa betina sedang hamil tua.
Ketika mendekati detik-detik kelahirannya, rusa ini pergi ke suatu tempat yang jauh di sisi hutan yang berdekatan dengan sungai.

Tiba-tiba sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !

Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.

Ketika rusa ini menoleh ke kiri, tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya.

Saat menoleh ke kanan, ia pun terkejut melihat seekor singa lapar yang siap menerkamnya.

Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :

1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat ke sungai.

Bahaya mengancam dari berbagai penjuru dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.

Lalu apa yang harus ia lakukan?
Bersedih dan merintih?

Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari sementara kondisinya begitu lemah?
Atau menyerah pada keadaan?

Rusa pun pasrah. Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.

Lalu apa yang terjadi?

Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu. Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar. Singa malang itu mati seketika.

Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut.

Rusa pun melahirkan dengan selamat !

Pelajaran penting dari kisah ini adalah :
Mungkin kau pernah mengalami kondisi seperti rusa ini…

Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.

Masalah di tempat bekerja, masalah di dalam rumah, masalah di jalan, masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.

Seakan kau tidak bisa lagi berbuat apa-apa..

Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa. Biarkan semuanya berjalan apa adanya.

Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Lalu tinggalkan sisanya, karena disana ada Tuhan yang mengatur jalan kehidupanmu..

Sungguh ia lebih menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu pada anaknya.

Jangan sampai engkau kehilangan harapan dan keimananmu !

Dia lah yang akan menyelesaikan semua masalahmu dan menyembuhkan luka-lukamu.

ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Dia (Allah) mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS.Yunus:3)

Ingatlah selalu :

Jangan berkata, “Tuhan, aku memiliki masalah yang besar…”

Tapi katakan, “Hei masalah, aku memiliki Tuhan Yang Maha Besar !

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.”* (QS.Yusuf:21)

Semoga bermanfaat

Ummat Yang Rindukan Persatuan

Peristiwa 212 tahun 2016 lalu, mungkin hanya ‘sekadar’ pemantik. Hingga dua tahun berselang, Monas dan sekelilingnya masih dipadati oleh Ummat Muslim Indonesia pada tanggal 2 di bulan ke-12.

Bagi mereka yang sedari awal tidak 1 signal, berasumsi dengan berbagai dugaan.

Baik di tahun 2016 sampai 2018 saya belum pernah absen, dan Alhamdulillah dapat merangsek masuk ke ring 1 alias dekat dengan panggung. Jadi ketika berada disana tidak banyak tahu keadaan diluar yang ternyata peserta meluber keluar Monas.

Untuk tahun ini, saya datang agak kesiangan dan jadilah dapat merasakan bagaimana tertahan di stasiun Gondangdia selama setengah jam dengan ribuan orang yang bersholawat, meredam panik dan chaos. Tidak ada saling dorong, sikut, semua tertib bahkan saling menasihati, “Awas didepan tangga, lihat kebawah, persiapkan kartu KMT nya agar cepat”

Pun ketika memasuki area, para peserta tiada henti bersholawat dan sesekali diiringi Takbir.

Sepanjang perjalanan, saya berpikir betapa besar kecintaan mereka terhadap Islam. Peluh – penat terhalang semangat. Ya, Ummat Muslim Indonesia merindukan persatuan!

Anda tidak hanya akan meihat massa FPI, PKS maupun HTI. Tapi disana akan menemukan, beberapa pria gondrong bercat emas, para jawara yang mengkoleksi batu akik hampir diseluruh jemarinya. Atau malah anda akan bertemu ibu-ibu yang biasanya memberi sen ke kanan tapi belok ke kiri.

Berbagai rupa, penampilan dan karakter. Apatah lagi motif dan sikap mereka ketika berada di lapangan.

Yang meneriakan Prabowo, ada. Yang menyerukan ganti presiden juga ada. Tapi apakah lantas dapat dijadikan headline news bertajuk, “Reuni 212 adalah Ajang Politik Capres Tertentu” dengan tambahan, “Bermodal 20 miliar peserta dibayar perkepala 100rb”.

Terlalu kecil rasanya…

Ghiroh ummat tidak akan mampu dibayar seharga rupiah. Bahkan anda akan terkejut jika mengetahui peserta yang berasal dari Sumbar, alih-alih kecewa karena dilarang menyewa bus untuk keberangkatan ke Monas, mereka men-carter 3 pesawat!

Segenap dana, tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan itu hanya bertujuan agar dicatatnya mereka dalam jama’ah kebaikan.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi satu percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang berusia sekitar 6-7 tahunan yang berjalan tepat didepan saya. Ketika menuju area bersama ribuan orang yang berjalan bersama, “Bun masih jauh nggak? Aku capek” tanya si adik berjilbab imut. Bundanya menjawab, “Sebentar lagi kok… Sabar ya, nggak apa-apa di sini capek, tapi nanti di Surga nggak”

,

Jadikan Anak Lelaki Kita Sebagai Lelaki Sejati

Ayah Bunda mari rehat sejenak. Lihat anak-anak lelaki kita. Apakah mereka tumbuh di jalur lelaki yang sesungguhnya? Ataukah kita tak peduli, atau entah kurang peka dengan perkembangan karakter mereka sebagai lelaki. Sudah merasa aman? Merasa tenang? Atau kita tak peduli sama sekali?

Saya ingin mengingatkan banyak remaja dan pemuda (lelaki) di negeri ini yang ternyata tidak tumbuh dan menjadi pria sejati. Ada sebagian dari mereka yang hanya punya separuh jiwa lelaki. Ya, hanya separuh. Itu terlihat dari jiwa mereka yang miskin dari tanggung jawab dan seperti tak mau punya kaki sendiri. Uang jajan tinggal minta dan tinggal habiskan, kalau habis tinggal minta lagi. Jangankan mengurus tanggung jawab tentang orang lain, urusan diri sendiri pun minta orang lain yang bertanggung jawab. Kamar, pakaian, sepatu, tas, uang jajan, tinggal serahkan pada orang lain. Ada orang tua, ada pembantu, ada supir, ada yang lain-lain.

Saya kenal beberapa pemuda yang kuliah bertahun-tahun tak kunjung selesai, karena tak pernah merasa bertanggung jawab tentang kuliah. Bagi mereka menjadi anak SD atau mahasiswa sama saja; bermain. Dan orang tuanya pun membiarkan itu berlalu begitu saja.

Remaja lelaki yang hanya punya separuh jiwa, lelaki ini tak punya visi tentang masa depan, tak punya misi tentang hidup kecuali “ME & MYSELF”. Sekolah dan kuliah pun hanya untuk periuk nasi mereka saja. Punya karir bagus, uang banyak, dan istri cantik. Titik.

Jangan bandingkan mereka dengan Pangeran Diponegoro yang membuang kesempatan bertahta di Kerajaan Mataram, karena tak sudi jadi keset kompeni, dan melihat rakyat Jawa dan umat Muslim dikoyak-koyak kaum imperialis. Lalu memilih hidup dari hutan ke hutan, tinggal di Gua Selarong, dan memilih jalan hidup sebagai lelaki yang punya harga diri. Pada remaja dan pemuda yang hanya punya separuh jiwa lelaki ini, pengorbanan hidup untuk orang lain, apalagi untuk agama dan Tuhan mereka (Allah SWT). Impian terlalu mewah. Jangankan untuk menggapainya, untuk bermimpi pun mereka tak mau melakukannya.

Tapi ada sebagian lagi yang patut dikasihani justru hilang semua kelelakiannya. Mereka menjadi transgender, bencong, atau malah gay. Mereka ada di panggung dunia hiburan, panggung politik, bisnis, tapi hidup melawan kodrat lelaki. Ini kelompok lelaki yang paling sakit di dunia.

Tapi mari lihat diri kita Ayah Bunda, anak lelaki kita sakit dan menderita justru sebagian besar disebabkan oleh pola asuh dan pola didik di rumahnya. Ayah dan ibu-nyalah yang membuat anak-anak lelaki hilang kelelakiannya, baik separuh atau seluruhnya. Karena sebagaimana anak perempuan, tak ada anak lelaki yang dikodratkan lahir dengan pribadi yang cacat. Bapak dan ibunya yang membuat cacat kepribadiannya.

Dimulai dari para ayah yang jarang hadir dalam kehidupan anak lelaki selain untuk memarahi dan memukul, atau berdehem. Para ayah macam ini – dan jumlahnya masih amat banyak – merasa misi mereka sebagai ayah adalah memberikan fasilitas hidup pada anak lelaki, tapi bukan mengarahkan hidupnya.

Padahal dari ayah seharusnya anak lelaki belajar tentang kepemimpinan yang mengayomi (ri’ayah) pada keluarga, cara bersikap sebagai seorang lelaki, cara memperlakukan anak lelaki, dan bagaimana bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Tapi ayah itu banyak memberikan ruang hampa, selain uang dan barang yang menyenangkan sesaat.

Akhirnya pengasuhan anak-anak lelaki kita justru jatuh ke tangan perempuan. Mulai dari ibunya, guru-guru TK-nya, SD, SMP dan SMA, dominan perempuan. Padahal perempuan bukanlah lelaki dan lelaki bukanlah perempuan, fisik maupun jiwanya.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ
“…dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (TQS. Ali Imran: 36)

Meskipun mungkin tahu, tapi perempuan tak sepenuhnya paham bagaimana cara seharusnya lelaki berburu dan bertahan dari serangan musuh. Bagaimana dapat survive di alam liar. Karena jiwa perempuan adalah jiwa seorang ibu dan istri yang berbeda dengan kaum lelaki. Hormon testosteron lelaki itu 10-20 kali dari yang ada pada perempuan. Tapi dari pola asuh itu akhirnya banyak anak lelaki kita tidak tumbuh layaknya lelaki. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan separuh jiwa kelelakiannya.

Lelaki kadang perlu dihardik sebagaimana perlu dipuji. Kadang perlu dipukul sebagaimana perlu ditepuk bahunya. Lelaki harus lebih sering ditantang baru kemudian ditenangkan. Mereka perlu jatuh dan berdarah, dan bukan duduk menenun kain, atau menonton drama percintaan. Mereka perlu diyakinkan bahwa kegagalan itu harus diterima sebagaimana menerima keberhasilan. Menangisi kehidupan bagi lelaki itu perlu, tapi tak boleh melampaui kuota perempuan.

Tapi bagaimana anak lelaki kita akan punya jiwa lelaki sesungguhnya kalau ayah bundanya tak pernah menggambarkan seperti apa lelaki itu seharusnya. Ayah yang tak pernah hadir, dan kalau hadir pun hanya bisa memarahi dan memukul ketimbang menggambarkan visi dan misi hidup lelaki. Sedangkan ibunya merawatnya dengan dunia keperempuanan.

Maka, Ayah Bunda, jangan hanya duduk dan berdoa, tapi mulailah belajar mempersiapkan anak lelaki kita menjadi lelaki sejati. Belajarlah kepada Rasulullah SAW yang berhasil mencetak Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib, dll. Mencetak lelaki-lelaki sejati pengukir sejarah, pengharum pentas kehidupan di panggung dunia dan akhirat.

Oleh: Ustadz Iwan Januar

#SelamatkanKeluarga
#SaveTheFamily