,

Memaknai Kesuksesan

komunikasiAda sebuah pertanyaan klasik yang acap dilontarkan banyak orang, lalu pertanyaan yang sama juga ditujukan kepadaku dalam beberapa hari terakhir ini. Begini pertanyaanya, “Kang, bagaimana supaya kita menjadi orang sukses?”.

Sungguh sebuah pertanyaan dahsyat! Pertanyaan yang aku sendiri kerap menanyakannya kepada orang lain. Meski kadang disertai dengan embel-embel, “Bagaimana supaya menjadi orang yang sukses dalam mengendalikan emosi?”, “Bagaimana supaya menjadi orang yang sukses untuk bisa istiqomah mendirikan Tahajjud?”, dan pertanyaan serupa lainnya.

Sukses sendiri merupakan suatu hal yang abstrak, sama sekali tidak berwujud, sehingga setiap orang bisa berbeda dalam memaknai kesuksesan itu sendiri. Sederhananya begini, seorang perampok akan merasa sukses ketika sudah berhasil menggasak harta orang lain. Mereka akan bersenang-senang dengannya. Lalu bagaimana tindakan tersebut menurut kita? Ternyata justru kita menilai tindakan tersebut sangat tidak manusiawi, jahat, dan sebuah tindakan gagal sebagai seorang hamba Allah swt dalam mengekang nafsu keduaniawian. Ada persepsi yang berbeda dalam menilai tindakan tersebut kan? Itulah kesuksesan yang abstrak tadi.

Kesuksesan juga memiliki definisi berbeda dari contoh di atas, salah satunya disebutkan oleh Ariana Huffington, salah satu pendiri Huffington Post. Ariana mengatakan seperti ini, “Metrik kesuksesan tak cukup hanya uang dan kekuasaan. Harus ada metrik yang ketiga yaitu kesejahteraan, kebijaksanaan, mimpi, dan berderma,”. Pendapat lain tentang kesuksesan juga dikemukakan oleh Brian Tracy dalam Million Dollar Habits. Tracy mengungkapkan,“Sukses adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan Anda sesuai dengan apa yang Anda inginkan, melakukan apa yang paling ingin dinikmati, dikelilingi oleh orang-orang yang Anda senangi dan dihormati,”.

Pada umumnya, bisa jadi gambaran sukses yang ada dalam benak kita adalah sebuah gambaran sebagaimana yang diungkapkan oleh Tracy di atas. Gambaran yang mungkin sering ditautkan dengan slogan, “Muda foya-foya, tua bahagia, lalu mati masuk surga!”. Duhai, sebuah gambaran dan perencanaan yang teramat manis tentunya. Namun benarkah seperti itu? Ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, Sahabat. Orang-orang sukses dan berkecukupan banyak yang merasa dihantui oleh ketakutan akan kehilangan harta benda, bahkan sebagian di antaranya menjadi pribadi yang menyendiri dan bertingkah tak lazim.

Kesuksesan tak selamanya beriringan dengan kebahagiaan. Dennis Bradley Phillips, seorang Gitaris terkemuka yang pernah berkunjung ke berbagai negara untuk mempertontonkan kepiawaiannya memetik gitar, pada akhirnya merasakan kejenuhan yang dahsyat di dalam kegalmouran hidupnya. Ia merasakan popularitas dan kekayaan yang didapatnya tak sanggup memberinya ketentraman hati. Ia pun merenung dan menimbang, hingga pada akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam dan menjadi da’i hingga kini. Bila Sahabat menemukan nama Bilal Phillips di media sosial, itu dia orangnya.

Demikian juga dengan kesuksesan saat membuat orang merasa takut, tidak serta merta menjadi jaminan bahwa kita benar-benar sukses. Sebutlah nama Taki Takazawa. Saat dirinya menjadi bagian dari Yakuza, salah satu mafia di Jepang yang ditakuti, dirinya mendapat dukungan dan kewenangan khusus dari kelompoknya. Namun ia pada akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam, demi kedamaian yang hakiki, dan berganti nama menjadi Abdullah.

Banyak contoh lain yang sebelumnya dianggap sukses dengan banyaknya dukungan, kepemilikan jabatan, hingga harta yang bergelimang, pada akhirnya menjadi pribadi yang tak bahagia. Daniel Streich, mantan Anggota Partai Rakyat Swiss (SVP), dulunya penentang Islam nomor wahid di negaranya. Sosok anti Masjid. Ia pernah merasakan kesuksesannya dalam menggalang dukungan kaum Islamophobia atau para pembenci Islam di seluruh dunia untuk menentang pembangunan Masjid di negaranya. Namun itu tak jua yang membuat Streich pada akhirnya menemukan ketidaktenangan dalam hidupnya. Akhirnya, Streich memutuskan memeluk Islam.

Dari pendapat dan contoh-contoh di atas, sejatinya aku melihat bahwa pendapat Ariana Huffington, cukup merepresentasikan apa yang dinamakan dengan kesuksesan. Ariana memberikan garis bawah, bahwa sukses tak cukup hanya uang dan kekuasaan, namun orang sukses itu harus sejahtera dalam hidupnya, memiliki kebijaksanaan,  serta berderma kepada sesama.

Ariana tidak hanya menyoal soal materi (uang dan kekuasaan) untuk ukuran sebuah kesuksesan, namun juga mengimbanginya dengan kebijaksanaan dan derma, dimana dua metrik terakhir dari Ariana ini bisa dikategorikan menjadi keshalihan pribadi (kebijaksanaan), serta keshalihan sosial (derma), yang mana bila keduanya dilakukan, maka setiap pelakunya akan menemukan keseimbangan hidup.

Apa yang disampaikan Ariana Huffington terkait kesuksesan di atas akan lebih lengkap bila ditunjang dengan kesadaran, bahwa sukses tak semata soal dunia. Tapi sukses juga soal bagaimana kita meraih berkah dan ridho dari Allah swt, menjadi insan yang takwa dan disayangi Sang Maha Pencipta. Hidup menjadi pengajar dan pengamal Al Qur’an, serta memiliki nilai manfaat bagi sesama. Itulah sebaik-baik manusia, dan sebuah definisi sukses ala Nabi saw.

Barangkali, makna kesuksesan lain yang saya suka adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar ra adalah melalui do’a beliau yang satu ini, ”Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku, bukan masuk ke dalam hatiku.”

So, karena bila materi sudah masuk ke dalam hati lalu kita merasa cemas, resah, dan takut, sebanyak apapun itu, apalah artinya? (*)

Bagaimana Islam Memperlakukan Pengungsi

Pengungsi PalestinaDiantara problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat internasional adalah migrasi penduduk, dari negara dunia ketiga ke negara dunia pertama dan kedua. Mereka datang sebagai orang yang terusir dari negerinya dan seringkali menjadi warga negara kelas dua ditempat yang baru.
Bagaimana cara kita menangani para pengungsi dengan pendekatan yang lebih manusiawi? Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan :

Pertama, Mengikat Persaudaraan

Begitulah yang dilakukan oleh rasulullah, yaitu mempersaudarakan antara kaum muhajirin dengan kaum anshor. Meskipun datang dengan tidak membawa harta benda, namun kaum muhajirin tidak ditempatkan di kamp pengungsian karena sudah diikat sebagai saudara dengan kaum anshor.
Alhasil arus migrasi penduduk dari satu negara ke negara lain tidak menjadi beban APBN/APBD, karena mereka sudah berasimilasi dengan penduduk lokal. Para pedagang yang menyebarkan Islam dimasa lalu juga memakai pola ini. Dengan sedikit kebijakan keimigrasian, hal ini pun masih bisa diterapkan dimasa sekarang.

Kedua, Mendayagunakan Keahliannya

Itulah yang dilakukan oleh rasulullah kepada para tawanan perang badar. Bagi tawanan yang tidak ditebus, diharuskan untuk mengajari baca tulis kepada ahlul madinah.

Negara yang menerima arus pengungsi memang harus jeli dalam melihat dan mendayagunakan keahlian dari para pengungsi. Pasti ada permata yang terserak diantara arus besar pengungsi. Mungkin ada yang ahli dalam bidang pendidikan, olahraga, seni dan budaya bahkan ilmu pengetahuan.

Bukankah Albert Einstein adalah permata yang diusir dari negaranya?

Ketiga, Program Padat Karya

Itulah kebijakan rasulullah kepada penduduk Khaibar. Mereka diijinkan berada di khaibar untuk mengolah tanah dan akhirnya bisa memberikan pemasukan besar kepada baitul maal.

Para pengungsi ditempatkan pada satu titik geografi tertentu untuk dikaryakan dibawah pengawasan negara. Bisa dengan sistem bagi hasil maupun dipekerjakan. Hal ini membutuh kejelian dari pimpinan BAPPENAS/BAPPEDA dalam menganalisa area dan program pendukungnya.

Khatimah

Sebagian besar negara memandang persoalan pengungsi sebagai beban. Dengan sedikit kreativitas, sebuah negara bisa menjadikan para pengungsi sebagai tambahan energi dan sumber daya untuk memajukan negerinya.

Sebagai Sahabat

Beberapa pekan yang lalu, saya Dinas Luar. Untuk mengisi waktu malam, saya dan kawan saya, Ronny, menyempatkan diri untuk menonton sebuah film; Umar. Tiba di sebuah episode dimana Kafir Quraisy mengatakan “Muhammad dan Sahabatnya melakukan ini dan itu”. Kemudian saya berfikir, apa makna dari kata “Sahabat”.

Saya tidak paham benar dengan bahasa arab. Hanya tahu sedikit saja. Akhirnya, saya bertanya pada kawan, adik kelas saya; Fajri. Panjang sekali pembahasasnnya. Saya sampaikan kalimat yang ia sampaikan via Whatsapp.

“Kata Ibnu Faris di Kitab Maqoyishul Luhgah: Shad, Ha, Ba merupakan akar kata yang menunjukkan makna ‘menyertai dan mendekati sesuatu’. Shahabat berasal dari fiil shahiba yang mashdarnya shubhah. Shubhah secaa bahasa berlaku siapapun yang menyertai seseorang sebentar atau pun lama. Imam As Sakhawi dalam Fathul Mughits Syarah Al fiyyatil Hadits, salah satu rujukan dalam ilmu mushthalah berkata “Shahabi secara bahasa berlaku bagi siapa saja yang pernah “bersama” Nabi walau hanya sesaat, apa lagi klw lama kebersamaannya dan bnyk kumpul brsama.

Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad, mendefinisikan sahabat sebagai siapa pun yang pernah “melihat” Nabi dalam keadaan mukmin dan wafat dlm keimanan. Namun, kata-kata “melihat” kurang disetujui ulama lain karena kurang detail. Beberap sahabat yang buta bagaimana? Makanya lebih detail pakai kata “bertemu”. Tentu sama sekali tidak dimaksudkan Imam Ahmad tidak menganggap Ibnu Ummi Maktum, misalnya, sebagai shbt. Lalu, Di Al Quran ada satu sahabat yang benar benar Allah khususkan dan tegaskan status sahabatnya, Yaitu Qs 9:40. Tentu tidak asing siapa yg dimaksud. Makna “membersamai” itu juga yang ditegaskan Al Quran Qs 48:29, Ma’a.

Setelah penjelasan itu, saya membuat kata kunci sahabat yakni “Menyertai, mendekati, membersamai.” “ada yang kurang akh?” saya bertanya. Beliau menjawab, “Berjumpa. Kan dfinisinya scr istilah Liqo (berjumpa/bertemu).”

Shahabat tentu bukan kata baru pada zaman Rasulullah. Ia bukan istilah khusus yang muncul karena datangnya Rasul. Dengan demikian, pemilihan kata “Shahabat” tentu memiliki arti yang mendalam.

Dalamnya kata Sahabat itu juga harus diimplementasikan dalam aktivis dakwah yang berjamaah. Bahasan Qiyadah Wal Jundiyah juga harus ditambah dengan bahasan Sahabat. Sebab, dalam setiap langkahnya, aktivis dakwah sebisa mungkin mencontoh Rasul dan Pasukannya serta Rasul dan Sahabatnya.

Pemisahan Rasul dan Sahabat dengan Rasul dan Pasukannya akan menjadikan gerakan dakwah menjadi timpang. Mengapa demikian? Sebab tugas Pimpinan adalah mengatur, sedang tugas bawahan adalah taat. Sementara Rasul saw tidak selalu demikian. Jelas dalam shiroh, ada candaan dalam perjalanan, sebagaimana mashur candaan Rasul dan Ali tentang makan Kurma.

Rasul dan Sahabat. Mereka bertemu. Mereka menyertai. Mereka bersama-sama. Rasul tidak elitis. Sahabat mengenal Rasul dengan baik. Tidak pernah ada istilah “Rasul sibuk” sehingga tidak bisa bertemu dengan para sahabat.

Efek sahabat ini panjang. Sebab dari kebersamaan muncul kepercayaan; trust. Bertemu dengan pimpinan organisasi menjadi mutlak, walaupun hanya sekali dua kali melihat. Sebab sahabat berarti melihat baik lama maupun sebentar. Lebih dari sekedar melihat adalah berjumpa. Sahabat adalah berjumpa. Maka, menjadi sahabat harus berjumpa. Lebih dari itu adalah menyertai. Yang lebih lagi dari itu adalah membersamai.

Lalu, bagaimana mungkin menjadi sahabat bagi Qiyadah kalau yang pertama saja tidak terlaksana? Melihat saja tidak pernah, bagaimana mungkin membersamai. Maka, mereka yang tidak pernah melihat satu kali pun Qiyadah mereka, tidak akan pernah menjadi Sahabat Qiyadah.

Inward Looking. Pernahkah kita berjumpa dengan para bawahan kita dan menjadikannya sahabat?

@wdinawan

Wawan Dinawan

Luqman, Ayah Yang Inspirasional

Kalau ada sesosok ayah yang namanya terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya. Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya, kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya mendidik Luqman Al-Hakim?

Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun begitu, ia mendapat gelar “Al-Hakim” karena kebijaksanaannya. Dan Allah swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji””. (QS Luqman : 12)

Perhatikan petuah tentang syukur darinya. Bila Luqman adalah seorang bangsawan, wajar kalau ia senantiasa bersyukur. Tapi posisinya hanya sebagai budak, dan itu pun ia mampu memahami syukur lebih baik daripada orang yang memiliki kedudukan jauh lebih baik darinya. Keadaan seperti itu tak akan dimiliki kecuali oleh orang yang bisa menyerap hikmah pada setiap keadaan yang dirasakannya.

Cerita tentang Luqman ada pada ayat 12 sampai 19. Dibuka dengan pengenalan terhadap Luqman sebagai orang yang telah diberi hikmah. Sebagai garansi bahwa apa yang diajarkannya adalah ajaran yang luhur. Tujuh ayat petuah Luqman pada anaknya terdiri dari 3 ayat perintah (ayat 14, 17, 19) dan 3 ayat larangan (ayat 13, 15, 18). Tiga ayat pertama berbicara tentang aqidah, tiga ayat terakhir berbicara tentang ubudiyah, dakwah, dan akhlaq. Di tengah-tengahnya adalah ayat yang berpesan untuk senantiasa muroqobatullah. Ayat pertama yang bercerita tentang pengajaran Luqman pada anaknya (ayat 12), disebutkan “wa huwa ya’izhuh”. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.

“Ya bunayya…” Begitu panggilan lembut Luqman pada anaknya. Sudah seharusnya seorang ayah memiliki kata-kata yang spesial buat anaknya yang mencerminkan betapa dalam kasih sang ayah kepada anak. Kata-kata yang memiliki muatan cinta dapat melunakkan hati. Sedangkan kata-kata yang terkesan menyepelekan bisa memantik api permusuhan sang anak pada orang tuanya. Sapaan “Eh… tong…” adalah panggilan yang menjauh dari ajaran kasih sayang Luqman. Bila kita tidak ingin anak kita berkata “cih..” pada kita, maka menjauhlah dari panggilan yang merendahkan si anak.

Hati yang dibuka dengan cinta, siap dijejalkan ajaran aqidah yang mendasar. Ajaran aqidah harus meresap dalam hati sang anak. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah hati yang lembut. Sedangkan hati yang keras hanya mementalkan setiap petuah yang datang. Aqidah adalah ajaran yang pertama-tama Rasulullah sampaikan pada umat manusia di awal kenabiannya. Aqidah lah tema yang Rasulullah perintahkan pada Muadz bin Jabal r.a. untuk diajarkan pada penduduk Yaman. Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi SAW mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berkata kepadanya: “Engkau akan mendatangi orang-orang dari kaum Yahudi dan Nasrani. Maka hal pertama yang harus engkau dakwahkan kepada mereka adalah bahwa mereka hanya beribadah kepada Allah saja.” (Muttafaq Alaih)

Setelah si anak memiliki pemahaman tentang aqidah, maka kesadaran muroqobatullah akan mudah dibangkitkan. Karena ia tahu bahwa wajar apabila Allah senantiasa mengawasinya. Tetapi bila sang anak tak mengenal Allah dengan baik dan kemudian sudah dikenalkan dengan muroqobatullah, mungkin ia akan berfikir “Ada urusan apa Allah mengawasi saya?” Wal’iyadzu billah.

Kesadaran akan pengawasan Allah ini lah yang bisa membuat sholatnya ihsan, tak takut untuk beramar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa berakhlaqul karimah di tengah manusia.

Apa yang diajarkan Luqman ini berhubungan dengan ayat lain di dalam surat yang sama. Larangan Luqman pada anaknya agar tidak menyekutukan Allah (ayat 13), bersinggungan dengan ayat ke-11. Luqman berkata bahwa orang yang menyekutukan Allah itu adalah orang yang zhalim. Secara bahasa, azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Syirik disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya, menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah, atau melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah. Dan pada ayat ke-11 Allah menantang orang-orang yang zhalim itu agar memperlihatkan apa yang telah diciptakan oleh sembahan-Nya.

Luqman melarang sang anak agar tidak mentaati orang tua apabila mengajak dan memaksa menyekutukan Allah (ayat 15). Sedangkan pada ayat 21 Allah bercerita tentang keadaan orang yang jauh dari apa yang diajarkan Luqman pada anaknya, yaitu tentang orang yang mengikuti ajaran nenek moyang mereka yang turun menurun padahal syetan menyeru mereka ke neraka melalui ajaran itu.

Cerita tentang Luqman ini mungkin hanya sedikit di singgung dalam Al-Qur’an, tetapi kita bisa mengambil pelajaran yang dalam. Kita semua bisa mengambil hikmah pelajaran dari sedikit cerita ini, mengembangkannya sesuai dengan kondisi yang masing-masing kita alami. Jadilah ayah yang hebat seperti Luqman. Kriterianya bukan lah ayah yang jagoan, ayah yang pintar masak, ayah yang ternama di masyarakat, tetapi ayah yang kata-katanya bisa membekas pada hati sang anak dan ayah yang memilih materi yang tepat untuk diajarkan pada anaknya. Allahua’lam bish-showab.

 

Zico Alviandri