Avengers dan Waktu yang Tak Bisa Kembali

Serial Kea, Adi, Dilan, Eja, dan Tera. (Lima karakter muda PKS)

“Mau ikut nobar Endgame tapi belum pernah nonton Avengers?”

Eja mengangguk. “Boleh kan?” tanyanya.

“Mendingan jangan, deh. Nanti kamu bingung. Banyak gak nyambung.”

“Plis dong, Tera. Resiko aku deh kalau gak ngerti.”

Tera menarik nafas panjang. Badannya dihempas ke belakang menyandar ke punggung kursi. “Aku sih gak ngelarang kamu, Eja. Tapi kasian kamunya. Udah keluar uang tapi cuma bengong selama 3 jam. Gini deh, mumpung 2 hari lagi, kamu nonton dulu film Avengers dari awal.”

“Ada berapa film yang harus aku tonton?”

“Dua puluh dua film!!! Mulai dari Iron Man tahun 2008. Makanya, mending gak usah nonton sama sekali.” Kali ini Adi menyela obrolan. Ia duduk dua baris di belakang Eja dan Tera yang sedang berbincang di tengah kelas, menanti kehadiran dosen mata kuliah Fisika Dasar.

“Haaah??? Mana cukup dua hari.” Eja histeris.

“Pake mesin waktunya Avengers, sana. Balik ke tahun 2008.” celetuk Adi.

“Ya, gak harus semuanya sih. Setidaknya ada empat. The Avengers, Avengers: Age of Ultron, Thor: Ragnarok, sama Ant-Man and The Wasp.” Tera memberi alternatif.

“Tapi aku gak punya filmnya,” kata Eja sembari membetulkan kacamatanya yang agak melorot, yang menghias mukanya yang bulat dengan pipi tembem itu.

“Aku punya. Aku copy dulu ke flashdisk ya,” ujar Adi disambut senyum sumringah Eja. Ia senang, akhirnya ada solusi agar tetap bisa menikmati film yang sedang ramai diperbincangkan itu. Sementara Tera bergumam, “dasar, tukang bajakan.”

“Ah… ga perlu nonton juga, urang teh udah tau gimana akhir ceritanya.” Dadang yang duduk di samping Adi ikut masuk ke dalam obrolan. Badannya condong ke depan dengan kedua tangan dilipat di atas kursi di depannya. Bangku-bangku di baris antara Tera dan Adi sedang kosong, makanya mereka leluasa berbincang.

“Mau spoiler? Halah… Aku gak percaya kata-kata kamu, Dang,” jawab Tera.

“Nih… Dengerin cek urang! Thanos mati dipenggal Thor. Terus Hulk mengembalikan Avengers yang mati pake infinty stones. Setelah Avengers komplit lagi, kemudian mereka menghadapi Dajjal yang sudah muncul di muka bumi ini.”

“Halaaah… kok ada Dajjalnya segala.” Tera melempar kertas yang diremas-remas menjadi bola ke muka Dadang. Kesal. Dadang pun sigap menghindar.

“Ngaco Dadang. Kalo mau denger spoiler, sekalian nih gw ceritain. Jadi nanti Kapten Marvel menyelamatkan Iron Man. Lalu Thanos dan Kapten Marvel pun menikah, dan mereka hidup bahagia selamanya,” ujar Adi.

“Eja, pindah yuk. Di sini pada jayus jayus.” Tera berdiri merapikan barang-barangnya di meja, menyandangkan tasnya, lalu pindah ke sayap kiri kelas. Diikuti Eja yang tertawa kecil. “Hayoloo…” ujarnya berbisik kepada Adi dan Dadang yang sedang kebingungan dengan Tera yang mendadak baperan.

***

Sekitar sepuluh langkah lagi, Eja akan sampai di depan pintu rumahnya. Ia berjalan antusias. Tak sabar segera bertemu adik bungsunya yang berumur 10 tahun.

“Kak, kawan-kawan ngobrolin film Avengers. Ceritain dong, itu film apa?” Terbayang obrolan antara ia dan adiknya beberapa hari lalu. “Katanya ada mesin waktu juga ya yang bisa bikin kita kembali ke masa lalu?”

Eja sendiri bukan orang yang gemar menonton film. Ia lebih suka membaca buku. Film Harry Potter yang tayang beberapa episode, tak ada yang ditontonnya langsung di bioskop. Ia hanya menikmati dari novel.

Memang ada versi komik Avengers. Tapi Eja tak pernah membacanya satu pun. Maka itu, ketika Edi, si bungsu minta diceritakan, Eja tak bisa memenuhi.

“Duh… Kakak juga belum pernah nonton, dek. Nanti ya kakak nonton filmnya dulu,” jawab Eja kala itu.

Edi mengangguk. Pandangannya kosong. Karena memang ia seorang penyandang tuna netra sejak lahir.

Di TPA tempat Edi belajar hafalan Qur’an, ia sering mendengar teman-temannya membincangkan sebuah film. Maka kepada kakak-kakaknya lah ia meminta agar dikisahkan. Karena ia tak mampu menyaksikan langsung film-film itu.

Tak jarang Eja membeli boneka tokoh utama sebuah cerita, agar Edi bisa meraba sendiri bentuknya. Si bungsu tentu senang bukan kepalang. Imajinasinya terbantu dengan boneka itu. Seperti boneka Thomas si kereta api, boneka Ipin Upin, atau Nusa dan Rara.

Eja juga berencana akan membelikan action figur para Avengers, dengan mencicil satu persatu. Ia sangat sayang kepada adiknya. Apa pun akan dilakukan demi kebahagiaan si bungsu, penyandang disabilitas.

Eja tiba di depan pintu rumah, berpapasan dengan adiknya yang hendak menuju ke musholla. Ba’da ashar adalah jadwal Edi belajar tahfizh dibimbing kak Rizki. Uluran tangan kecil Edi menyambut Eja. Salim, berpamitan untuk berangkat ke TPA ditemani bude Tati.

*****
Telepon berdering menyelingi suara percakapan tokoh-tokoh di film The Avengers. Eja menggerakkan tetikus untuk memencet tombol pause pada tayangan yang tampil di layar laptop di hadapannya. Lalu menjawab panggilan.

“Wa’alaikumussalam. Ya Allah, Kea. Maaf. Aku lupa ngabarin kalau aku gak bisa ikut tahsin hari ini. Maaf ya Kea,” suara Eja. Ia merasa bersalah. Baru pertemuan kedua sudah absen. Padahal kemarin-kemarin ia antusias sekali minta dicarikan guru tahsin (untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an) kepada Kea teman sekelasnya yang sholehah itu, karena malu kepada adiknya yang sudah mengoleksi belasan juz hafalan Qur’an.

Setelah pembicaraan berakhir, ia lanjutkan film tersebut. Dan baru selesai ditonton ba’da isya’ karena diselingi sholat maghrib, makan malam, dan aktivitas lainnya.

Eja mengetuk pintu kamar Edi dengan antusias. Tak sabar untuk menceritakan semua yang ia lihat.

Pintu dibuka. Dan Eja segera masuk untuk kemudian duduk di tepi ranjang Edi.

“Sini dek, kakak mau ceritain film Avengers. Kakak udah selesai nonton,” ujarnya.

“Kak, sekarang jadwal aku muroja’ah hafalan Qur’an,” jawab Edi.

“Yah… Nanti kakak keburu lupa ceritanya.”

“Mmm.. Gimana ya kak. Tadi kak Rizki ngasih taushiyah. Dia bilang, di film Avengers ada mesin waktu yang bisa mengantar orang ke masa lalu. Tapi itu kan khayalan. Di kehidupan sebenarnya, waktu yang sudah lewat itu gak bisa dikembalikan, kak. Sehingga kita harus memanfaatkan waktu untuk kebaikan. Daripada menyesal di akhirat nanti karena amal kita yang sedikit.”

“Kak,” Edi masih bicara. “Aku pengen hidupku untuk akhirat. Aku pengen banyakin amal, biar di akhirat nanti aku gak buta dan bisa melihat keindahan surga. Kuncinya, kata kak Rizki, aku gak boleh menyia-nyiakan waktu. Jadi, sekarang aku mau muroja’ah aja ya, kak. Lebih penting akhirat daripada Avengers,” pinta Edi.

Hati Eja bergemuruh. Kemudian bahunya pun bergetar. Lalu kedua tangannya menutupi muka, basah oleh air mata yang mengalir deras.

“Kakak nangis? Kenapa? Maaf ya kak,” ujar Edi yang mendengar suara sesengukan. Ia berjalan mendekat ke arah Eja. Tangannya mencari wajah kakaknya untuk mengusap air mata.

“Gak apa-apa dek. Terima kasih udah nasehatin kakak. Kakak nyesel tadi gak ikut tahsin demi nonton Avengers.”

“Oh… Jangan sedih, kak. Kata kak Rizki, walau pun waktu gak bisa dikembalikan, tapi kita bisa menghapus keburukan dengan taubat dan perbuatan baik.”

“Iya dek… Insya Allah.” Eja memeluk adiknya erat.

Zico Alviandri

UJIAN TAK BERJEDA

Belum kokoh rumah saudaraku di Lombok, belum kering air mata di pipi..
Jerit tangis kehilangan nyawa, bergaung mengiris hati karena gelimpangan jasad tergerus arus Tsunami di Palu-Donggala..
.
Tak lama berjeda tanah Madura, Bali digoncangkan pula..
.
Apa salah kami?
Apa salah Ibu Pertiwi?
.
Terlalu banyak khilaf dan salah yang ku tutup-tutupi, aib yang terpampang nyata tapi sengaja dibutakan nafsu hewani..
.
Dan kini ujian sebenarnya di uji, gejolak keimanan dalam dada dibombardir oleh kelakuan oknum yang berniatkan suci..
Menjaga keutuhan NKRI..
.
Tak peduli apa maksud dan niat dalam hatimu wahai para bedebah!
.
Kalimat tauhid yang kau bakar itu..
Adalah kalimat pertama yang didengungkan Ayahku ketika aku lahir ke bumi..
.
Kalimat pertama yang orang tua dan guruku ajarkan sebagai tanda keimanan dan sahnya sholat kami..
.
Dan ketika anakku lahir kelak, kalimat tauhid itu pula yang diperdengarkan pertama kali ke gendang telinganya..
.
Dan kau tahu?
.
Kalimat tauhid itu yang akan menyelamatkanku dari api neraka jahannam, ketika nafas telah di ujung tenggorakanku dan malaikat maut siap menjemput..
.
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah..
Laailaaha ilallah muhammadarrasulullah..
.
Muĥammad:19 – Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Ida Ayu

Bandung, 25 Oktober 2018

ORANG YANG LEBIH KAYA DARI BILL GATES

By Andrie Wongso

Di kerumunan beberapa teman, pengagum dan wartawan, ada seseorang yang bertanya kepada Bill Gates, “Bill, walaupun semua orang tahu bahwa Anda adalah orang terkaya di dunia ini. Menurut Anda sendiri, adakah orang yang lebih kaya dari Anda, Bill?”

Di saat semua orang terperangah dengan pertanyaan itu, sambil matanya menerawang jauh, Bill Gates menjawab, “Ada. Hanya satu orang”. Jawaban yang mengejutkan semua orang di situ.

Begini kisahnya, lanjut Bill Gates.

“Bertahun-tahun yang lalu, waktu saya miskin, tidak punya uang sekadar untuk menyiapkan makan malam pun. Saya pergi ke bandara New York, melihat keramaian orang di sana dan membaca surat kabar yang digelar di sana, sekadar ingin mendapatkan lowongan pekerjaan. Sebenarnya, saya ingin membeli suat kabar itu tetapi ternyata koin saya tidak cukup. Saat menghitung koin itulah, tiba-tiba seorang anak kulit hitam memanggilku dan mengatakan,’Koran ini untuk Anda’.”

“Dengan sedikit malu saya berkata, ‘Tetapi koin saya tidak cukup.”

“Dia berkata , ‘Tidak masalah, saya memberikan kepada Anda, gratis!’”

“Setelah tiga bulan, saya pergi lagi ke bandara New York. Secara kebetulan cerita itu terjadi lagi, anak berkulit hitam yang sama, untuk yang kedua kali.”

“Lalu ia berkata, ‘Ambillah, tidak apa-apa. Saya akan memberimu keuntungan dari apa yang telah saya lakukan’.”

“Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa, setelah lewat 19 tahun, dan dari hasil perjuangan keras, saya sudah kaya raya. Saya memutuskan untuk mencari dan menemukan si anak kulit hitam penjual koran waktu itu. Saya menyadari bahwa saya pernah ‘berhutang’ kepadanya, setidaknya dua eksemplar surat kabar yang sangat berarti bagi saya. Ternyata dia sudah tidak ada di bandara New York menjual koran lagi.”

“Saya terus berusaha dengan berbagai upaya. Setelah satu setengah bulan mencarinya, akhirnya saya menemukannya. Masih dengan senyum yang sama, saya menatap senang dan bertanya kepadanya, ‘Hai bro, kenal saya?’

Dengan takjub dan suara terbata dia menjawab, ‘Iya, Anda sangat terkenal, namamu Bill Gates’.”

“Saya bilang, ‘Beberapa tahun yang lalu, kamu memberiku surat kabar gratis sebanyak dua kali. Sekarang, saya ingin membalas budi yang telah diberikan. Silahkan sebut barang apa saja, saya akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Biarkan hutangku lunas dan saya akan senang sekali mengabulkan’.”

“Sesaat pemuda kulit hitam itu mengingat dan tertawa sambil menjawab:, ‘Hahaha….Tentu saja Anda tidak bisa mengimbangiku!’”

“Saya bertanya, ‘Kenapa?’ Dia berkata, ‘Karena saya memberi Anda ketika saya miskin, sedangkan Anda ingin memberi saya ketika Anda jaya. Jadi bagaimana Anda bisa mengimbangiku?’”

Bill Gates bilang, “Saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dari situ. Bahkan setelah saya dinyatakan sebagai orang terkaya di dunia pun, hutang itu tak pernah bisa terlunaskan. Kurasa pria kulit hitam itu lebih kaya dariku.”

“Sekarang saya memiliki kesadaran baru, bahwa kita tidak harus menunggu kaya untuk memberi, karena sejatinya, adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. (Winston Churchill)

”Kita hidup dari apa-apa yang kita peroleh, tapi kita menciptakan kehidupan dari apa-yang kita beri.”

Nasehat Nan Indah dari Kepala Sekolah

Ibu, anaknya di pesantren? Bagus!
Sering menerima keluhan anak, setiap kali berkunjung atau menerima telepon, sampai waktu kunjungan yang diberikan pesantren habis hanya untuk mendengar serentetan masalah yang dialami anak anak kita.
Saya ucapkan, selamat! karena ibu masih dipercaya sama anak.

Loh? Tenang, begini penjelasannya.
Bagi orang tua, memasukan anak ke pesantren mungkin sebuah prestise, ada kebanggaan tersendiri saat berhasil memasukan ke sini,ibu mungkin merasa aman,apalagi di pesantren semuanya terjamin!

Makannya, kesehatanya, ibadahnya, dan yang paling penting, PERGAULAN.
Sebagian besar orangtua memasukan anaknya ke boarding school karena alasan terakhir ini.

Di tengah hiruk pikuk kota kota besar, pergaulan kawula muda yang sudah melampui batas, pacaran, narkoba, tawuran, free sex, LGBT, sampai pembunuhan di kalangan remaja!
Ngeri bu! Bahkan hanya sekadar dibayangkan,
Makanya saat ini pesantren dipercaya menjadi alternative untuk mengamankan anak anak kita.

Itu versi kita loh!
Bagaimana dengan anak kita,
Pernah bertanya, apa yang dirasakan?
Atau sekadar bersabar mendengarkan keluh kesah mereka selama disini?

Kalau anda tipe pendengar yang baik, Anda hebat! 4 jempol buat Anda, tapi tak banyak orangtua yang seperti ini, kadang yang mereka kejar hanya capaian-capaian yang mungkin malah jadi beban buat mereka.

Saya sering bilang sama orangtua, “bu sekolah di pesantren itu capek!banget!
Bayangkan, Sebelum shubuh mereka bangun, mandi, sholat, ngaji, setelah itu makan, bersih bersih kamar, nyiapin buku,tugas,dll, lalu, belajar sampai siang, lanjut ekskul, sorenya ngaji lagi, malamnya kegiatan keagamaan , sampai menjelang tidur, dan semuanya dilakukan sendiri, catet, SENDIRI!

Bisa dibayangkan bagaimana capeknya bocah bocah kecil ini melakukan semua aktivitas ini, dan itu seharian, padahal bisa jadi sebelum masuk pesantren, semuanya diterima secara instan.

Bu, Banyak goncangan yang anak kita rasakan, belum gesekan yang mereka alami dengan sesama teman.
Huff! berat, sangat berat!

Maka pekan kunjungan, adalah masa yang dinanti, agar beban dan sampah yang selama ini disimpan, bisa dibuang, lalu jiwa yang lelah itu bisa segar kembali untuk dua pekan berikutnya.
maka jangan abaikan hak kunjungan ini.

Tanya, “Nak, mamah ingin dengar cerita kamu selama dua minggu ini?”

Setelah itu, duduk, dengar, berikan empati saat anak mengeluh, tunjukan antusias dan rasa bangga saat mereka menyampaikan raihan raihan selama di pesantren, setelah itu apresiasi !

Dengarkan dengan tuntas, jangan dipotong. Kalau ada yang keliru, sampaikan nanti saja, saat anak tuntas mengeluarkan sampah jiwanya, lalu rangkul bahunya, peluk dengan erat, sambil membayangkan bagaimana beratnya beban selama di pesantren, setelah itu berikan nasihat nasihat ringan yang menyejukan, bisa sambil makan, ngemil, liat trotoar atau kebun teh di ciater, bebas, yang penting mereka happy.

Kalau pun ibu tidak bisa berkunjung karena kesibukan, jauh, dsb.
telepon mereka, lalu gunakan waktu sejam yang diberikan, untuk mereka. Selanjutnya lakukan langkah di atas.

Kalau anak ibu tipe pendiam, belikan diary, suruh tulis apapun yang dirasakan, lalu kirimkan melalui wali asramanya, bisa di screen shoot, di foto, atau dikirim lewat pos seperti tahun 90an dulu.

Lakukan itu secara konsisten, setidaknya, jiwa mereka tidak bimbang, tak ada perasaan dibuang, karena kanal komunikasi utama mereka masih terhubung.
Lalu temukan keajaiban di kunjungan berikutnya,

Oke, selamat berkunjung di kunjungan regular pekan ini.

Salman Awaludin
(Kepala Asrama SMPIT Assyifa Boarding School Wanareja Subang )