Cinta dan Benci

0
286

cinta jadi kata tanpa benda hanya terasa tapi dahsyat

Bila kita menyemai bibit cinta, sesungguhnya kita menyemai pohon kehidupan. Dan kehidupan itu tumbuh dulu di diri kita. sebaliknya bila kita menyemai bibit kebencian, sesungguhnya kita menyemai kematian. Dan sebelum kematian yang lain, jiwa kitalah yang terlebih dahulu mengehembuskan nafasnya.

Orang-orang yang saling mencintai melihat kekurangan sebagai peluang baginya untuk menjadi pecinta sejati. Ia tidak akan patah arang tersebab kekurangan tersebut, justeru dengan kekurangan itulah ujian cinta sedang berlaku padanya. Berbeda dengan mereka yang cintanya berwaktu berketika, baginya kekurangan adalah alasan yang tepat untuk mengurangi kadar cintanya. Walaupun sebetulnya bukan karena muncul kekurangan lalu cintanya menyusut, tapi karena cinta yang menyusutlah yang menyebabkan kekurangan bermunculan.

Demikian pula mereka yang memenuhi rongga dadanya dengan kebencian, bagi mereka tidak ada ruang untuk mentolerir kekurangan, sebab kelebihan pun mereka tenggelamkan. Mereka menutup mata dan hatinya dengan sisi kebaikan orang lain, sehingga tiap kali mereka melihat kebaikan lahir, dalam pandangan mereka tetap berupa keburukan. Bagi mereka ini – yang merawat kebencian di hatinya – tidak ada hari yang cerah, sebab seterik apa pun matahari selalu ditutupi awan hitam yang berarak di dalam jiwanya.

Dalam sejarah umat manusia para nabi adalah manusia yang tanpa jeda merawat cinta di dalam dirinya. Dengan berbekal cinta mereka temui manusia-manusia dari berbagai latar belakang, dan dengan bermodal cinta mereka hadapi manusia dengan berbagai tipikal. Sebetulnya bukan mereka saja yang menjaga cinta, cinta pun menjaga mereka. Karena itu bila mereka bersua dengan orang-orang yang membalas seruannya dengan kebencian, mereka tetap menghembuskan angin cinta. Sebab di hati mereka hanya ada satu pohon yang tumbuh, itulah pohon cinta.

Dan bila ada manusia yang menyimpan kebencian, yakinilah kebencian sejatinya tidak tumbuh begitu saja. Pasti ada yang mengantarkannya dan bersamai di hati manusia tersebut, dan yang menghembuskannya itu siapa lagi kalau bukan Iblis. Iblislah pemegang utama saham kebencian dan membagi-bagikannya pada umat manusia. Itulah kenapa sebenci-bencinya manusia tetap ada ruang yang menunjukkan bahwa dia orang berasal dari kemah cinta. Seperti luluhnya kebencian Firun ketika istrinya mengatakan, “Kita peliharalah bayi ini,” maksudnya Musa kecil yang dihanyutkan ibunya.

Cinta dan benci dua hal yang tidak akan pernah mau dimadu di ruang jiwa kita. Sebab yang satu akan mengantar ke langit kemuliaan, sedangkan satunya lagi akan menceburkan ke kubangan kehinaan.

“Ummati, ummati..” demikian nabi berujar dari ketinggian cintanya.

Wamdi Jihadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here