“Inni Akhofu ‘Alaikum”

Itu adalah kalimat para Nabi kepada ummatnya. Diucapkan untuk menakut-nakuti akan datangnya adzab dari Tuhan bila kedurhakaan diteruskan.

Diucapkan oleh Syu’aib kepada penduduk Madyan. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin muhith”. Aku mengkhawatirkan kalian akan azab hari yang membinasakan. (QS Huud: 84)

Diucapkan oleh Hud kepada kaum ‘Ad. “Inni akhofu ‘alaikum ‘adzaba yaumin ‘azhim.” Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (QS Ahqaaf: 21)

Bahkan diucapkan oleh seorang anggota keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya, kepada Fir’aun dan antek-anteknya. “Inni akhofu ‘alaikum mitsla yaumil ahzab.” Aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. “Inni akhofu ‘alaikum yaumat tanad”. Aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil (QS Al Mu’min 30 & 32)

Para Nabi dan da’i berkata begitu ketika kaumnya belum mengetahui bencana apa yang akan tiba. Sehingga orang-orang yang kafir meremehkan ancaman itu. Kata mereka: “… Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al Ahqaaf: 22)

Lantas bagaimana dengan manusia di zaman sekarang, khususnya di negeri kita, yang telah mengetahui bahwa potensi gempa dan tsunami mengepung penjuru Nusantara?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk: 16)

Setengah tugas da’i telah diwakili oleh para ilmuwan yang mengabari umat manusia akan ancaman bencana. Maka para du’at harus melengkapinya dengan mengingatkan bahwa bencana itu bisa terwujud lebih cepat, atau bisa lebih mengerikan dari yang diprediksi, akibat adanya kemungkaran di muka bumi.

Menakut-nakuti adalah sunnah para Rasul. Karena memang manusia tak pernah aman dengan kemurkaan-Nya.

Ada jenis adzab yang khusus menimpa orang yang zhalim saja. Ketika itu, orang-orang mukmin telah dievakuasi lebih dahulu dari lokasi yang akan terjadi bencana. Sebagaimana Allah menyelamatkan para nabi dan pengikutnya.

Tetapi ada adzab yang menimpa tak hanya orang zhalim saja.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Mungkin terbetik pikiran, toh manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amal yang diperbuat. Sehingga bila kita sholeh lalu menjadi korban bencana, tetap saja di akhirat akan selamat.

Sebagaimana hadits berikut: Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (kedalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (Aisyah) berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?” Beliau menjawab “Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.” (Muttafaq alaih)

Tetapi andai bisa memilih, lebih baik wafat dengan keadaan yang normal tanpa melihat atau merasakan bencana dahsyat yang mengerikan. Karena Rasulullah berlindung dari hal tersebut.

“Dari Abul Yasar ia berkata, ‘Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepada-Mu dari campur tangan syetan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepada-Mu dari meninggal karena tersengat hewan beracun’” (HR. al-Nasa’i).

Namun kiranya adzab tak hanya berupa bencana alam. Ketika kemaksiatan merajalela, maka sudah menjadi sunnatullah akan terjadi bencana sosial. Hal ini juga harus diwanti-wanti oleh para du’at. Mungkin belum ada angin topan, mungkin belum ada gempa, banjir, dsb. Tetapi penyakit masyarakat akan merajalela.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak mengalaminya:

Tidaklah perzinaan dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, sampai dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,

Tidaklah mereka berlaku curang dalam takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, krisis ekonomi, dan kezaliman penguasa atas mereka.

Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali hujan akan ditahan sehingga tidak turun, dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan biarkan musuh dari luar menguasai mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak menerapkan hukum al-Qur’an dan menerapkan kebaikan yang telah Allah turukan (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan mereka saling berrmusuhan .” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pertanyaannya, apakah bencana jenis apa yang telah menimpa negara ini? Bencana alam saja kah? Bencana sosial saja kah? Atau dua-duanya.

Zico Alviandri

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *