Jendela Virtual Keluarga Itu Bernama Media Sosial

0
369

pernikahan adalah akad untuk saling mencintai menghormati dan menghargai

Kita semua mengetahui dan pernah melihat jendela. Di rumah kita, di kamar kita, hampir selalu ada jendela, bahkan jumlahnya bisa lebih banyak dari jumlah penghuninya. Sangat banyak manfaat jendela, di antaranya adalah untuk ventilasi, namun juga sarana interaksi dan komunikasi. Mengapa bisa menjadi sarana interaksi dan komunikasi? Coba perhatikan perilaku tetangga atau teman kita, bahkan mungkin perilaku kita sendiri.

Saat di dalam kamar mendengar suara tukang baso keliling, dengan cepat membuka jendela dan memesan baso lewat jendela. Ini contoh fungsi jendela sebagai sarana interaksi dan komunikasi. Dengan jendela, begitu mudah kita bisa melihat dunia di luar kita. Kamar kita terlalu sempit namun menjadi luas karena memiliki banyak jendela. Selain itu, jendela juga bermakna akses, yang menghubungkan kita dari satu ruang ke ruang lainnya. Lewat jendela kita bisa melihat dan mengetahui aktivitas orang lain. Mengenal kepribadian orang lain.

Sumber gambar: pinterest.com
Sumber gambar: pinterest.com

Jendela Virtual

Pada zaman kita hidup saat ini, jendela bukan hanya terbuat dari kayu atau besi yang terpasang di rumah kita. Namun yang lebih dekat lagi adalah jendela virtual yang tergenggam di tangan kita masing-masing. Jendela yang selalu kita bawa ke mana-mana. Jendela yang menyita sebagian waktu kita. Berada di dalam smartphone dan gadget kita. Sangat dekat bahkan melekat dengan diri kita di mana pun kita berada. Itulah yang saya maksudkan sebagai jendela virtual. Jendela yang tidak berbentuk fisik.

Semua fitur komunikasi kita adalah jendela. WhatsApp, Line, Facebook, Instagram, Telegram, web, blog dan lain sebagainya adalah jendela. Fitur-fitur itu membuka bahkan menelanjangi diri kita. Semua tentang diri kita bisa dibaca dan diketahui pihak lainnya. Sebagaimana kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang orang lainnya. Tanpa sadar, kita telah membuka bagian-bagian dari kehidupan kita untuk kita sharing secara sangat terbuka. Bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sangat sosial, sepertinya aneka fitur komunikasi ini memang sangat pas.

Sebagai contoh sederhana, saya belum pernah ketemu Mas Jody, pemilik akun @jody_waroeng di Instagram. Beliau adalah pengusaha kuliner yang sangat terkenal di Indonesia. Walaupun sama-sama tinggal di Yogyakarta, saya belum pernah bertemu muka dengan beliau. Padahal saya sekeluarga pelanggan setia Waroeng Steak milik beliau yang sangat lezat, juga Bebek Goreng Pak Slamet di Yogyakarta yang menjadi salah satu usaha beliau.

Namun syukurlah beliau membuka jendela. Melalui Instagram, saya mengetahui bahwa Mas Jody memiliki hobi olahraga fitnes, hobi motor gede dan hobi silaturahmi. Saya menjadi tahu bahwa Mas Jody sejak sekolah SMU sudah biasa naik motor dari Solo ke Surabaya, bolak-balik. Bahkan beliau menyatakan bahwa lebih baik tidak punya mobil daripada tidak punya motor. Beliau memang pecinta motor, dan sering melakukan touring bersama komunitas teman-teman beliau. Melalui Instagram, saya jadi mengenal dan hafal wajahnya. Moga suatu ketika ada kesempatan bertemu beliau.

Demikian pula Mas Saptuari, pemiliki aku @saptuari di Instagram. Beliau saat ini sangat terkenal di Indonesia melalui berbagai gerakan “Kembali Ke Titik Nol”. Saya belum pernah bertemu beliau walaupun sama-sama tinggal di Yogyakarta. Alhamdulillah saya bisa mengenal ciri fisiknya yang akan memudahkan saya mengenalinya jika suatu ketika bertemu muka. Saya bisa mengetahui berbagai kesibukannya, bahkan bayi mungilnya. Semua bisa saya akses lewat jendela Instagram.

Saya juga menjadi merasa dekat dengan tokoh-tokoh hebat seperti Dik Ustadz Salim A. Fillah, Mbak Helvy Tiana Rosa, Mbak Asma Nadia melalui akun Instagram mereka. Saya menjadi mengerti kegiatan, kesibukan, pemikiran, dan sepak terjang para tokoh inspiratif tersebut melalui jendela virtual. Setiap hari serasa bertemu tokoh hebat, dan bisa memberi saya inspirasi dan motivasi untuk selalu berbuat, bekerja, berkarya, melakukan hal terbaik yang saya bisa, bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan peradaban dunia.

Kita juga dengan mudah dan leluasa melihat ketegaran dan kerapuhan seseorang melalui media sosial mereka. Banyak orang menulis kepahitan, kesengsaraan, kepedihan, dengan bahasa yang melow, yang menandakan kerapuhan dan ketidaktegaran menghadapi persoalan kehidupan. Saya miris membaca status di Facebook yang berisi caci-maki, sumpah serapah, kata-kata hujatan dan celaan yang diarahkan kepada pasangan, atau kepada pacar, atau kepada mantan pacar. Saya sedih membaca status orang di Instagram yang mengharu-biru, bercerita secara galau dan melow. Betapa rapuh jiwa mereka, mengekspos kesedihan dengan semena-mena tanpa menyadari bahwa tulisan itu bisa dibaca oleh masyarakat seluruh dunia.

Sebaliknya kita juga sering membaca status di Facebook, kalimat-kalimat motivasi, kisah penuh inspirasi, yang memberikan penguatan kebaikan bagi pembaca. Ingatlah selalu, Anda adalah apa yang Anda tulis di media sosial. Semua dari kita memiliki jendela untuk melihat dunia lain, dan mendapatkan keterpengaruhan dari pihak lain. Bisa positif, bisa negatif. Jendela ini mengajak kita mengerti beragam corak manusia, dan beragam isi dunia. Maka, betapa penting filter nilai dalam diri kita untuk bisa bersikap secara bijak, tepat dan dewasa, ke arah mana jendela kita buka.

Beginilah corak perkenalan dan persahabatan manusia di zaman cyber. Sekarang kembali kepada kita: untuk apa itu semua? Jika untuk tujuan kebaikan, insyaallah akan mendatangkan kebaikan pula. Namun jika untuk tujuan yang jahat, pasti akan membawa mudharat. Maka tanya kepada diri sendiri. Untuk apa itu semua?

www.7pedia.net
www.7pedia.net

Jendela Dan Keluarga

Jendela virtual ini telah membawa sejumlah dampak dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Berbagai hal bisa “masuk dan keluar” melalui jendela virtual. Ada dampak yang bisa positif dan bisa pula negatif, tergantung bagaimana menyikapi itu semua. Maka hendaknya semua keluarga pandai bersikap secara bijak terhadap fenomena zaman cyber saat ini.

Semua anak kita memiliki banyak jendela untuk melongok dunia yang sangat luas tanpa batas. Mereka bisa mengeksplorasi informasi —dari yang positif sampai yang negatif—- dengan sangat mudah tanpa ada kendala. Jendela ini menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak kita apabila mereka tidak memiliki fondasi nilai-nilai yang harus dijadikan pegangan dan rujukan. Jendela tersebut bisa memasukkan racun yang sangat berbahaya dalam jiwa, pikiran dan hati anak-anak kita, apabila mereka tidak mengerti nilai-nilai yang harus dipegangi.

Pada saat yang sama, jendela itu juga membuat mereka menjadi pandai, cerdas dan mengenal banyak kebaikan. Mengaji, belajar agama, mendapatkan motivasi dan inspirasi kebaikan, karena tinggal membuka jendela yang ada dalam genggamannya. Jendela ajaib yang bisa membuat mereka mengerti dunia apa saja, tinggal membuka. Fondasi keimanan akan menuntun anak-anak membuka jendela pada arah yang baik dan benar, serta menutup jendela pada arah yang jahat dan munkar. Orang tua harus bijak menerapkan standar dan aturan bagi anak-anak, saat mereka mulai memiliki jendela virtual ini.

Demikian pula dalam relasi suami-istri. Jendela ini bisa membuat suami dan istri terhubung terus-menerus tanpa henti. Walau terpisah jarak yang jauh serta waktu yang lama, namun dengan membuka jendela virtual dalam genggamannya, segera mereka bisa terhubung kembali. Dua puluh empat jam sehari semalam, bisa terus menengok, melongok, melihat dan mengamati pasangan, walau sedang tidak bersamaan. Kita bisa mengetahui apakah pasangan kita sedang online atau tidak, kita juga bisa mengetahui jam berapakah pasangan kita mengakses WA terakhir kali. Semua tidak bisa disembunyikan.

Dalam konteks yang negatif, suami dan istri bisa melihat dunia para mantan, melalui jendela virtual tersebut. Suami dan istri bisa mendapatkan keasyikan sendiri-sendiri, membuka jendela sendiri-sendiri, akhirnya saling menjauh satu dengan yang lain. Jendela mereka berdua saling terbuka, namun menghadap kepada pihak yang berbeda. Suami tidak terhubung dengan istri, karena jendela mereka tidak saling terbuka menghadap pasangan. Justru jendela masing-masing terbuka ke arah yang berbeda. Dari sini mereka mulai saling menjauh dan bahkan bisa semakin jauh apabila tidak segera menyadari situasinya.

Ingat, jendela Anda buka ke mana? Untuk apa? Hendaknya Anda buka jendela anda hanya untuk menghubungkan Anda dengan hal-hal yang positif dan konstruktif bagi kebaikan diri dan keluarga. Jangan biarkan virus, penyakit, marabahaya, bencana dan musibah masuk ke dalam keluarga melalui jendela yang selalu anda buka tanpa ada filter yang anda pasang di dalamnya.

Jendela Anda, adalah jati diri Anda!

 

https://www.instagram.com/p/BJmF-jZhe9K/?r=wp1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here