Jilid II Badai PKS

0
409

Saya Muslim2

Setelah momen pemilu 2014 silam. Seyogyanya banyak yang berharap (baca: tidak suka) dengan keberadaan eksitensi “partai peduli” ini untuk hidup dan berkembang di bumi pertiwi ini. Namun, berkat kekokohan kader dan kedekatan rabbaniyah, alhamdulillah PKS bisa keluar dari sumur kegelapan itu.  Di sela-sela badai itu, Anis Mata mengatakan,” mintalah fatwa kepada hatimu.”

Bukan PKS namanya. Jika hanya melenggang dengan mudah ke gelanggang demokrasi. Kini,
PKS pun diuji oleh ” kebimbangan”. Reformasi yang telah diperjuangkan menjadi dereformasi. Usia reformasi 17 tahun lebih menjadi suram. Terbengkalai oleh kelalaian popularitas dan bagi- bagi kue kekuasaan. Akhirnya amanat rakyat terbengkalai. Trias politik dalam kehidupan rumah NKRI menjadi hidup tak segan, mati pun tak mau. Amanat reformasi dikhianti.

Ujian Sesungguhnya

Lalu, PKS sebagai partai oposisi kebatilan, pengusung keadilan diuji dalam badai yang lebih besar. Bukan kasak-kusuk internal. Namun, topan demokrasi yang menyebabkan huru- hara negeri yang harus didamaikan dan disejahterakan.

Olehnya itu, sudah selayaknya, PKS yang terlahirkan dari rahim reformasi, PKS harus berlari dan melampaui  badai itu. Salah satunya dengan cara merebut kepemimpinan lewat pilkada maupun sektor-sektor lembaga negara. Dan hal tersebut bisa, seperti kata Chrisye:

tak kuasa
ku memandang dikau matahari
kini semua bukan milikku
musim itu telah berlalu
matahari segera berganti
badai pasti berlalu

Inspirasi lain, Tere Liye dalam novel Negeri  diujung tanduk, telah memberikan cerita menarik akan sejuta konspirasi antara hak dan batil. Dan apakah PKS akan berhasil dalam mempertahankan identitas dan integritas sebagai partai oposisi kebatilan. Atau keluar sebagai the champion guna mempersembahkan karya terbaik bagi nusa bangsa?

Tentunya bisa. Sejak awal, PKS berkiprah dengan tekad ” peduli, bersih dan profesional” kemudian bermetamorfosis ” cinta, kerja dan harmoni”. Dan sekarang lebih vulgar dng ” berkhidmat utk rakyat”. Semua itu bukanlah hal yang sederhana.

PKS butuh keseimbangan

Seperti Tuhan menciptakan siang dan malam. Pasang dan surut. Perempuan dan laki-laki. Itu semua agar manusia berpikir tentang kebesaran Tuhan dibalik ciptaanNya. Semua itu tentunya bermuara pada aspek keseimbangan. Senada dengan PKS yang telah menasbihkan arah perjuangannya ke politik. Maka, keseimbangan itu mesti terjaga.
Keseimbangan antara fikrah dan amal. Keseimbangan antara nilai-nilai perjuangan (baca: tarbiyah) dengan demokrasi yang sedang merayap,mandul mencari jati diri. Disitulah PKS diuji. *kita ada karena tarbiyah, untuk Indonesia kami ada.

*ambon,15/2
By Nasir; Relawan Literalisasi Maluku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here