Karena Keluargamu, Keluargaku, Adalah Keluarga Kita

0
239

yuk menikah

Siang itu, Nina memutuskan untuk pergi ke salah seorang tante suaminya, yang kebetulan akan pergi naik haji. Sendirian sepulang mengajar, tanpa anak dan suami. Karena saat itu suaminya sedang dinas ke luar kota. Memang jadi repot, karena tidak membawa kendaraan pribadi. Jadi kudu naik turun angkot. Mau naik taksi, Nina si emak irit mikir seribu kali 😀 Tak apalah, itung-itung jalan-jalan saja. Sampai di lokasi, si tante surpes. Karena Nina selama ini belum pernah ke rumahnya sendirian, naik angkutan umum pula. Untunglah tak nyasar kemana-mana. Bincang-bincang ringan, sambil memamitkan sang suami, yang mohon izin tidak bisa ‘kurmat’ untuk tantenya yang mau naik haji. Lepas magrib, Nina pulang. Sendirian lagi.

Sabtu sore itu, Nano dan anak-anak bersiap-siap pergi ke puncak. Ada acara kumpul-kumpul keluarga besar, menginap semalam di sana. Bukan keluarga besarnya, tapi keluarga besar Nina, istrinya. Jauh-jauh hari Nina sudah berpamitan pada keluarga besarnya karena ada tugas luar kota. Kebetulan Nano dan anak-anak sedang tidak ada acara lain, jadi mereka yang datang mewakili. Tentu saja di sana (katanya sih) ada saja yang bertanya, “Lha, ini anak-anak ibunya kemana?”

Dijawablah apa adanya, karena memang sudah berpamitan tapi mungkin tak semua menyimak dengan cerna. Kadang ada yang sedikit ngeledek juga. Tak apa.

Nina dan Nano sedang berupaya, mewujudkan nasehat para tetua. Bahwa pernikahan sejatinya adalah menyatukan keluarga besar. Tak ada lagi dikotomi, ini keluargaku, itu keluargamu. Semuanya menjadi ‘ini keluarga kita’. Maka, jika ada acara atau undangan dari pihak keluarga Nina atau Nano, tak perlu lagi diributkan siapa yang harus datang. “Ini kan acara keluargamu, masak aku yang datang”, tak ada lagi kalimat seperti itu. Siapa yang sedang memiliki waktu lebih luang, dialah yang datang. Sukur-sukur dua-duanya, Nina dan Nano, bisa datang. Meski kadang malah dua-duanya nggak bisa datang, sehingga terpaksa berpamitan. Namanya masih belajar, ya kadang ada lupanya juga.

“Aku menikah denganmu, maka aku menjadi bagian dari keluargamu”, begitulah kira-kira janji Nina maupun Nano. Janji yang semoga tetap terus bisa ditepati hingga ajal menjemput diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here