Kemana Perginya Rasa Cinta?

0
468

Doa untuk anak

Sangatta pecah pagi itu, 9 Desember lalu warga dibuat geger… Ada bayi menggenaskan dibuang ke sungai… Bukannya mendapat kehangatan belaian dari sang ibu, bayi perempuan yang diperkirakan baru saja dilahirkan tersebut justru ditemukan dalam kondisi tewas mengenaskan. Ya, bayi yang masih memiliki tali pusar tersebut ditemukan warga mengambang dan terbungkus dalam kantong plastik di sekitar dermaga ponton (perahu penyebrangan) di desa Sangatta Selatan, Sontak penemuan jasad bayi tersebut langsung menghebohkan warga sekitar.

Jumat 4 November siang itu, sebuah tas ransel hitam tergeletak di semak di dasar jurang yang tingginya sekitar 6 meter, persis di jalan Pangeran Suryanata Samarinda. Sepasang suami istri yang melintas, melihat kondisi tas masih bagus, Suwaji (51) dan Andis (31) jadi curiga. Apa lagi tas tersebut dikerumuni lalat. Penasaran, Suwaji turun ke jurang, bertepatan dengan waktu shalat Jumat.

Suwaji semakin mendekati tas itu. Tercium bau aroma menyengat dan lalat yang semakin banyak. Suwaji semakin penasaran dan buru-buru membuka tas. Sementara Suwaji memeriksa isi tas, Andis mengamati dari turap semen di atas jurang. Mata Suwaji langsung terbelalak. Ternyata bau busuk berasal dari jasad bayi berjenis kelamin laki-laki.

Mayat bayi berada di dasar tas dan ditutupi jarik serta lampin (kain pembungkus bayi baru lahir) dengan posisi terlentang dan leher menekuk ke bawah. Saat itu tubuh bayi montok itu sudah menghitam, mengenakan baju dan celana putih mermotif dinosaurus dengan dominasi corak kuning. Tangan dan kaki bayi juga terbungkus rapi. Astaqfirullah…

Oktober lalu tepatnya 26 Oktober di Bontang pun mendadak ramai, ditemukan sesosok bayi dalam kardus, tergeletak di halaman rumah seorang warga bernama Kusnan, di Jalan Tomat 5, RT 44 Kelurahan Gunung Elai, Bontang, kemarin pukul 05.00 Wita. Bayi berjenis kelamin perempuan itu memiliki berat 3,3 kilogram dengan panjang 50 sentimeter A.

Saat ditemukan, kondisinya lemah. Di wajahnya tampak darah yang masih segar. Di kardus juga terdapat kantong plastik hitam berisi ari-ari yang masih basah, seolah-olah menunjukkan jika dia baru dilahirkan. Meski demikian, bayi tersebut tetap berselimutkan dua lembar kain putih dan kuning.

Jika kita melihat 3 kejadian berturut-turut dalam beberapa bulan kemarin di Kaltim tentu sangat memprihatinkan. Bagaimana kesadaran peran seorang ibu kini? Buah hati yang seharusnya didekap penuh kehangatan ketika ia ditakdirkan hadir di dunia, malah mendapatkan perlakukan sadis dari seorang ibu. Sudah semakin terkikiskah rasa kasih dan sayang direlung hati seorang ibu? Padahal janji sang Kholiq sangat indah untuk ketulusan dan cinta ibu yang sesungguhnya tanpa batas ini…

Sungguh, betapa tragis apa yang terjadi saat ini terhadap anak-anak yang ada disekitar kita. Pembunuhan anak, pembuangan bayi tak berdosa dan kekerasan pada anak menjadi berita yang semakin akrab tiap hari kita saksikan di media. Astaqfirullah… Lalu  bagaimana agar anak-anak kita yang seharusnya memperoleh segudang kasih sayang dan cinta, dapat terhindar dari tindak kekerasan? Baik yang dilakukan oleh orang terdekat maupun orang tak dikenal? Berikut beberapa hal penting untuk menghindari tindak kekerasan pada anak:

1. Karena anak mempunyai hak perlindungan, pendidikan dan nafkah yang sama sekali tidak boleh diabaikan, oleh para orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sabda Nabi besar kita, “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang dipimpinnya itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Karena anak mempunyai hak hidup. Ayah dan ibu tidak boleh merenggut hidup anak, apalagi dengan membunuhnya. Ketentuan ini berlaku untuk anak laki-laki maupun wanita. Seperti pesan cinta Allah SWT kepada kita bahwa :”Jangan kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut kelaparan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka maupun kepadamu; sesungguhnya membunuh mereka suatu dosa besar.” (al-Isra’: 31)

Karena dorongan untuk berbuat yang mungkar ini ada kalanya soal ekonomi, misainya karena takut kelaparan dan kemiskinan, atau alasan non-ekonomis.

Rasulullah saw. pernah ditanya: dosa apakah yang teramat besar? Jawab Nabi: yaitu engkau menyekutukan Allah padahal Dialah yang menjadikan kamu. Kemudian apa lagi? Maka jawabnya: yaitu engkau bunuh anakmu lantaran kamu takut dia makan bersamamu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Untuk menghindari kekerasan pada anak, sebisa mungkin orangtua tidak menitipkan anak pada orang yang tak bertanggungjawab. Meskipun hanya keluar sebentar, sebaiknya tidak meninggalkan anak begitu saja dengan tetangga yang kita tak terlalu tahu baik/ buruk perangainya. Upayakan anak bersama dengan orang-orang yang kita yakini kebaikan akhlaknya.

4. Sadarilah bahwa yang disebut tindak kekerasan bukan hanya yang bersifat fisik! Mungkin kita tak pernah memukul, mencubit, atau menjewer anak-anak kita, tapi ketika kita mengatakan bahwa mereka bodoh, mengucapkan kata makian terhadap mereka yang bernada hinaan atau meremehkan, bahkan menyengaja membuat mereka kelaparan, tidak memberi pengobatan ketika anak jatuh sakit, sebenarnya hal-hal tersebut juga masuk dalam kategori tindak kekerasan.

Sungguh dengan banyaknya kejadian pembuangan bayi tak berdosa dan kekerasan pada anak disekitar kita, semoga kita para orangtua mampu mengambil pelajaran untuk menjaga amanah anak dengan sebaik-baiknya. (*)

Oleh : Bunda Muthi’ Masfu’ah
(Ketua Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila)

#RelawanLiterasiKaltim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here