Kompetensi Relawan Konselor Keluarga

0
180

kerja amanah keluarga sakinah

Cahyadi Takariawan

Makalah untuk Pembekalan Relawan Konselor Keluarga RKI (Rumah Keluarga Indonesia), Sabtu 20 Agustus 2016, di Hotel Bintang Fajar Yogyakarta

Siapapun bisa menjadi relawan sosial, yang bekerja di tengah masyarakat untuk membantu kesulitan orang lain. Mereka bergerak atas dasar kesadaran dan kepedulian untuk berbagi, bukan karena imbalan materi. Termasuk di antaranya adalah menjadi Relawan Konselor Keluarga, yang untuk memudahkan penyebutan, saya singkat dengan istilah Reselga.

Pada dasarnya para Reselga ini tidak memerlukan kualifikasi pendidikan khusus, karena memang sifat kegiatannya murni sosial, bukan profesional. Meskipun demikian, ada beberapa kualifikasi atau kompetensi standar personal yang perlu digunakan untuk menemukan sosok Reselga di tengah denyut kehidupan masyarakat. Siapakah yang layak dan tepat untuk menjadi Reselga? Hal ini karena peran membantu orang lain dalam persoalan hidup keluarga, tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Namun harus dilakukan dengan landasan ilmu dan pengetahuan yang memadai.

Paling tidak ada enam kompetensi pada diri seorang Reselga, sebagai berikut.

www.thewellint.org
www.thewellint.org
  • Kompetensi Spiritual

Secara spiritual, para Reselga diharapkan meluruskan dan menguatkan motivasi diri dalam melaksanakan perannya.

  • Meniatkan kegiatan pelayanan dalam kerangka ibadah

Sebagai insan beriman, hendaknya para Reselga meniatkan pelayanan yang dilakukan dalam kerangka ibadah. Motivasi seperti ini akan menjaga diri Reselga agar selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan. Bahwa yang dilakukan adalah ibadah kepada Allah, sehingga harus menguatkan keikhlasan dalam beramal. Oleh karena itu tidak dibenarkan terjadinya pelanggaran atau kemaksiatan dalam melakukan kegiatan konseling. Semua harus dalam koridor yang dibenarkan oleh ajaran agama, sehingga niat ibadah bisa terjaga.

  • Menguatkan kesadaran Ketuhanan dalam pelayanan

Hendaknya para Reselga menguatkan kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyah) dalam kegiatan pelayanan konseling. Membantu kesulitan orang lain, meringankan beban klien, mengurus kesusahan dan kesedihan, menguatkan motivasi dan semangat kebaikan dalam kehidupan klien, semua adalah pelaksanaan dari tuntunan Allah dan Nabi Saw. Seluruh aktivitas pelayanan konseling yang menguras waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, hendaknya dibingkai dalam kesadaran Ketuhanan yang utuh, agar memiliki nilai bagi diri Reselga, baik di dunia hingga akhirat.

www.opencollege.com
www.opencollege.com
  • Kompetensi Moral

Secara moral, ada beberapa hal mendasar yang perlu ada pada diri relawan konselor keluarga.

  • Memiliki kehidupan pribadi dan keluarga yang positif dan layak menjadi teladan kebaikan

Selayaknya konselor bisa memberikan contoh teladan kebaikan dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Tidak perlu orang sempurna karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun harus ada kesadaran dan kesediaan untuk terus menerus membina dan memperbaiki diri maupun keluarga agar layak dicontoh dan menjadi teladan.

  • Mengarahkan klien kepada nilai-nilai positif

Konselor tidaklah bebas nilai, yang boleh mengarahkan klien semau-maunya tanpa ada rambu dan norma. Konselor harus mengarahkan dan memotivasi klien kepada nilai-nilai positif dan konstruktif untuk kebaikan hidup dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, konselor tidak boleh mengarahkan klien untuk melakukan hal yang negatif dan destruktif, yang melanggar ajaran agama, hukum negara, serta nilai kepatutan dan kesopanan yang berlaku di tengah masyarakat.

  • Selalu berpegang kepada etika konseling

Para Reselga harus selalu berusaha menetapi etika konseling. Salah satu etika yang sangat berat bagi konselor adalah menjaga rahasia klien. Maka konselor tidak boleh “ember” atau suka menceritakan masalah kepada orang lain. Jika seseorang suka dan mudah menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya, maka ia tidak cocok menjadi konselor, karena ada etika konseling yang sangat ketat dalam hal menjaga rahasia serta kenyamanan klien.

www.thewellint.org
www.thewellint.org
  • Kompetensi Intelektual

Secara akademis atau intelektual, para Reselga diharapkan memiliki dasar-dasar pengetahuan tentang konseling.

  • Menguasai landasan dan kerangka teoritik layanan Reselga

Dalam batas minimal, para Reselga harus mengetahui dasar-dasar ilmu konseling. Dengan demikian mereka bekerja melayani klien dengan landasan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Walaupun para relawan ini tidak kuliah di Fakultas Psikologi, atau Fakultas Bimbingan Konseling, atau Bimbingan Penyuluhan, namun ada ilmu dasar tentang psikologi, kesehatan jiwa, bimbingan dan konseling yang penting untuk dimengerti.

  • Memahami kondisi klien

Penting bagi Reselga untuk mengetahui corak kepribadian manusia, karakteristik umum laki-laki dan perempuan, respon manusia saat menghadapi masalah atau situasi krisis, dan manajemen penyelesaian masalah. Beberapa pengetahuan dasar tentang manusia tersebut akan sangat membantu konselor dalam menghadapi aneka jenis klien.

www.teamprevent.co.uk
www.teamprevent.co.uk
  • Kompetensi Profesional

Para Reselga berkegiatan dengan corak relawan sosial, namun dalam menjalankan aktivitas konseling perlu menjaga profesionalitas sebagai konselor keluarga.

  • Menyelenggarakan kegiatan konseling yang memandirikan klien

Para Reselga harus berusaha melaksanakan kegiatan konseling yang memandirikan klien, bukan menciptakan ketergantungan. Pada dasarnya konseling adalah membantu (helping), bukan memberi (giving), bukan pula mengambil alih beban klien. Maka para Reselga dalam melaksanakan layanan konseling harus tetap menjaga profesionalisme walaupun bercorak sosial murni alias tanpa bayaran.

  • Berusaha mengembangkan sisi profesionalitas dalam pelayanan

Beberapa sisi profesionalitas yang perlu dikembangkan oleh para Reselga, antara lain dalam menyiapkan ruang konseling, perangkat administrasi, serta model komunikasi dengan klien. Walaupun sifatnya relawan, namun memerlukan peningkatan sisi profesionalitas dalam pelayanan klien. Semua dalam rangka untuk mendapatkan hasil konseling yang optimal.

  • Betah mendengarkan pembicaraan klien

Salah satu kompetensi dari konselor adalah betah mendengarkan curhat dan pembicaraan klien. Maka, salah satu ukuran profesionalitas konselor adalah kebetahan dalam mendengarkan pembicaraan klien. Bukan kebetahan dalam berbicara. Jika anda selama ini sudah terbiasa menjadi tempat curhat, anda sudah biasa betah mendengar pembicaraan orang lain, maka anda sudah memiliki bekal yang sangat bagus untuk menjadi relawan konselor.

www.challascounsel..com
www.challascounsel..com
  • Kompetensi Sosial

Relawan konselor keluarga dituntut untuk memiliki kepedulian sosial, terlebih corak kegiatan mereka yang sifatnya relawan murni.

  • Memiliki pribadi yang suka menolong orang lain secara suka rela

Bagi anda yang selama ini secara natural sudah memiliki kebiasaan suka menolong orang lain secara suka rela, sesungguhnya anda sudah memiliki bakat sangat alamiah untuk menjadi konselor. Tinggal dipoles dengan tambahan ilmu dan pengetahuan tentang konseling, disertai dengan pengalaman. Karena pada dasarnya, konseling adalah proses membantu orang lain untuk menemukan jalan keluar masalah mereka.

  • Bersifat peduli dan peka terhadap persoalan orang lain

Kepedulian dan kepekaan atas permasalahan orang lain adalah bekal menjadi konselor. Setiap kali proses konseling, yang terjadi adalah mengurai persoalan klien. Maka sikap yang peka dan peduli harus dimiliki oleh konselor. Jika seseorang memiliki pribadi yang cuek dan tidak peduli terhadap masalah orang lain, maka ia tidak cocok menjadi konselor.

  • Bersifat supel, senang bergaul dan berinteraksi

Konselor juga dituntut untuk memiliki pribadi yang supel, ramah dan mudah bergaul dengan orang lain. Seseorang yang kaku, tidak bisa mudah bergaul, akan lebih sulit untuk menghadapi klien. Suasana konseling akan nyaman jika konselor membawkan diri dengan ramah, supel, dan mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan dengan klien.

www.chc.edu.au
www.chc.edu.au
  • Kompetensi Teknis

Sedangkan kompetensi teknis Reselga ditunjukkan dengan kesediaan mereka untuk mengikuti dan melakukan hal-hal berikut:

  • Bersedia mengikuti Pelatihan dan Pembekalan sebagai Reselga

Apapan latar belakang pendidikan anda, sepanjang memenuhi kualifikasi minimal sebagai Reselga, maka anda bisa dilatih dan dibekali serta disiapkan untuk menjalankan tugas konseling. Sudah banyak lembaga yang melaksanakan pelatihan dan pembekalan untuk mencetak relawan konselor, tinggal kesediaan anda untuk mengikutinya. Hal ini karena untuk menjadi konselor memerlukan ilmu, pengetahuan, wawasan, keterampilan dan pengalaman.

  • Bersedia melakukan pembelajaran mandiri

Tidak cukup mengikuti pelatihan dan pembekalan yang bersifat insidental. Setiap relawan harus bersedia pula untuk melakukan pembelajara mandiri, dengan membaca buku, atau datang dan bertanya kepada para konselor profesional, para psikolog, psikiater atau para akademisi di bidang konseling. Jangan merasa puas dan sudah mengerti, karena ada sangat banyak pengetahuah yang perlu dikuasai untuk sukses menjalankan tugas sebagai konselor.

  • Bersedia mendapatkan supervisi dan evaluasi

Sebagai relawan atau pekerja sosial, reselga harus bersedia disupervisi dan dievaluasi, baik oleh lembaga maupun oleh para tokoh yang berkompeten di bidangnya. Reselga mendapatkan supervisi dari para konselor profesional, konselor senior, psikolog, psikiater, para akademisi, termasuk tokoh agama, agar dalam melaksanakan tugasnya selalu on the track.

  • Bersedia berperan sebagai Reselga di tengah masyarakat

Jika anda bersedia untuk berperan sebagai konselor yang membantu penyelesaian masalah keluarga di tengah kehidupan masyarakat, maka anda memenuhi kualifikasi teknis sebagai Reselga. Ini memerlukan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan harta, karena bercorak relawan murni yang tidak terkait dengan fee atau gaji. Maka kesediaan ini bercorak panggilan hati nurani.

Demikianlah beberapa kompetensi dari Relawan Konselor Keluarga atau Reselga. Selamat menjalankan peran sebagai relawan, semoga memberikan hasil yang optimal untuk penguatan ketahanan keluarga Indonesia.

www.pinterest.com
www.pinterest.com

Yogyakarta 19 Agustus 2016

 

Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Sekolah Konseling Keluarga, RKI Publishing, Yogyakarta, 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here