Memoar of Tarwiyah

0
156

@pkshol

Tarwiyah bagiku adalah tarbiyah. Untuk bisa melakoninya memerlukan perjuangan tersendiri. Paling tidak 17 tahun untuk mendaftarkan dalam bentuk doa dan berjuang untuk yakinkan diri serta regu dalam hidupkan sunnah.

Saat bimbingan haji, guruku pembimbing hajiku, ust Nanang Setya Utomo, menegaskan pentingnya tarwiyah dalam tapaki sunnah maka perlu direncanakan dengan baik dan siap memikul resiko.

Bismillah
Dalam rapat kloter di hotel di Makkah ditawarkan siapa yang mau ikut tarwiyah. Awalnya banyak yang mau ikut, datang di awal 8 dzulhijjah pagi dan malamnya menginap di mina. Menyenangkan sekali hidupkan sunnah Nabi. Begitu dijelaskan bahwa tidak ada fasilitasi dari maktab, berguguranlah hingga tersisa satu regu saja plus satu orang yang mau menyertai dari Pati.

Bismillah Allahu Akbar.
Pagi 8 Dzulhijjah bakda shubuh kami bergegas dengan pakaian ihram berniat Labbaikallahumma Hajjan. Alhamdulillah ada serombongan besar jamaah hajji Daarut Tauhid yang siap berjalan kaki dari Makkah – Mina – Arofah. Inilah nashrullah. Selalu ada jalan bila ingin hidupkan sunnah.
Dari rombongan ini sampailah di Mina dengan banyak mendapatkan pelajaran Hajji berupa kesungguhan, pengorbanan dan ukhuwah dalam bingkai iman dan ketaqwaan.

Di Mina kami mencari tahu arah ke Arofah dan Alhamdulillah ada banyak jalannya. Kami bersepakat untuk naik bus dari Maktab di Mina untuk di Arofah jam 09.00 pagi untuk menyiapkan Khutbah Wukuf karena mendapat tugas sbg khotib di Padang Arofah menyampaikan Khutbah Wada’ Rasulullah.

Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik
Innal Hamda wan Ni’mata
Laka wal Mulk Laa syariika Laka

Memoar  Tarwiyah 1434 – 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here