Mencari Pasangan Sempurna

0
142

Cinta dengan Akad

Di waktu masih kecil dulu atau semasa kita di Sekolah Dasar (SD) pernahkah kita saling menjodohkan? Kita memasangkan seorang teman dengan teman lainnya, kemudian tiap kali bertemu kita akan panggil dia dengan nama orang yang kita pasangkan tersebut. Atau kita sendiri yang mereka perlakukan demikian. Dan biasanya kalau hal itu terjadi kita akan marah, menangis, atau juga senang, sesuai perasaan pas atau tidaknya dengan siapa kita dijodoh-jodohkan.

Tapi berselang waktu dengan meningkatnya kedewasaan kita tidak lagi melakukan hal itu. Kita melihat perjodohan itu tidak lagi boleh dimain-mainkan, dan bahkan dengan semakin bartambahnya usia sama sekali tidak ada lagi keberanian memperguraukannya. Muncullah keseriusan dengan syarat-syarat yang kita buat. Bahwa calon kita itu berfisik seperti ini, berlatar pendidikan seperti itu, kalau bisa begini, akan lebih bagus kalau begitu, dan lain sebagainya.

Kita lihat, kita tunggu. Ada yang seperti ini tapi kurang di situ. Ada yang punya  latar belakang pendidikan demikian, namun sayang tidak begitu. Dan banyak lagi yang lainnya, seperti menggulai ikan tapi kurang bumbu, yang itu lengkap resepnya tapi sayangnya hanya gulai daun singkong. Ada yang menurut kita pas dengan kriteria yang kita susun, tapi sayang kitanya yang tidak cocok dengan kriterianya.

Biasanya mereka yang berkeras dengan standar yang dibuatnya berupa casing itu lupa bahwa disaat kita memilah milih orang juga sedang memilah milih kita. Dan kalau pun suatu saat nanti ketemu yang diminta, maka tidak jarang setelah berlangsung pernikahan dan berlalu waktu akan surut kasih sayangnya seiring melelehnya kriteria yang berupa tampilan tersebut.

Agama mengajarkan bahwa hanya satu yang boleh melunturkan kasih sayang yaitu hilangnya nilai keimanan. Dan bahkan pada puncaknya kita tidak dibolehkan lagi hidup bersama dengan orang yang dadanya kosong dari keimanan tersebut. Karena pemisah asasi itu adalah keimanan, maka harusnya pondasi utama membangun rumah tangga itu juga keimanan. Seorang budak yang beriman lebih baik dari pada orang merdeka yang musyrik.

Tapi lihatlah mereka yang berpegang dengan sekumpulan kriteria itu seiring bertambah umur genggamannya akan melemah, dan satu persatu mulai dia korting. Sampai pada akhirnya dia katakan jodoh harus sudah ditemukan, dan kriteria tidak lagi penting. Bahkan celakanya ia pun menerima seseorang yang mempesekutukan Tuhan.

Berhentilah bertahan pada sesuatu yang sifatnya relatif atau nisbi, apakah relatif dari cara pandang orang-orang atau relatif dari daya tahan sesuatu itu sendiri. Melangkahlah pada yang absolute (mutlak), yang Tuhan jamin keberlangsungannya di mana-mana musim dan tempat.

Kesempurnaan pasangannya hanya kesempurnaan. Kita akan dipertemukan dengan kesempurnaan begitu kita sudah mendekatinya. Dan Jodoh itu sedikit banyaknya bisa kita lihat lewat memandang diri sendiri.

Wamdi Jihadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here