Menguak Masa Depan Amerika, Donald Trump dan Islam (Refleksi Film Bulan Terbelah di Langit Amerika part 2)

0
393

Oleh: Nasir Pariusamahu

Pesta demokrasi bagi rakyat Amerika berakhir tanggal 9 November 2016 (dini hari). Prosesi pemilihan presiden (pilpres) ke- 58 kali tersebut telah usai sejak dilaksanakan Selasa, 8 November 2016. Lewat perhitungan suara, buah kemenangan di tangan Donald Trump. Pria berusia 70 tahun itu mengalahkan rivalnya Hillary Clinton yang didukung oleh Partai Demokrat dengan meraup 60.261.924 (47,30%) suara rakyat serta 306 suara electoral (wikipedia.org). Trump berhasil memuluskan mimpinya menjadi penguasa ke-45 di gedung putih. Walaupun, Trump dan Partai Republik memenangkan pertarungan sengit tersebut dengan meraup jumlah pemilih terbanyak namun ia gagal mendominasi suara rakyat. Hal ini seperti terjadi pada lima tahun sebelumnya yakni tahun 1824, 1876, 1888, dan 2000.

Kemenangan Trump atas mantan ibu Negara tersebut menggegerkan dunia. Trump dikenal sebagai seorang rasis ketika masa kampanye. Sebab, pidato-pidato politiknya sangat dianggap bertentangan dengan wajah Amerika modern.

Sikap kontroversialnya membuat ratusan warga turun jalan, pasca ditetapkan Trump sebagai pemenang. Aksi demonstrasi terjadi di berbagai kota, negeri Paman Sam. Aksi ini merupakan pukulan telak akan ketidaksukaan publik Amerika kepada Trump. “#NotMyPresident,” begitulah yel-yel yang diteriaki oleh massa anti Trump yang turun jalan seperti di Washington, D.C, Los Angeles, dan New York.

Bukan tanpa alasan, Trump didemo seperti itu. Padahal, Amerika merupakan corong demokrasi dunia. Apakah ini bertanda bahwa adanya “kematian demokrasi” di negeri Indian itu? May be. Namun, satu hal yang disikapi oleh demonstran adalah soal karakter Trump. Kita bisa menyaksikan dalam kampanye-kampanye, Trump mengumbar-umbar pernyataan yang sangat tidak relevan dengan keadaan Amerika dan dunia. Pernyataan-peryataan tersebut diantaranya melarang umat muslim datang ke Amerika, memberi tanda pengenal khusus untuk orang muslim, menutup seluruh masjid yang ada di Amerika, hina imigran asal Meksiko, menentang dan tidak mendukung Barack Obama sebagai Presiden AS.

Kiranya ini sebuah permasalahan karakter. Sebagai Negara maju dan polisi dunia, sesungguhnya masyarakat Amerika menginginkan perubahan. Perubahan menjadi Negara humanis dan cinta harmonisasi. Perubahan karakter kepemimpinan. Cara-cara lama selama pemerintahan pendahulunya menyebabkan Amerika disudutkan dan posisinya lemah di mata dunia. Karakter Trump, ditakutkan menjadikan Amerika akan semakin dikucilkan oleh dunia.

Kompasiana.com

Benang Merah Film Bulan Terbelah di Langit Amerika

Film seri Bulan Terbelah di langit Amerika diputar serentak di seluruh bioskop se-Indonesia pada tanggal 8 Desember 2016. Film ini merupakan lanjutan kisah perjalanan suami istri, Hanum dan Rangga yang menjajaki segala kemegahan historis Amerika. Film ini diangkat dari kisah novel best seller, memakai judul sama yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika, buah karya Hanum Salsabila Rais. Cerita dalam film ini merupakan lanjutan dari serial pertamanya Bulan Terbelah di Langit Amerika part 1, tayang perdana pada 17 Desember 2015.

Film drama religi yang diproduksi oleh Maxima Pictures juga merupakan lanjutan dari lintasan sejarah yang ditulis oleh Hanum semasa di Eropa, yakni 99 Cahaya di Langit Eropa, yang juga kemudian diangkat ke layar bioskop pada tahun 2013

Jika menonton film Bulan Terbelah di Langit Amerika part 1 dan part 2, kita akan menemukan 2 kata kunci yakni Amerika dan Islam. Kedua bagian film ini adalah sebuah pertautan sejarah, konflik, dan cinta terhadap bangsa dan toleransi.

Awalnya, Hanum sebagai jurnalis ditugaskan oleh bosnya, Gertrude Robinson untuk membuat artikel yang bertema “Would teh world be better without Islam (Apakah dunia lebih baik tanpa Islam) ?” Tema yang sangat fenomena bukan?

Selanjutnya, Putri Amien Rais itu kemudian diminta untuk mewawancarai narasumber yang sebelumnya telah dikontak. Narasumbernya itu bernama Azima Hussein. Bukan hanya Azima yang menjadi narasumber. Ada juga Michael Jones, seorang Islamofobia. Sebab, sesuai tema besar yang ditugaskan kepadanya, Hanum harus bisa mewawancarai muslim dan non muslim yang menjadi korban tragedi WTC (World Trade Center) 11 September 2001. Dan mencari fakta dan kebenaran dibalik terjadinya peristiwa naas itu.

Tragedi WTC sangat berpengaruh pada pandangan Barat terhadap Islam. Sudut pandang yang dibangun adalah Islam is Terorist. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga yang menjadi korban malapetaka itu, yakni keluarga Azima dan Michel Jones. Tragedi 9/11 dimaknai dengan terbelahnya persatuan antara kaum muslim dan non muslim setelah peristiwa itu. Terbelahnya keyakinan Azima Hussein (Sarah Collins) setelah mendengar kabar bahwa suaminya Ibrahim Hussein diduga tersangka peristiwa WTC. Terbelahnya hati Stefan dan Jasmine. Jasmine yang ingin berkomitmen, dan Stefan yang masih belum siap berkomitmen.

Dalam keluarga Azima, suami Azima dituduh sebagai pelaku bom yang meruntuhkan menara kembar WTC. Begitupan spontan publik Amerika menaruh perhatian negatif terhadap dunia Islam. Keadaan semakin keruh dengan tekanan-tekanan yang dirasakan oleh umat Islam di Amerika pasca kejadian itu, tak terkecuali Azima, sang muallaf yang kehilangan kebanggaan terhadap Islam. Hal ini dapat terlihat pada adegan part1

Adegan itu terlihat Azima Hussein alias Julia Collins melepas wignya dan ternyata masih ada bagian hijab dibaliknya untuk melindungi rambut aslinya. Hanum tersentak. Bahwa kecintaan ibu dari Sarah Husein terhadap Islam membuat dirinya harus bertahan dalam keterbelahan keyakinan.

Cerita tersebut berlanjut pada serial part 2. Film ini akan membuka mata kalau sebenarnya umat muslim memiliki peran yang besar di Amerika. Dalam seri kedua, Azima telah menemukan sisi kebanggannya terhadap Islam. Wig yang dulu menutupi jilbabnya, tidak dipakai lagi. Namun, Azima masih belum menemukan cintanya sang ibu (diperankan Ira Wibowo) yang dibenaknya masih menganggap kematian suaminya adalah sebab Islam dan suami anaknya.

“Kamu merupakan sumber duka bagi saya,” kata ibunya yang sangat mengagetkan Hanum, Azima dan anaknya. Namun, Hanum menyadari bahwa Islam yang dipahami oleh neneknya Sarah adalah hal yang keliru. Islam sesungguhnya cinta damai. Islam adalah rahmatan lil alamin. Keberkahan Islam tidak hanya untuk umat Islam sendiri tetapi juga untuk umat yang lain. Islam tidak hanya tentang hablu minnallah(hubungan dengan Allah), tetapi juga hablu minnannas(hubungan dengan sesama manusia)

Hubungan sesama manusia itulah yang terjadi pada sikap Rangga terhadap Stefan dan mulianya anak seperti Azima yang tetap kokoh seperti karang di laut guna mempertahankan hubungan darah dengan ibunya. Betapa Islam mengajari kita pentingnya memuliakan seorang ibu. Walaupun ibu kita berbeda keyakinan namun Islam mengajari kita untuk tetap menghormatinya. Itulah yang sedang diperjuangakan oleh Azima dan anaknya. Jika kita meriview kembali dalam cerita, tema Power of Giving juga ditampilkan pada sosok Philipus Brown, seorang pengusaha yang tiba-tiba berubah menjadi seseorang dengan jiwa sosial tinggi setelah peristiwa WTC.

Trump dan Masa depan Islam di Amerika

Sudah diuraikan sebelumnya tentang pernyataan-pernyataan Trump. Dari pernyataan sang pebisnis itu dapat diambil sebuah konklusi bahwa ada sikap permusuhan yang sangat tajam yang dilakukan oleh Trump kepada Islam.

Hal sangat berbeda dengan sikap warga Amerika yang telah terlanjur jatuh cinta terhadap Islam akibat efek 9/11. Setelah peristiwa pemboman 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Maka lahirlah era pertumbuhan Islam yang paling cepat, yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Wahington, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan lainnya (sumber )

Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

Bahkan Perkembangan ajaran Islam di USA ternyata menjadi salah satu yang paling pesat di dunia. Seperti disampaikan langsung oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert O Blake Jr. ( sumber) Sejarah juga pernah mencatat bahwa penemu benua Amerika adalah Laksamana Cheng Ho, seorang muslim.

Lintasan sejarah dan aspek kebutuhan warga Amerika tentang nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi yang diadegankan dalam film part 2 antarpemain film membuat sebuah desak kagum bahwa Islam sangat menghargai perbedaan dan selalu melakukan penyampaian kebaikan/ dakwah secara bijak. Lihatlah seberapa ujian itu pada seorang Rangga ketika menghadapi realita kehidupan sepasang manusia, Stefan dan Jasmine.

Namun, berkat pendekatan teladan, Rangga bisa menjadi sahabat baik bagi Stefan. Begitulah dengan tuduhan Ibunya Azima terhadap Husein (Abe al Ibrahim Hussein) bahwa akhirnya dengan segala keangkuhannya ibu Azima mengetahui bahwa penyebab kematian suaminya adalah dirinya sendiri.

Maka sungguh naif bila, Trump sebagai presiden Negara besar, tidak bisa menjadi teladan dan tidak bisa merawat keberagaman yang sudah terbentuk di Amerika? Maka pertanyaan “Apakah Dunia Lebih Baik Tanpa Islam?” Jawaban “NO”. Semestinya pertanyaan itu berganti menjadi “Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?”

Apa yang salah dengan Islam? Padahal dalam buku The100 karya Michael H. Hart (1978) memaparkan dengan detail bahwa Muhammad merupakan manusia terbaik. Nah, dalam daftar karya sang astrofisikawan itu, Muhammad menjadi orang nomor satu dunia serta memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah manusia. Lalu, Bukankah Muhamad adalah pembawa risalah Islam ke muka bumi?

“Mengapa ada Patung Muhammad ada di Gedung Mahkamah AS kalau bukan Islam membawa keadilan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here