Menjadikan Dua Ruh Saling Kenal (Sebuah Persepsi Tentang Cinta)

0
448

surga rumah tangga

Oleh: YF Rijal
Reli Aceh

Al-arwahu junudun mujannadah. Ruh-ruh itu layaknya tentara yang dibariskan. Yang saling kenal akan dengan mudah menyatu. Yang tidak mengenal akan mudah bercerai-berai.

Begitulah tabiat ruh yang digariskan Rasulullah saw.

Bicara cinta, pada hakikatnya kita sedang membicarakan ruh. Bagaimana menjadikan dua ruh saling kenal untuk kemudian menjadi padu. Kesalingkenalan inilah yang sedikit lebih kompleks dari yang semula kita bayangkan.

Saling kenal dalam cinta tidak terbatas pada unsur-unsur materi semata. Sebab cinta pada batas definisi ini seringkali lahir akibat dorongan nafsu manusiawi. Sifatnya temporer dan meluap seiring pudarnya pesona fisik yang kasat mata.

Konon, seseorang mengabari Rabi’atul Adawiyah bahwa ada laki-laki yang jatuh cinta padanya. Sang sufi menanyakan sebabnya. Orang itu mengatakan, “Binar mata Rabi’ah tak bisa kulupakan.” Rabi’ah lalu mencongkel bola matanya, menaruhnya dalam nampan, dan memberikan pada lelaki itu.”Inikah yang kauinginkan?”

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah di atas, cinta bukan sebatas urusan fisik. Entah itu mata yang berbinar, senyum yang menawan, atau wajah yang rupawan. Lihatlah, betapa sekarang begitu banyak insan yang terjebak dalam lingkaran ini. Cinta yang awalnya berbunga-bunga perlahan-lahan menyusut lalu sirna seiring hilangnya kecantikan, harta, pamor, popularitas, pekerjaan dan kedudukan.

Sekali lagi, definisi cinta bukan terletak pada apa-apa yang bisa ditangkap mata. Ia jauh lebih luas, lebih dalam dan lebih agung. Ia adalah tentang bagaimana menemukan titik temu antara dua ruh. Saling kenal adalah urusan mencocokkan tabiat sepasang jiwa dan menyatukan visi keduanya. Di situlah kita menemukan cinta bukan perkara remeh-temeh. Ia perkara agung, perkara membangun peradaban.

Mencocokkan tabiat adalah syarat wajib agar sebuah visi bersama tercipta. Anis Matta, dalam Serial Cinta-nya, menggambarkan upaya itu sebagai “kesamaan atau kegenapan atau keseimbangan dua karakter”. Seperti dua sungai besar yang bertemu dalam satu samudera lalu menciptakan gelombang yang dahsyat. Seperti air bening yang mengaliri lahan yang subur lalu melahirkan sebuah taman yang indah. Seperti air yang menyala-nyala lalu dipadamkan oleh air yang sejuk.

Kesamaan visi, selanjutnya, menghasilkan chemistry (keterikatan batin) yang menjadi bahasa komunikasi khusus keduanya. Ini adalah bahasa yang unik sebab hanya dimengerti oleh mereka saja. Dalam level tinggi, jarak dan waktu gagal menghalang sepasang jiwa itu berkomunikasi.

Saya pernah mendengar sebuah kisah yang menakjubkan tentang sepasang suami istri yang memiliki keterikatan batin yang tinggi. Mereka rajin tahajjud bersama. Sang suami menderita urtikaria (alergi dingin) akut.  Musibah itu tiba ketika ia diculik oleh sebuah gerakan separatis dengan alasan yang tak jelas. Tengah malam, istrinya yang tak tenang bangun menunaikan tahajjud. Ia tahu separatis itu takkan peduli sanderanya bisa mati karena serangan udara pegunungan yang menggigil. Karena itu, seusai tahajjud ia berdoa agar alergi itu dipindahkan ke tubuhnya saja. hanya beberapa saat kemudian, kulitnya terasa gatal-gatal dan kemerahan. Setelah sang suami dibebaskan, ia bercerita keanehan yang dirasakannya sampai-sampai ia menduga alerginya sudah sembuh. Masya Allah.

Kesamaan visi juga menjadikan cinta tahan lama, tak terpengaruh oleh usia dan faktor-faktor fisik lainnya. Tapi tak banyak yang bisa menjaga visinya tetap sama. Dalam perjalanan, godaan dan bujuk rayu seringkali menggoyahkan cita-cita cinta.

Karena itu, kesamaan visi yang mantap hanya lahir dari pemahaman yang kuat terhadap agama. Maka di titik ini kita menemukan kebenaran wasiat Rasulullah saw, bahwa hal utama yang harus diperhatikan dalam memilih jodoh adalah agamanya.

Jadi, temukan visi cintamu lalu carilah “dia” yang bervisi sama. Lalu, ajaklah dia menggapai cita-cita itu. Tentu saja dengan cara-cara yang terhormat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here