Menyambut Estafet Dakwah

0
522

|| Kontributor: Zico Alviandri ||

Bisik lembut munajat Nabi Zakaria a.s. terngiang abadi dalam Al-Qur’an. “yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS Maryam: 2-6)

Nabi Zakaria a.s. tidak sekedar meminta keturunan. Memang redaksi doa Nabi Zakaria di ayat lain – yaitu QS Al-Anbiya 89 – dianjurkan untuk dibaca bagi pasangan suami istri yang ingin segera diberi buah hati. Dan secara eksplisit beliau pun meminta agar diberi keturunan. Tetapi lebih dari itu, munajat Zakaria a.s. adalah harapan akan terjaganya regenerasi dakwah. Alasan beliau meminta keturunan adalah agar ada yang mewarisi kerja-kerja dakwahnya kepada kaum Bani Israil. Dan atas alasan itu Allah menjadikannya bagian dalam Al-Qur’an.

Doa Nabi Zakaria a.s. adalah doa khas seorang da’i yang punya perhatian penuh kepada dakwah. Bukan supaya setiap orang yang diseru menjadi beriman yang menjadi pintanya, tetapi agar dakwah yang thulu’ut thariq (berjalan panjang) punya kader yang akan menyambut tongkat estafet yang diserahkan punggawa yang mencapai uzur. Nabi Zakaria a.s. mengerti urgensi regenerasi dakwah.

Jawaban doa itu, Allah swt menganugerahkan sesosok Yahya. Seorang terpelajar penuh hikmah yang ketika masa kanak-kanak pernah menolak ajakan bermain kawannya dengan pernyataan, “aku diciptakan bukan untuk bermain-main”.

Dakwah dan Amal Jama’i

Nabi Zakaria a.s. mengerti benar bahwa dakwah harus dikerjakan dengan amal jama’i. Meski karakter dakwah ini adalah qiilur rijaal (hanya sedikit manusia yang mau terlibat), tetapi dakwah harus tetap berjalan dengan kerjasama antara pendukungnya. Pendahulu beliau, Nabi Musa a.s., telah meminta saudara kandungnya, Harun a.s. untuk menjadi wazir atau asisten dalam berdakwah kepada Fir’aun. Berdua mereka beramal jama’i menyelamatkan Bani Israil.

Terbentuknya atau terjaganya kesinambungan jamaah dakwah menjadi fokus dari syiar agama Allah. Syaikh Jum’ah Amin dalam Ats-Tsawabit wa Mutaghayyirat: Konsep Permanen dan Fleksibel Dakwah Ikhwan menulis, “Dalam dinamika sejarah atau dalam tumbuh kembangnya peradaban, yang menjadi perhatian utama itu bukan keberadaan pribadi-pribadi yang tulus, yaitu orang-orang yang berakhlak mulia, walaupun mereka telah mencapai tingkat keshalihan dan ketakwaan pribadi bahkan mengenal banyak hakikat. Namun yang paling penting adalah adanya dinamika kejamaahan dan perbaikan yang bergerak laksana arus kuat, deras, dan perkasa, bukan arus lemah dan mudah terkalahkan.”

Dengan tujuan dakwah yang begitu besar, yaitu menjadikan muslim sebagai sokoguru bagi dunia, maka amal jama’i menjadi keharusan tatkala didapatkan fakta bahwa kerja individu tak kan mampu mewujudkan tujuan tersebut.

Syaikh Musthafa Masyhur dalam Fiqh Dakwah menulis, “Tujuan besar ini merupakan kewajiban setiap muslim untuk mewujudkannya, dan tujuan ini hanya dapat dicapai dengan adanya jama’ah dan harus melalui amal jama’i. Maka amal jama’i dalam kaitan ini adalah wajib. Sebab, kaidah ushul fiqh menyatakan, “Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya, maka ia adalah wajib.” Lagi pula Islam bukan agama individu. Ia adalah agama satu umat, satu tanah air, dan satu tubuh. Islam menyeru kepada kesatuan kaum muslimin.”

Jelas sudah dakwah membutuhkan regenerasi yang akan menjaga keberlangsungan amal jama’i. Itulah mengapa Nabi Zakaria a.s. berdoa dengan sungguh-sungguh. Pertanyaannya, akankah kita ikut terlibat dalam proyek yang hanya dikerjakan oleh umat terbaik? “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imron: 110)

Menyambut Tongkat Estafet Dakwah

Dengarlah ungkapan seorang da’i yang telah meraskaan nikmatnya hidup bersama dakwah: Syaikh Musthafa Masyhur. “Derap jalan dakwah ini telah mengetuk hati kita yang paling dalam dan memacu denyut jantung kita. Entahlah, apakah ia akan menjadi bagian dari kita atau justru kita yang menjadi bagiannya? Sepertinya antara kita dan dakwah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi yang pasti, kehidupan tidak akan bernilai dan terasa hampa jika kita jauh dari jalan dakwah.

Jika seandanyainya kita tidak sampai kepada tujuan perjalanan dakwah ini maka orang lain pasti akan meneruskannya. Kita tetap akan mendapat pahala dan keutamaan perjalanan dan keteguhan yang tak mengenal putus.”

Hidup hanya sekali. Apa berartinya hidup tanpa kerja dakwah? Malah merugi! Allah swt telah mengingatkan dalam surat yang telah kita hafal. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3). Perhatikan Allah menggunakan bentuk jamak untuk pelaku amal saleh dan nasehat-menasehati. Menandakan dakwah adalah amal jama’i.

Mungkin kita merasa belum terlibat dalam proyek amal jama’i mana pun. Maka tengoklah sekeliling, ada banyak komunitas kebaikan yang mengajak bersinergi untuk menyeru manusia ke jalan Allah swt. Iringilah minimal satu di antaranya.

Mungkin kita sudah terlibat dalam sebuah organisasi dakwah, namun terasa belum sempurna benar kontribusinya. Maka terus perbaikilah diri, tingkatkan kapasitas, dan perbaharui komitmen untuk berkorban bersama mereka yang memberikan hidupnya di jalan Allah swt.

Atau mungkin kita merasa sudah begitu banyak berbuat di dalam organisasi dakwah. Maka sadarilah, medan dakwah masih lebih luas dari area yang telah dijejaki kaki kita. Jangan pernah merasa puas atau lelah lalu ingin berhenti dari dakwah ini. Karakter dakwah yang lain adalah “katsrotul aqobat”. Punya banyak rintangan. Persiapkanlah diri untuk menghadapi tribulasi-tribulasi yang akan menghampiri.
Karena dengan hidup bersama dakwah, menjadikan kehidupan kita berarti. Terhindar dari label merugi. Dan tergabung dalam umat terbaik. Kemudian di akhirat nanti ada ganjaran yang besar dari Allah: terselamatkan dari azab neraka. Tak hanya itu, di dunia pun ada kemenangan yang dekat.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS Ash-Shaaf: 10-12)

Zico Alviandri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here