Menyembunyikan Perbuatan, “Memamerkan” Perkataan

0
9

By: satria hadi lubis

Sesungguhnya yang termasuk sunnah Rasul adalah menyembunyikan perbuatan baik agar terhindar dari riya’ dan ujub. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR. Ahmad 5/428-429, al Albani berkata dalam as Silsilah ash Shahihah 2/634 no. 951: “Shahih“).

Sebaliknya, banyak “memamerkan” perkataan dan nasehat yang baik (perkataan bernilai dakwah). Semakin basah lidah kita oleh dakwah, maka semakin baik. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Qs. 41:33).

Saya sering ditanya, bagaimana cara agar kita istiqomah menjadi orang baik? Saya jawab : berdakwalah! Sebab dengan berkata-kata yang bernilai dakwah, kita akan terpacu untuk mempraktekkan apa yang kita dakwahkan dan malu jika hanya menang omong doang. Itulah yg dimaksud firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Qs. 61:3-4). Jadi jika semua cara untuk merubah diri tidak lagi efektif, maka berdakwahlah.

Jangan takut dan minder untuk “memamerkan” perkataan yang baik, kata-kata yang bijak atau nasehat-nasehat, entah itu di dunia maya (medsos) atau dunia nyata. Walaupun kita belum menjadi orang yang baik secara sempurna.

Ketahuilah…syetan berupaya agar kita diam (tidak berdakwah). Sebaliknya, syetan berupaya agar kita cerewet berkata yang tidak ada nilai dakwahnya, seperti memposting keluhan, laporan aktivitas harian yang remeh, dan lain-lain.

Lebih baik diam, tidak komen atau tidak pasang status apapun jika isinya tidak ada nilai dakwahnya. Sebab lidah kita (tulisan kita) akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Di sisi lain, cerdaslah menyembunyikan amal. Tidak usah cerita kemana-mana. Walaupun dalam kondisi tertentu boleh menampakkan amal sebagai contoh teladan. Namun menyembunyikan amal jauh lebih baik karena bisa menyelamatkan diri dari riya’.

Biarlah orang lain mengenalmu sebagai orang yang “cerewet” berdakwah dengan kata-kata bukan dari amalmu, yang engkau sembunyikan untuk menjaga keikhlasanmu. Jauh lebih bahaya riya’ dari amal yang engkau tunjukkan daripada perkataan dakwah yg engkau “pamerkan”.

Dahulu para sahabat Nabi saw menjadi umat terbaik karena rajin berkata yg baik dan pandai menyembunyikan amalnya, sebagaimana firman-Nya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3:110). Kini sebagian kita malah rajin berkata buruk (ghibah, fitnah, umpatan, ujaran kebencian, dll). Rajin juga memamerkan amalnya yang sebenarnya masih sedikit dan rentan riya’.

Wajar jika kesuksesan masih jauh dari harapan karena kita masih belum seperti karakter generasi terbaik Islam, yakni rajin berkata dakwah dan enggan menampakan amal kebaikan. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here