Om Telolet Om… (3)

0
289

Malam semakin larut. Fajar masih saja di di dalam bus. Pemuda berusia 29 tahun ini memilih istirahat. Tidak mau terlibat dengan fenomena telolet. Seperti bus milik rekan-rekannya. Bahkan sudah dimodifikasi semenarik mungkin. Macam klakson berbunyi magadir, hingga suara musik Ebiet G Ade.

Jam menunjukkan pukul 01:00 Wita. Maka Fajar memilih untuk pulang. Kangen dengan Maza, anak perempuannya yang baru kemarin menyelesaikan hafalan juz 30. Kangen dengan istrinya.

Hari ini, sebenarnya Fajar ingin memberi hadiah buat Maza yang lima hari lagi berusia 11 tahun. Tapi karena banyaknya orang yang bermain telolet, semua jadi kacau balau. Sejak sore, Fajar sudah menghindar. Tidak peduli walau setoran hanya hitungan puluhan ribu.

Mata Fajar melirik-melirik. Memastikan apakah tidak ada lagi yang teriak om telolet om. Fajar menghela nafas lega. Mengepak tangannya, yes!

Dua menit berlalu. Bus melaju dengan kecepatan standar. Fajar iseng memutar radio. Ups. Semua membahas telolet. Fajar memilih memutar musik dari flash disk. Lagu nasyid, adalah pilihan yang tepat.

Dibalik jendela bus, angin bertiup kencang. Satu dua suara hewan terdengar mengerikan. Hujan turun, sepuluh detik kemudian. Fajar mengeraskan suara musik.

Om telolet om…
Hei, dari mana itu suara? Fajar harap-harap cemas. Wajahnya pucat. Hanya soal waktu, keringat bercucuran semakin deras.

Om telolet om…
Hei, suara itu semakin jelas. Fajar melirik-lirik. Memastikan. Sia-sia. Hanya sia-sia. Tidak ada. Tidak ada orang di sekitar.

Fajar menghentikan bus sejenak dipinggir jalan. Ia kembali menghela nafas. Hujan semakin deras diluar sana. Musik nasyid terpaksa dihentikan sementara. Ia kemudian mengambil air mineral. Dalam kondisi begini, setidaknya, Fajar sedikit lega dengan minum.

Om telolet om…
“Astagfirullah hal ‘adziim…” Fajar terkaget-kaget. Itu… Itu bukan bukan manusia!!!

Om telolet om…
“Nggak… Nggak akan saya bunyikan!” Fajar semakin menjerit. Sementara kelompok super misterius yang berjumlah lima orang itu terus meminta.

“Pelit amet sih om,” Salah satu dari kelompok yang super misterius itu berbicara. Tidak paksi baju tapi pakai celana pendek bercorak-corak. Kira-kira seumuran dengan Maza.

Fajar menggeleng sekali lagi. Bagi Fajar, sekali dia bilang tidak ya tidak. Orang bugis ini sangat teguh memegang erat filosofi leluhur orang bugis.

Sekali dia berlayar, pantang untuk pulang. Jika tenggelam dilaut, itu jauh lebih mulia.

Kelompok super misterius itu terlihat kecewa. Dua detik kemudian, mereka memilih menghilang. Menghilang? Fajar lagi-lagi menghela nafas.

“Om… Kenapa sih, pelit amet?” Suara bocah tadi kembali terdengar. Fajar balik kanan. Astaga, mereka ada disana. Duduk macam penumpang. Tersenyum-senyum tanpa dosa.

“Maafkan kami, nak. Rony ini ingin sekali bermain telolet,” Salah satu dari kelompok super misterius itu angkat bicara.

“Kalian siapa?” Fajar bertanya sedikit bata-bata.

“Ah ya, kenalkan. Aku uvuevuewekarjakwinsirdjoe ossasunna ekokailavradjmik. Kepala suku dunia gaib daerah sini. Kau bisa memanggilku Eko. Jangan khawatir, nak. Kami ini mahkluk gaib garis lurus. Aku terpaksa ikut keluarga ini. Karena Rony betul-betul tidak bisa ditahan. Anak itu keras kepala” Orang itu tersenyum takzim. Lihatlah, meski pakaiannya tidak bisa ditafsirkan, wajahnya sungguh bersahabat.

Fajar menggaruk kepala tidak jelas.

“Ini Andi, Ayahnya Rony,” Eko menunjuk salah satu diantaranya, “Nah ini ibunya. Namanya Ling Ling. Mereka ini pasangan serasi nak. Satu dari keguruan bugis. Sagu dari keturunan Tionghoa. Kapan-kapan, aku akan ceritakan.”

“Itu dibelakang lagi main gadget siapa?” Fajar kembali bertanya. Kali ini, ia tampak semakin rileks.

Hujan masih deras. Angin disana juga demikian. Hewan-hewan mengerikan tidak lagi terdengar.

“Ah ya, aku hampir saja lupa. Nah kalau yang ini namanya Mei Irecha Sandi Duta, kakaknya Rony.” Eko terkekeh, “Dia kalau main gadget begitu. Kayak patung. Kalau tidak main sosmed, palingan main game atau pagi baca cerita Mukidi”.

“Eh?”
“Kau tentu merasa aneh dengan namanya, bukan?”
Fajar mengangguk.
“Tentu saja kaget. Seluruh masyarakat gaib daerah sini juga kaget saat orang tuanya memberikan itu nama. Tapi kami dibuat terdiam ketika tahu alasannya.”

Alasan apa? Fajar berusaha mencerna kalimat orang tua itu itu.

“Dulu, saat Ling Ling mau lahiran, tidak ada siapa-siapa di rumah. Andi ke Sulawesi, mengurus sesuatu. Maka, Ling Ling berteriak. Datanglah Mei, Duta, Irheca dan Sandi. Karena keempat sahabat ini, anak itu lahir. Untuk membalas jasa mereka, nama-nama merekalah yang dipakai.” Eko kembali terkekeh. Sementara Rony disebelahnya menunduk sedih.

“On ya, namaku Fajar. Maafkan aku pak. Sungguh. Maafkan, karena aku tetap tidak akan membunyikannya. Tapi aku rasa, Rony hanya kurang hiburan. Maksudku, mungkin Rony jarang dibawa liburan bersama orang tuanya. Sehingga mencari cara lain untuk bahagia. Kebetulan, telolet memang betul-betul mengguncang dunia. Bahkan didaerah kalian.” Fajar menjelaskan, ikut terkekeh.

Mendengar kalimat Fajar, kedua orang tua Rony ikut menunduk. Betul. Semua yang dikatakan supir bus ini betul. Rony memang kurang liburan. Jangankan piknik keluar kota. Ke kolam berenang dekat-dekat saja tidak pernah.

“Kau tidak perlu minta maaf, nak. Kami yang salah. Iya sudah. Kami izin pamit ya kalau begitu. Ayo semua, kita balik,” mendengar kalimat Eko, 1 menit kemudian semua menghilang.

Sebelumnya, Andi juga minta maaf mewakili keluar kecilnya. Bilang, bahwa dia akan menjadi orang tua yang baik. Dia juga berjanji tidak akan menampakkan diri lagi di hadapan manusia.

Hujan masih saja deras. Fajar menghela nafas lega. Keringat sedari tadi bercucuran juga sudah habis.

Kring!!!
“Allahuakbar!!!” Fajar sekali lagi terkaget-kaget. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ada apa lagi ini?

Kring!!!
Ups, ternyata ponselnya berdering. Dalam layar lima koma lima inci, ada nama “My Heart” beserta foto pengantin baru. Itu adalah istrinya yang menelpon.

“Assalamualaikum, sayang…” Fajar berusaha artikelnya mungkin. Dering tadi cukup membuatnya kembali kikuk.
“Waalaikumsalam… Pa, udah dimana?”
“Masih di jalan Ma”
“Ditunggu ya. Mama lagi masak rendang”
“Hehe.. siap 86”
“Gimana, udah dapat kado buat Maza pa?”
“Belum ma. Insya Allah besok ya, kebetulan besok papa tidak narik”
“Iya udah, hati-hati. Cuaca diluar sana tidak bersahabat”
“Iya ma”

Percakapan berakhir sepuluh detik kemudian.

Fajar bersiap-siap untuk pulang. Perutnya dari tadi lapar.

Begitulah Fajar. Tidak mau makan malam kecuali di rumah. Baginya, rumah sudah macam surga. Tempat penyejuk mata. Tempat semua cita-cita mulia dibuat. Termasuk membiasakan diri lebih dekat dengan Quran melalui murotal yang diputar setiap hari. Maka, tak heran jika Maza, yang baru sebelas tahun sudah hafal juz 30. Bahkan hafal juga sudah populer.

Ebid Salam
Samarinda, 25 Desember 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here