Pakaian Mewakili Kemampuan

0
232

ma fi qalbi ghairullah

Hari ini (3 Juni 2016) saya mencoba ide gila itu lagi, belanja ke mall dengan memakai sendal jepit swallow, bergo, kaos panjang, dan rok jeans, ini adalah pakaian harian yang biasa saya kenakan di rumah. Perlakuan yang saya dapatkan pun sama seperti kemarin, mendapat sebuah perlakuan sebelah mata dan gak sedikit pegawai toko yang memberikan sikap cuek ke saya.

Ini adalah hari kedua saya mencoba hal uni, bermula dari cerita Si Abang yang sedang mencari baju batik di mall. Waktu itu abang ada acara kantor yang mewajibkan pegawainya pakai batik, spontan pas pulang kerja abang melintasi sebuah mall karena teringat baju batik abang pun turun dari kendaraannya untuk membeli batik. Itulah Abang, kebiasaan beliau saat pulang bekerja adalah melepas sepatu kantor dan menggantinya dengan sandal yang berada di mobil, tak lupa pula Abang mengganti kemeja dengan kaos oblong yang beliau bawa.

Pas masuk di salah satu toko di dalam mall beliau sempat dicuekin oleh pelayan toko, sambutannya tidak ramah, dilihatnya penampilan si Abang dari ujung kepala sampai ujung kaki dan saat sedang asik memilih batik si Abang dihampiri pelayan toko sambil bilang “Mas yang di sana aja lebih murah dan ada diskon” sambil menunjuk satu barusan baju batik yang di maksud.

Abang hanya membalas dengan senyum tawaran si pelayan toko tersebut, tak berapa lama pelayan toko tersebut menghampiri abang kembali dan membawakan dua baju batik yang memang harganya lebih murah dari baju batik yang Abang pilih.

Dasar Abang, mendapat perlakuan seperti itu dari pelayan toko beliau pun langsung mengambil baju batik yang paling mahal dan membayarnya dengan kartu kredit yang beliau miliki, sontak si pelayan toko itu kaget dan segan.

Dari pengalaman si Abang itulah saya memberanikan diri berbelanja di mall dengan kaos oblong, sendal jepit ala anak rumahan dan benar saja, saat saya memilih sepatu (kebetulan memang sedang cari sepatu juga) saya sempat di cuekin oleh pelayannya, pas saya coba panggil untuk menanyakan ukuran tanggapannya pun juga kurang mengenakan.

Ternyata, masih ada pelayan toko yang kurang ramah terhadap customer yang berpenampilan biasa-biasa saja. Terkadang tanggapan sinis memojokkan customer seolah-olah customer tidak mampu belipun tak jarang mereka tunjukan.

Apalah arti sebuah pakaian yang dikenakan? Bukan berarti apa yang dikenakan oleh seseorang itu bisa mewakili bagaimana dia saat ini.

“Ramahlah pada siapa saja, jangan pedulikan pakaian, pangkat atau hartanya”

Aise

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here