Pers Sehat Tebar Manfaat

0
86

|| Kontirbutor: Zico Alviandri ||

Saya rasa semua netizen resah dengan yang namanya kabar hoax. Mungkin terkecuali bagi yang sengaja mencari manfaat dengan mengarang dan menyebarkan berita bohong. Tetapi bagi yang tidak berkepentingan, sudah barang tentu menganggap hoax sebagai sesuatu yang mengganggu. Jangankan pencipta hoax, orang yang ikut menyebarkan saja akan mendapat celaan dari netizen.

Ada pihak yang tidak bijak memanfaatkan terbukanya keran kebebasan berbicara sejak zaman reformasi dengan berekspresi kebablasan, termasuk mengarang berita bohong yang meresahkan. Kemajuan teknologi internet semakin membuat kabar-kabar itu terduplikasi berantai.

Semua sepakat, ini adalah fenomena tidak sehat. Harus ada yang mengobati.

Tidak jauh-jauh, insan pers-lah yang sangat berkompeten meredam fenomena ini. Karena mereka yang sehari-hari bekerja mengolah fakta menjadi kabar. Tanggung jawab jurnalisme ada di pena-pena mereka. Dewan Pers sendiri telah membakukan tugas melawan arus pembodohan informasi itu dalam etika jurnalistik yang berbunyi: “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.”

Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Dengan kerja pers yang patuh pada etikanya, maka akan ada arus utama di tengah kemudahan mengabarkan berita di zaman sekarang. Jurnalisme faktual sebagai arus utama akan membuat kabar-kabar hoax yang beredar menjadi residu atau ampas yang tak layak konsumsi. Akhirnya, bacaan yang sehat dan bermanfaatlah yang menjadi asupan masyarakat.

Tak terbayang bila insan pers malah ikut memperburuk kondisi di atas. Akan kemana masyarakat mendapatkan info yang valid dan tidak tendensius? Bila media massa di Indonesia ikut terseret arus kabar hoax, maka akan hilang rasa kepercayaan masyarakat kepada pers. Krisis kepercayaan tidak lagi melanda pemerintah, tetapi juga pers. Akhirnya masyarakat benar-benar tidak tahu harus mempercayai siapa.

Sayangnya, fenomena seperti itu mulai terlihat. Misalnya pada kasus pembunuhan Wayan Minra Salihin yang sedang heboh, sempat menyeruak di media massa nama Jessica Ngadimin yang menjadi teman ngopi Mirna. Padahal bukan Jessica Ngadimin, tapi Jessica yang lain. Akhirnya, nama orang tersebut menjadi hancur dan sempat dilanda kecemasan.

Masih ada kasus lain. Berita ulama yang melarang muslimah makan pisang jelas sesuatu yang tidak lucu dan sangat menyesatkan namun sayangnya pernah dimuat media besar di Indonesia.

Inilah yang disinyalir Presiden PKS beberapa waktu lalu melalui cuitan di akun twitternya. “Pada kasus ekstrim, ceroboh dan fitnah bisa timbulkan irreversible damage (kerusakan yang tak dapat dipulihkan). Itu kerugian besar. Petaka bagi semua,” Begitu tulis M Sohibul Iman.

Jangan sampai pers Indonesia ikut-ikutan berkontribusi dalam kabar-kabar penyesatan. Justru harusnya insan pers menjadi benteng rasa percaya masyarakat. Insan pers sangat diharapkan menjaga kejujurannya dan indpendensinya. Dengan jalan itulah dunia pers memberi manfaat bagi peradaban dunia.

Selamat Hari Pers Nasional!

Pranala:

http://dewanpers.or.id/peraturan/detail/190/kode-etik-jurnalistikhttp://www.ayolebihbaik.com/gallery/media/selamat-hari-pers-nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here