Sang Motivator dan Rossi

0
112

Beban

Sang motivator, tak melulu harus membakar kata-katanya. Tak harus jingkrak-jingkrak saat menyampaikan. Tak mesti terkesan sebagai orang yang superior.

Meski disampaikan dengan datar. Tanpa ekspresi layaknya sang motivator. Ia, tetap layak disebut mentor. Bahkan sang motivator.

Meski terbata-bata dan berat mengucapkan pilihan kata. Bahkan sesekali tak jelas mengucapkan beberapa kata.

Namun, kehadiran fisiknya saja dan berani menyampaikan motivasi. Itu sudah sungguh luar biasa bagiku.

Beberapa tahun terbaring akibat stroke yang dialaminya. Kini sudah bisa hadir bersama. Ini adalah nasehat untuk jiwaku. Bahwa ketegaran memang harus diperjuangkan. Sang motivatorku tak banyak bicara. Ia berkata lewat keteguhannya untuk bangkit.

Rossi saja start dari belakang. Dengan kegigihannya, walau berada diposisi ke 4. Tetap saja predikat juara dunia sejati, melekat padanya. Setidaknya itu predikat yang kusandangkan padanya, anda boleh setuju atau tidak.

Ini, sang motivatorku. Saat sakit yang dideritanya hanya bisa berbaring saja. Segala keperluan dilakukan di kasur.

Kini ia sudah bisa berjalan. Bisa memberi semangat untuk saya. Membakar jiwa saya untuk lebih baik lagi.

Sang motivatorku, kau adalah juara sejati dunia akhirat, akhi Reza Maulana.

Terima kasih atas nasehatmu. Baik dalam diammu, maupun kata-kata singkat yang kau berikan tadi.

Sahabatmu,

Bang Joy

Aku mencintaimu karena Allah.

(Selama tulisan ini dibuat. Beberapa kali buliran bening air mata. Perlahan basahi pipi. Ya Robb…berikan kesuksesan utk akhina Reza sekeluarga di dunia akhirat….aamiin)

Reza Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here