Saya Hanya Butuh Dua Puluh Satu Hari!

0
74

“Anda hanya butuh dua puluh satu hari untuk menyadari bahwa anda begitu amazing!”

Demikian kata dr. Andyka Sedyawan, penulis buku Amazing You! yang juga pendiri AmazingYou Institute ini. Saya mengikuti kelas beliau beberapa tahun lalu, tetapi kalimat ini masih terus terekam dalam benak saya.

Dr. Andhyka menjelaskan bahwa apa yang kita tanyakan akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita ucapkan, apa yang kita ucapkan akan menjadi tindakan kita, lalu tindakan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakter. Demikianlah karakter seseorang dibentuk.

Bila seseorang berpikir sesuatu yang positif, ia akan berkata positif, bertindak positif, memiliki kebiasaan positif, hingga memiliki karakter yang positif. Adapun masa dua puluh satu hari ini adalah bentuk latihan untuk membentuk itu semua. Apabila dalam dua puluh satu hari ini terlewatkan sehari saja, maka harus diulangi dari awal. Begitu latihannya.

Dalam penelusuran saya demi menguatkan pendapat dr. Andyka ini, masa dua puluh satu hari sendiri salah satunya tertuang dalam Jurnal European Journal of Social Psychology yang dirilis Phillippa Lally dari University College London. Phillippa menyebutkan bahwa untuk menciptakan habit atau kebiasaan seseorang harus melakukan hal yang sama setidaknya dalam waktu dua puluh satu hari hingga enam puluh enam hari.

Pendapat lain dikemukakan oleh seorang ahli bedah plastik bernama Dr. Maxwell Meltz tahun 1960. Maxwell mengungkapkan hasil observasinya terhadap para pasien yang telah selesai diamputasi. Ia menyimpulkan, bahwa proses adaptasi bagi pasien pasca amputasi terhadap kehilangan sebagian anggota tubuhnya serta membentuk kebiasaan baru adalah dua puluh satu hari.

Dalam pemaparan materinya dr. Andhyka menyebut bahwa sejatinya tidak ada orang yang kurang cerdas atau kurang beruntung, yang ada hanyalah orang-orang yang kurang memiliki motivasi. Kekurangan motivasi inilah yang pada akhirnya membawa seseorang gagal dalam mencapai satu titik yang ia inginkan. Bisa jadi titik itu berupa sebuah kesuksesan, kebahagiaan, atau sebuah pencapaian tertentu.

Hal ini berlaku umum, tidak ada pengecualian bagi para penulis sekalipun. Ali Muakhir, penulis serial anak sekaligus Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (FLP) mengaku merasakan beratnya berproses menjadi seorang writerpreneur, setelah sebelumnya menjadi orang kantoran.

Kejadian yang sama dialami sahabat saya Erwyn Kurniawan, beliau berkisah bahwa proses menjadi seorang writerpreneur memang berat, tapi bukan berarti tak bisa dilalui, salah satunya dengan motivasi berlipat serta fokus pada tujuan.

Untuk memuluskan jalan mencapai cita-citanya, Ali Muakhir membuat jadwal kegiatan sehari-hari untuk bisa tetap eksis berkarya, termasuk di dalamnya kapan ia harus menulis. Dua puluh satu hari menjadi ajang berlatih bagi Ali. Kantuk, lelah, dan banyak hal yang ia rasakan menjadi rintangan dalam memantapkan tujuannya sebagai seorang writerpreneur.

Ali Muakhir dengan segala perjuangannya berhasil menaklukan tantangan dirinya untuk menjadi seorang writerpreneur. Karyanya saat ini bertebaran di banyak toko buku ternama, bahkan mungkin juga salah satunya ada di lemari buku kita.

Kang Erwyn tak kalah hebat, untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang writerpreneur, beliau memutuskan berhenti bekerja, mengalami penurunan income, serta mendapati tantangan lain yang tak kalah berat. Saat ini, beberapa bukunya sudah beredar luas di negeri ini, bahkan ke luar negeri. Sekali lagi, kuncinya ketekunan dan semangat yang dijaganya terus menerus.

Sekelumit kisah perjuangan para penulis di atas, sungguh memberikan secercah harapan bagi saya. Bahwa untuk menjadi seorang penulis sejatinya saya hanya perlu terus menjaga semangat, fokus terhadap cita-cita, dan terus berproses, setidaknya dalam dua puluh satu hari secara terus menerus.

***

Terakhir, dalam kepesertaan saya di 30 Days Writing Challenge (DWC), saya mengajukan pertanyaan kepada Mbak Sari yang mengemban amanah sebagai General di 30DWC ini.

“Di pekan ke berapa para penulis mulai kehilangan semangat atau banyak yang DO (drop out), Mbak?”

Satu jawaban beliau yang membuat saya termotivasi untuk terus merenung dan meningkatkan semangat,

“Pekan kedua biasanya sudah banyak yang tumbang,” begitu kata beliau.

Mendapati jawaban Mbak Sari, saya langsung teringat dr. Andhyka Sedyawan tentang dua puluh satu hari mengubah karakter. Bisa jadi, saya tidak butuh tiga puluh hari untuk menyelesaikan tantangan menulis di 30DWC ini. Mestinya saya hanya butuh dua puluh satu hari saja!

Kenapa dua puluh satu hari? karena pada hari ke-22 sampai hari ke-30 saya tidak lagi harus mengais-ngais alasan untuk tidak menulis, melainkan saya sudah menjadi seorang penulis konsisten dan sadar yang terus berkarya dalam kondisi sesulit dan seberat apapun.

Pekan kedua, pekan yang sangat dekat dengan hari keduapuluhsatu. Hari dimana itu bisa jadi, justru menjadi titik awal timbulnya kontinuitas dalam menekuni dunia kepenulisan. Haruskah berhenti dan memupus harapan yang lebih besar? Atau bertahan memberangus segala rintangan?

Bagaimanapun ada cita-cita yang harus terus diperjuangkan. Cita-cita ingin meninggalkan warisan hasil olah pikir, meninggalkan karya yang turut mewarnai peradaban, serta manfaat diri yang tiada putus dengan menjadi seorang penulis.

Azzam saya, semoga selanjutnya tidak menjadi “Penulis Wanna Be“, yang hanya menunggu “nanti”, dan akrab dengan alasan “tapi”. Tapi penulis yang terus belajar dan tak henti menjaga motivasi. Semangat! (*)

Salam sukses bersama!
#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Squad3
#Day10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here