Siapa Lelaki Itu Eja?

0
470
Serial Kea, Adi, Dilan, Eja, dan Tera
Deru angin begitu tak bersahabat siang ini. Sapuan kencangnya telah mengangkat debu dari tanah yang lalu diaur-aurkan ke segala penjuru. Bersama awan hitam yang menggumpal luas di atas langit, perilaku angin siang ini cukup memberi pertanda hujan lebat akan turun tak berapa lama lagi.

Eja membelah hembusan kencang itu saat berjalan menuju ke kantin kampus. Ia mengangkat dua buah buku ke wajah untuk berlindung dari serangan debu. Jilbab merah jambunya seperti tertarik-tarik kesana kemari oleh sang bayu sehingga ketika telah sampai di kantin, Eja harus merapikannya lagi.

Di dalam kantin, sedang duduk berhadapan dua gadis yang di depannya masing-masing telah terhidang semangkok bakso bersama segelas jus jeruk. Mereka asyik berbincang di tengah hiruk pikuk pengunjung. Kehadiran Eja terlihat oleh salah seorang dari mereka yang lalu memanggil Eja yang tampak kebingungan mencari seseorang.

“Eja.. Sini..!”

Eja sontak melihat ke arah suara. Lantas senyumnya mengembang. Pipi tembemnya merekah di bawah gagang kacamata minus tiga yang terselip dalam jilbab, lalu kemudian bergegas menuju posisi dua orang tadi.

“Hai Tera, Kea… Assalamu’alaikum!” sapa Eja sembari menyalami mereka satu-satu, dan kemudian mengambil tempat di sebelah Kea.

“Mau pesen juga?” tanya Kea yang diikuti gelengan Eja.

“Aku udah makan siang tadi. Masih kenyang.”

“Ya sudah, kita duluan ya…” Tera berbicara sembari mengangkat handphone. Ia membidik hidangan di depannya dengan seksama, mengambil beberapa gambar, lantas jemarinya sibuk menyentuh menu-menu yang ada di aplikasi Instagram.

“Kalau udah selesai selfoodnya, jangan lupa baca bismillah ya kalau mau makan!” Kea mengingatkan.

“Okeee… Bismillahirrohmanirrohiiim…”

Mulanya Eja tak hirau dengan lahapnya dua orang di sekitar yang begitu menikmati makanan favorit di kampus itu. Ia menyibukkan diri dengan sebuah novel tebal yang baru setengahnya ia baca. Tetapi akhirnya Eja terusik juga. Air liurnya terbit. Perutnya yang telah terisi satu jam lalu mendadak kembali lapar.

“Ngiler juga kan? Pesen aja…!” ujar Tera saat menangkap tatapan Eja mengarah ke sendok yang ia pegang yang terisi potongan daging bakso.

“Mmm…” Eja ragu. “Pesen gak ya…?? Kalian seru banget sih makannya.”

Eja belum memberikan jawaban. Sesaat melamun, lalu tiba-tiba ia merogoh tas yang ia pangku dan mengeluarkan sebuah dompet. Teman-temannya menyangka Eja akan mengeluarkan uang dari dompet itu. Tapi tidak. Eja membuka dompet itu dan malah memandangi sebuah foto yang terpasang di dalam.

Kea yang ada di samping Eja sempat melirik. Tampak foto pria muda dengan sebuah pose. Tak begitu jelas terlihat karena Eja dengan cepat menutup dompetnya.

“Gak deh.” Ujar Eja.

Kea dan Tera saling pandang.

*****

“Aku pernah liat ada foto cowok yang dia jadiin pembatas buku. Siapa itu ya? Kamu pernah tanya siapa cowok di foto yang sering dia pandangin itu?”

Di kelas, Tera membuka percakapan dengan Kea. Dosen belum datang mengisi jam kuliah terakhir hari itu. Eja, yang sedang jadi topik pembicaraan, sedang tak ada di kelas. Barusan ia pamit pergi ke toilet kepada dua sahabatnya.

“Iya aku juga pernah liat Eja mandangin buku sambil senyam-senyum. Aneh. Pas aku mau ikutan lihat apa yang dia baca, dia buru-buru tutup bukunya. Tapi aku sempet lihat foto cowok itu. Aku tanya sih, itu siapa. Tapi Eja gak jawab,” Kea mengenang.

Belakangan ini sikap Eja terasa ganjil. Kawan-kawannya mendapati Eja suka memandangi handphone, isi buku, dan dompet sembari tersenyum sendiri. Tapi tak ada yang mengerti maksud dari sikap Eja. Saat ditanya, Eja hanya tersenyum dan tak menjawab.

Suatu ketika Eja mengeluh bosan dengan kuliah yang sedang berlangsung. “Aku ngantuk,” ujarnya. Kea yang ada di samping Eja memberi sedikit motivasi. Mata kuliah yang sedang diikuti punya bobot 4 SKS. Sayang sekali bila gagal. Eja kemudian membuka handphonenya, menatap ke layar agak lama, lalu senyum sendiri. Dan setelah itu ia terlihat bersemangat kembali.

Di kesempatan lain, Eja pernah diajak sholat dhuha oleh Kea ketika ada jam kosong di suatu pagi karena dosen tidak bisa hadir. Eja menolak. Bukan karena ia sedang berhalangan, tetapi karena ia sedang malas. Kea merayu Eja, mengucapkan kata-kata yang memotivasinya. Eja tidak bergeming. Tetapi kemudian Eja mengambil handphone, mengutak-atik sesaat, lalu menatap ke layar yang berukuran 4 inchi itu. Setelah itu, Eja bangkit dan bersemangat menuju masjid.

Kejadian-kejadian seperti tadi sering terulang. Setiap Eja merasa malas, merasa jenuh, merasa bete, ia akan memandangi sesuatu untuk mengembalikan semangatnya.

Tera pernah memergoki benda yang sering dipandang Eja melalui handphone, dari dalam buku, atau dompet itu adalah sebuah foto seorang pria muda. Begitu juga Kea, ia tak sekali memergoki Eja memandangi foto laki-laki. Tetapi siapa?

“Mungkin muhrimnya. Mungkin ayahnya,” ujar Kea.

“Masih muda kok. Kira-kira umur 30-an, atau 25 tahun ke atas,” bantah Tera.

“Berarti kakaknya.”

“Eja anak pertama.”

Kea diam.

“Kamu perhatiin gak, ada cincin di jari manis kanannya? Aku gak bilang dia udah nikah. Tapi, kemungkinan besar, dia udah tu… na… ngan…” ujar Tera lagi.

“Ya… mungkin aja,” jawab Kea.

“Tapi kalo tunangan itu udah halal belum sih, Kea? Maksudnya, kalo kita udah tunangan, kita udah boleh berduaan atau pandang-pandangan gak sih? Kan walaupun tunangan, bukan berarti sudah nikah.”

Kea tidak sempat menjawab. Eja sudah masuk kelas kembali.

*****

“Kamu cari sepatu yang kayak mana sih?”

Suara Tera menyelusup di tengah keramaian pengunjung mal. Ia dan Kea diminta oleh Eja untuk menemani berbelanja sepatu sepulang kuliah sore ini.

“Lho kok kamu malah ke tempat sepatu cowok?” Kea bertanya kebingungan melihat gerak temannya.

Sementara itu langkah kaki Eja lincah menyelinap di antara rak-rak sepatu yang terpajang. Ia memang mengarah ke area sepatu pria. Di situ terpajang sepatu formal hingga sepatu olahraga.

“Memang bukan buat aku,” jawab Eja. Ia berhenti di depan sepatu futsal yang ngejreng dengan paduan warna kuning-merah. “Bagus gak?” tanyanya lagi.

“Bagus. Kamu yakin milih sepatu ini? Harganya segitu lho…” Kea menunjuk ke papan harga. Terpampang tulisan Rp 499.000 discount 35%.

“Jadi berapa kalo diskon tiga puluh lima persen?” tanya Eja.

Tera sigap mengoperasikan handphone yang sedang ia pegang. Dan sebentar kemudian berujar, “Tiga dua limaan… Yakin?”

Eja terdiam. Lantas ia mengambil dompet dari tasnya, mengeluarkan sebuah kartu atm, dan memandangi sebuah foto agak lama. Tiba-tiba Tera usil merebut dompet yang ada di genggaman Eja.

“Tera…!!” Eja terkejut dan mencoba mengambil kembali dompet itu. Tetapi tangan Tera tak kalah gesit menghindar.

“Waah… cakep Ja. Itu tunangan kamu?” tanya Tera sembari mengembalikan dompet kepada Eja setelah puas melihat foto di dalam dompet itu.

Eja diam dan cemberut. Warna mukanya berubah merah. Ia tak berkata apa-apa kecuali melambaikan tangan kepada pramuniaga dan meminta nota pembelian sepatu dengan model pilihannya yang berukuran 42. Lantas ia berjalan menuju kasir diikuti kedua temannya.

“Eja maaf… kamu marah ya? Maaf…” Tera menghimbau. Eja tak menjawab. Suasana menjadi tidak enak.

Eja berjalan cepat-cepat keluar dari outlet sepatu itu. Masih diikuti oleh dua temannya.

“Eja… Maaf…”

Tiba-tiba handphone Eja berbunyi. Ia menghentikan deringan dengan memencet layar dan kemudian mengangkat handphone itu ke telinganya.

“Aku sudah di dalam mal, Pa..”

*****

Sebuah meja putih di area food court di dalam mal telah dikelilingi oleh tiga gadis dan satu pria. Mereka tengah menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Saling berbincang, dan sesekali melepas tawa.

“Papa… Ini sahabat-sahabat baru aku yang sering aku ceritain ke Papa. Ini Kea. Anaknya sholehah. Jilbabnya rapi. Suka ngasih nasehat yang bikin adem. Yang bikin aku makin semangat belajar Islam,” Eja menunjuk ke arah Kea.

“Dan yang ini Tera. Anaknya kadang nyebelin, tapi lucu dan ngangenin. Gaul. Gen Z banget. Selalu update kalo soal sosmed,” lanjut Eja sambil menunjuk ke arah Tera.

“Oh. Salam kenal ya. Terima kasih udah jadi teman yang baik buat Eja,” ujar pria yang dipanggil “Papa” oleh Eja.

“Dan ini Pa… Selamat ulang tahun…!! Maaf gak sempet dibungkus kado. Kirain papa masih lama sampe ke sininya.” Eja memberikan sebuah kantong yang berisi sepatu yang dibelinya tadi. Hadiah itu langsung dibuka oleh Papanya.

“Waaah… Sepatu futsal. Insya Allah papa akan rajin olahraga lagi. Terima kasih ya sayang. Uangnya dari mana ini?” Papanya Eja tampak terharu. Tercampur rasa bahagia di hatinya. Tangannya membelai jilbab merah jambu Eja.

“Eja tabung, Pa,” jawab Eja.

Sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun disodorkan oleh Eja kepada Papanya. Di belakang kartu itu terpampang sebuah foto yang terlihat jelas oleh Tera dan Kea. Tera tahu persis foto itu. Ia telah melihatnya tadi di outlet sepatu. Kea lantas menyela suasana dengan permintaan maafnya.

“Eja, kami minta maaf atas kesalah pahaman selama ini. Tingkah kamu belakangan aneh. Suka mandangin foto cowok. Kami gak nyangka kalau itu foto papa kamu. Kami sempet berfikir kalau kamu punya pacar atau tunangan,” Kea berkata dengan lembut dan hati-hati.

“Iya… Aku juga minta maaf sama Eja dan om. Aku sempet ngira kalo om itu tunangannya Eja. Abisnya… wajah om baby face banget sih.” Tera menyusul meminta maaf. Mimik muka, nada suara, dan kikuknya mengundang tawa.

“Ah… Papa mah kalo dipuji gitu pasti idungnya langsung megar deh…” Eja menggoda.

“Hahaha… Memang jarak om sama Eja cuma 22 tahun. Tidak terlalu jauh. Bukan cuma kamu kok yang bilang om awet muda. Kadang masih ada aja yang nyangka om masih bujangan,” celetuk papanya Eja.

“Idiiiih… Papa jangan genit ya!” ujar Eja sembari mencubit lengan papanya.

“Gak apa-apa kok Kea, Tera. Bagi aku, Papa itu sumber inspirasi. Makanya kalau aku lagi males, aku pandangin foto Papa.

Tadi siang aku kepengen banget makan bakso. Hampir aja uang beli sepatu ini kepake buat bakso. Makanya aku cari semangat untuk melawan rasa ngiler dengan pandangin foto Papa.

Semenjak Papa kecelakaan di tempat kerja beberapa bulan lalu, aku jadi ngerti bagaimana susahnya Papa berjuang untuk keluarga. Dan semenjak itu juga aku bertekad untuk kuliah dengan serius, jadi anak yang baik-baik, supaya letihnya Papa gak sia-sia.” Eja berbicara panjang lebar.

“Oh… Waduh, Papa jadi terharu, anak Papa sampe gak makan buat beliin Papa kado,” ujar Papanya Eja.

“Iya Pa… Makanya, nanti di rumah, ganti ya uang Eja!” kata Eja diikuti gelak tawa teman-temannya.

“Yeee… Itu mah sama aja boong.”

“Selamat ulang tahun ya, Pa. Dan walau pun telat, harusnya tanggal 12 November kemaren, Eja juga mau ngucapin selamat hari ayah….” Eja mengambil tangan Papanya untuk dicium.

Matahari sempat tersenyum sebelum sebentar kemudian menenggelamkan diri ke dalam ufuk. Suara adzan maghrib pun bersahutan dari rumah-rumah Allah. Tak lama, ke empat orang tadi beranjak pergi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here