Simpul Waktu

0
3

Kehidupan adalah untaian tali waktu. Padanya terdapat simpul-simpul yang menyatukan potongan waktu yang satu dengan yang lain.

Simpul-simpul itu adalah titik terbaik bagi kita berdiri untuk memindai kembali potongan waktu yang telah berlalu, menelusuri kembali dengan rinci untuk menemukan apa yang harus kita mintakan ampunan, apa yang harus diperbaiki, atau yang harus ditingkatkan.

Mengamalkan nasihat Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a., “Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbanglah diri kamu sebelum kamu ditimbang dan bersiaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kamu barang satu pun.”

Simpul itu ada yang bernama pergantian tahun. Hijriah atau masehi, dua-duanya merupakan simpul yang menyatukan dua rentang waktu yang kita hidup di dalamnya. Air mata di malam pergantian tahun yang mengalir karena takut terhadap Dzat yang tak pantas kita berbuat lancang pada-Nya selama setahun belakangan, jauh lebih mulia daripada kembang api yang melukiskan pemandangan indah di langit gelap.

Simpul itu bisa juga bernama bulan. Simpul itu bisa bernama pekan. Bisa juga bernama hari. Jelang mata terlelap, melayangkan ingatan pada aktivitas seharian tadi, lalu memeriksanya dengan rinci kedurhakaan apa yang telah diperbuat kepada Allah swt.

Seorang sahabat dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah saw karena ada kebiasaan pada dirinya yakni melepaskan semua dengki dan dendam kepada sesama manusia sesaat sebelum tidur. Itu juga bagian dari muhasabah.

Yang lebih kecil lagi, simpul itu adalah waktu Ashar dan Shubuh. Di saat tersebut terjadi pergantian malaikat yang bertugas di bumi.

Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah saw bercerita. “Para Malaikat malam dan Malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat Fajar (Subuh) dan ‘Ashar. Kemudian Malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta’ala bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya), ‘Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu? ‘ Para Malaikat menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat’.” (HR Ahmad)

Pada simpul Ashar dan Shubuh, malaikat melaporkan amal manusia kepada Allah swt. Sehingga bagi orang yang senantiasa waspada terhadap dirinya, simpul itu menjadi tempat yang rutin ia duduki untuk merenungi apa yang telah ia kerjakan kurang lebih 12 jam lalu. Dua kali dalam sehari bermuhasabah.

Indahnya bila pada dua simpul dalam sehari itu kita termasuk orang yang dilaporkan oleh malaikat sedang melakukan ibadah dan termasuk yang dimintakan ampunan. Dan ideal sekali bila bisa mengisi tiap simpul waktu (hari, pekan, bulan, tahun, dll) dalam hidup dengan taubat dan amal sholeh.

Simpul yang paling akhir adalah kematian. Maka, sebagaimana pada simpul shubuh dan ashar, kita pun ingin berada di simpul itu sedang dalam melakukan kebaikan. Husnul khotimah. Ketika tak lagi diberi kesempatan bertaubat, semoga amal sholeh yang terakhir dikerjakan menjadi penggugur dosa sepanjang hayat.

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari)

Pada simpul waktu, mari bermuhasabah, bertaubat, dan mengisinya dengan hal yang baik.

Zico Alviandri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here