Tak Ada Bunga untuk Ayah

0
343

Muhammad Fauzi

Suasana duka nyaris tak lagi tersisa. Tradisi perkotaan umumnya lebih sederhana dalam menyelenggarakan prosesi kematian. Apalagi almarhum adalah mantan Ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) di kabupaten ini.

Hanya saja karangan-karangan bunga yang berjejer itu, bahkan jumlahnya mungkin sampai puluhan buah, hanya ia yang masih terus berbicara untuk melukiskan tentang duka yang baru saja terjadi.

Banyak dari kolega almarhum, pejabat, instansi dan lembaga yang berhubungan dengan beliau mengirimkan karangan bunga sebagai ungkapan bela sungkawa. Namun meskipun almarhum adalah mantan ketua PDM, tak ada satu pun karangan bunga yang berasal dari keluarga besar Muhammadiyah.

Ah, apa Muhammadiyah terlalu pelit untuk membeli sebuah karangan bunga. Ataukah Muhammadiyah terlalu miskin bagi harga sebuah karangan bunga saja. Tapi aku rasa tidak demikian.

Pernah suatu waktu, Ketua PWM bercerita di sebuah pengajian, ada saudara dari NU yang terheran-heran dengan keberadaan Muhammadiyah di sebuah kota. Muhammadiyah itu wiridnya apa, kok bisa sehebat itu, punya rumah sakit, punya universitas, padahal Muhammadiyah itu orangnya hanya segelintir, NU yang anggotanya banyak saja tidak bisa.

Muhammadiyah itu sumber dayanya terbatas. Tapi ia berisi orang-orang yang berpikiran melampaui tradisi orang kebanyakan. Sehingga dari keterbatasan itu, sumber daya digunakan lebih terarah dan efektif.

Jika ormas lain bisa menggelar istighotsah atau shalawat dengan biaya hingga 300 juta, biasa mengadakan pengajian dengan anggaran puluhan juta, sering mengadakan seremonial dalam berbagai bentuknya, atau rutin melakukan ziarah yang membutuhkan biaya tidak sedikit, mungkin Muhammadiyah terlalu miskin untuk hal-hal semacam itu. Termasuk untuk membeli kembang api di hari lebaran, menyelenggarakan pesta-pesta mewah atau hanya untuk sebuah karangan bunga.

Pernah ada orang bercerita, di daerahnya Muhammadiyah membangun rumah sakit yang fasilitasnya seperti hotel, tetapi tarifnya biasa. Muhammadiyah menjadi bagian aktif dari mereka yang menginginkan umat ini mencapai kemajuan dan tidak tertinggal dengan umat lain. Agar umat ini memiliki lembaga pendidikan atau kesehatan yang tidak kalah dengan yang dimiliki umat lain. Agar universitas-univetsitas itu bisa memiliki gedung yang lebih megah dibanding universitas negeri sekalipun.

Sehingga tidak perlu lagi ada pertanyaan dari anak-anak Muhammadiyah, “Mengapa tidak ada bunga untuk ayah?” Iya, karena ia diberikan untuk anak-anak yatim agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik, atau kepada orang miskin agar mendapat pelayanan ambulan secara cuma-cuma. Agar umat ini memiliki lembaga pendidikan atau kesehatan yang tidak kalah dengan yang dimiliki umat lain. Agar universitas-universitas itu bisa memiliki gedung yang lebih megah dibanding universitas negeri sekalipun. Dan semua itu lebih indah dari karangan bunga yang terpajang beberapa saat, kemudian teronggok menjadi tumpukan sampah.

Pernah dikatakan dalam sebuah pengajian di PDM, “Seandainya NU itu dikelola seperti Muhammadiyah, luar biasa. Tapi…”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here