Ummat Yang Rindukan Persatuan

0
65

Peristiwa 212 tahun 2016 lalu, mungkin hanya ‘sekadar’ pemantik. Hingga dua tahun berselang, Monas dan sekelilingnya masih dipadati oleh Ummat Muslim Indonesia pada tanggal 2 di bulan ke-12.

Bagi mereka yang sedari awal tidak 1 signal, berasumsi dengan berbagai dugaan.

Baik di tahun 2016 sampai 2018 saya belum pernah absen, dan Alhamdulillah dapat merangsek masuk ke ring 1 alias dekat dengan panggung. Jadi ketika berada disana tidak banyak tahu keadaan diluar yang ternyata peserta meluber keluar Monas.

Untuk tahun ini, saya datang agak kesiangan dan jadilah dapat merasakan bagaimana tertahan di stasiun Gondangdia selama setengah jam dengan ribuan orang yang bersholawat, meredam panik dan chaos. Tidak ada saling dorong, sikut, semua tertib bahkan saling menasihati, “Awas didepan tangga, lihat kebawah, persiapkan kartu KMT nya agar cepat”

Pun ketika memasuki area, para peserta tiada henti bersholawat dan sesekali diiringi Takbir.

Sepanjang perjalanan, saya berpikir betapa besar kecintaan mereka terhadap Islam. Peluh – penat terhalang semangat. Ya, Ummat Muslim Indonesia merindukan persatuan!

Anda tidak hanya akan meihat massa FPI, PKS maupun HTI. Tapi disana akan menemukan, beberapa pria gondrong bercat emas, para jawara yang mengkoleksi batu akik hampir diseluruh jemarinya. Atau malah anda akan bertemu ibu-ibu yang biasanya memberi sen ke kanan tapi belok ke kiri.

Berbagai rupa, penampilan dan karakter. Apatah lagi motif dan sikap mereka ketika berada di lapangan.

Yang meneriakan Prabowo, ada. Yang menyerukan ganti presiden juga ada. Tapi apakah lantas dapat dijadikan headline news bertajuk, “Reuni 212 adalah Ajang Politik Capres Tertentu” dengan tambahan, “Bermodal 20 miliar peserta dibayar perkepala 100rb”.

Terlalu kecil rasanya…

Ghiroh ummat tidak akan mampu dibayar seharga rupiah. Bahkan anda akan terkejut jika mengetahui peserta yang berasal dari Sumbar, alih-alih kecewa karena dilarang menyewa bus untuk keberangkatan ke Monas, mereka men-carter 3 pesawat!

Segenap dana, tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan itu hanya bertujuan agar dicatatnya mereka dalam jama’ah kebaikan.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi satu percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang berusia sekitar 6-7 tahunan yang berjalan tepat didepan saya. Ketika menuju area bersama ribuan orang yang berjalan bersama, “Bun masih jauh nggak? Aku capek” tanya si adik berjilbab imut. Bundanya menjawab, “Sebentar lagi kok… Sabar ya, nggak apa-apa di sini capek, tapi nanti di Surga nggak”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here