Ustadz Surianda Lubis: Guru yang Jadi Teladan dalam Dakwah dan Cinta

0
7
Ustadz Surianda Lubis/Facebook Surianda Lubis

Sepulang musyawarah pembentukan Presidium Ormas dan Komunitas Islam Kota Binjai tadi malam, saya mendapat kabar bahwa Ustadz Surianda dilarikan ke RS Bina Kasih Sunggal diduga karena hipertensi. Bakda subuh, berita berikutnya datang: beliau belum sadarkan diri, mengalami pendarahan di otak dan harus segera di otak. Dan tak lama tiba di kantor belasan grup Whatsapp yang saya ikuti tak henti mengirim notifikasi. Isinya: sang guru yang dicinta telah berpulang menghadapNya. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Hampir saya kebingungan bagaimana menahan isak di hati. Baru lagi kami berjumpa beberapa hari lalu dalam kondisi beliau yang bugar. Beliau lantunkan doa tentang tsabat, keteguhan di jalanNya.

Sulit rasanya melupakan kenangan manis bersama beliau. Beliaulah ulama dan guru yang senyumnya membahagiakan setiap orang. Setiap yang disapanya merasa amat diperhatikan. Seolah sudah karib dekat sementara yang lain tidak. Padahal semua saudara yang berjumpa diperlakukannya serupa: dijabat erat tangannya sambil ditatap wajahnya. Masya Allah. Saya seperti membaca kisah Hasan Al Banna dalam kitab Ath-Thariq Ilal Qulub karya Abbas As-Sisi yang terjemahan Indonesianya berjudul “Bagaimana Menyentuh Hati.”

Saya mendengar ceramah beliau sejak SMA. Isinya mungkin sederhana. Tapi beliau selalu hadirkan sudut pandang yang berbeda. Unik. Menyejukkan. Sirah diangkat dengan perspektif yang menggugah nurani. Diksi-diksinya yang terpilih begitu menghentak hati. Apalagi kalau beliau sudah lantunkan doa, rasanya tak ada yang bisa menahan air mata untuk berlinangan.

Semua yang pernah mengenal beliau pasti sepakat bahwa beliau adalah teladan dalam banyak hal. Ia suguhkan kepada kita bukan hanya lautan ilmu, tapi juga contoh perilaku. Kesantunan bertutur kata, keramahan sikap, kesederhanaan dan kebersahajaan gaya hidup.
Walau pernah jadi Wakil Ketua DPRD Medan, beliau tetap menjalani hidup -bisa dibilang- dengan zuhud.

Alumni UIN Sumatera Utara angkatan 96 ini jiga dikenal sebagai pembina berbagai komunitas dakwah anak muda Medan yang berpusat di Masjid Al Jihad. Ahad 13 Januari kemarin beliau baru saja mengisi talk-show “Dakwah Sosial Media Zaman Milenial” bersama content creator dan selebgram @fuadbakh di Masjid Al Jihad Medan.

Beliau pun pernah menjadi Pembina di komunitas menulis kami Forum Lingkar Pena Sumatera Utara. Sebab memang beliau termasuk yang tekun menulis. Beberapa tulisannya pernah menghiasi koran lokal. Ketika saya masih kuliah di Unimed, beliau menjadi kolumnis di Majalah Asy-Syifa terbitan LDK BTM3. Beliau juga membantu crowdfunding film Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali besutan Mbak Helvy Tiana Rosa. Inilah di antara proyek kebaikan yang beliau turut menyokongnya.

Pernah suatu kali saya memoderatori beliau ketika mengisi sebuah acara daurah (pelatihan) pranikah. Waktu itu saya hadiahkan buku saya “Married Because of Allah” untuk beliau. Sejak itu, asal ketemu beliau selalu memanggil saya “Abang Penulis”.

Allahu Akbar. Sungguh tak terlupakan. Beliau juga sempat mengisi Isra’ dan Mi’raj bertema “Shalat dan Integritas” di kantor kami. Saat itu kami sekaligus meresmikan program pembinaan mental pegawai yang hingga kini kami lestarikan dengan kegiatan micro learning pekanan.

Gurunda, kami menjadi saksi atas semua ketulusan dan pengorbananmu di jalan kebaikan. Hari ini peristiwa kembalinya engkau ke pangkuan Rabbul Alamin jadi pelajaran bagi kami. Orang-orang melihat flyer kajian di komunitas “Generasi Perindu Surga” yang akan kau isi Ahad pekan depan. Temanya “Taubat dan Ajalku Tak Menunggu Siapku”. Subhanallah.

Sebelumnya di momen pergantian tahun, kau turut berbagi inspirasi dalam event Muslim Brothers yang dihelat Aliansi Satu Cinta. Cuplikan tausiyahmu lagi-lagi menohok kami. Aku menyimaknya di akun instagrammu. Judulnya saja sudah menampar-nampar jiwa kami: “Melalaikan Waktu Lebih Buruk dari Kematian”. Kau lalu mengutip atsar seorang ulama, “Orang yang melalaikan waktu pada dasarnya menjauhkan dari Allah dan negeri akhirat, memisahkan jiwa dari pemiliknya dan akhirat. Sementara kematian itu cuma memisahkanmu dari dunia dan keluargamu.”

Allahu Akbar.

Gurunda, kau telah menepati janjimu dengan Rabbmu. Kau telah tuntaskan perjuangan di dunia dengan pelbagai amal kebajikan. Tinggallah kami yang terseok-seok amalnya ini menanti giliran.

Doa kami agar engkau husnul khatimah. Doa kami pula supaya ananda Atqiyah dan Subhan Najiyullah menjadi pelanjut jihadmu dan pewaris kesetiaanmu dalam berjamaah.

Keluasan ilmumu dalam kajian Quran, muhasabah, parenting, pranikah hingga dakwah insya Allah menjadi amal jariyah yang tak akan putus sampai kapan pun.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

Medan, 16 Januari 2019
Anugrah Roby Syahputra

Source: facebook.com/story

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here