Wahai Muslim, (Jangan) Bunuh Yahudi!

0
245

Cerpen oleh: Muhammad Fauzi

“Percayalah, berikan kunci itu hanya kepada muslim! Hanya muslim yang bisa memberimu maaf.”

“Kau menjanjikanku maaf, sedang kau tak tahu perbuatanku atas dunia?”

“Setidaknya aku tahu…”

“Tidak! Belum seberapa yang engkau tahu. Tak ada yang mengetahui tentangku selain aku sendiri.” Ia langsung memotong ucapanku.

“Setidaknya aku telah tahu tentang ketidaktahuanku.”

Aku memberinya isyarat dengan tanganku agar ia diam. Dan Sebelum ia kembali bicara, aku buru-buru lanjutkan ucapanku, “Ketika dunia mengetahui makar yang kalian lakukan, seluruh dunia akan menumpahkan amarahnya, dan itu akan sangat mengerikan bagi kalian.

Aku masih memberi isyarat kepadanya untuk diam, kemudian kukatakan kepadanya, “Dengarkan aku, ketika Hittler membantai kalian, hanya muslim yang memberi perlindungan yang aman kepada kalian di rumah-rumah mereka. Ketika kalian terbantai secara keji di Andalusia, hanya Khalifah Utsmani yang memberi tempat tinggal bagi kalian di negerinya. Ketika kalian terhina dan terusir, terlunta-lunta dan tertindas oleh bangsa-bangsa lain, hanya muslim yang memberi kalian perlakuan lebih baik. Dan ketika kelak setiap batu dan pohon semua berkata, “Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah,” hanya muslim yang sanggup meredam amarah dan dendam yang tak terperikan itu.”

“Engkau bermaksud mengelabuhiku di saat kau tak berdaya saat ini?”

“Mungkin iya. Tapi meski seluruh dunia percaya propagandamu bahwa Islam itu agama teror, tapi engkau lebih tahu atas propaganda yang kau buat sendiri. Engkau masih mengenali sifat rahmah yang ada pada diri kami. Tak akan tumbuh hati selapang Salahuddin al Ayyubi selain dari kami. Tak akan tercipta kemenangan seindah Fathu Makkah selain dari tangan-tangan kami.”

“Itu hanya hayalanmu untuk menakutiku.”

“Engkau lebih tahu tentang ajalmu. Ketika engkau merasa hampir menyempurnakan tipu dayamu, berarti berlakunya ketetapan atasmu telah dekat.”

“Engkau pikir mengelabuhiku, sedang engkau mengelabuhi dirimu sendiri?”

“Engkau lebih tahu tentang ketetapan yang akan terjadi atasmu.”

“Lalu untuk apa kuserahkan, jika ketetapan itu telah pasti?”

“Agar ia berakhir indah. Meski suratan itu harus terjadi, aku tak ingin batu dan pohon menyeru kami untuk membunuhmu, tapi aku ingin kau juga menikmati kedamaian akhir zaman yang dijanjikan bersama kami.”

“Kau jamin itu?” Ia membentakku.

“Tidak juga.” Aku pun berat menjawabnya.

“Kau jamin atau senapan ini akan segera memuntahkan pelurunya.” Aku lihat ia mulai gemetar.

“Aku tak mau mendustai diriku, hanya karena saat ini aku tak berdaya.”

Kemudian aku letakkan tas yang kubawa ini, akupun beranjak melangkahkan kakiku.

Ia juga menggerakkan senapan di tangannya, tetapi ada keraguan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here