Tragedi Monster Pokemon

0
330

|| Kontributor: Zico Alviandri ||

Serial Cerpen Kea, Adi, Dilan, Eja dan Tera.

Baru kali ini Mang Asep terlihat begitu marah. Mukanya memerah. Matanya melotot. Dengan agak membentak ia berkata, “Kalian ini lagi ngapain, hah?” Suara Mang Asep memenuhi ruang utama masjid yang berdiri di tengah kampus itu. Beberapa orang yang mendengar tersentak kaget dan sontak melihat ke sumber suara.

“Ini mang… lagi mau nangkep monster pokemon,” jawab seorang mahasiswa yang sedang berjalan mendekati mimbar sambil mengarahkan handphonenya ke satu titik. Cuek.

Ada dua orang yang ditanya. Seorang lagi tak mempedulikan kemarahan Mang Asep. Ia sibuk memainkan handphonenya sembari mondar-mandir di area masjid.

“Monster itu apa?” Mang Asep bertanya lagi.

“Monster itu…. Hantu Mang,” jawab anak itu lagi tanpa melihat ke arah Mang Asep.

“Hah? Setan? Astaghfirullah…” Tiba-tiba Mang Asep berjalan mendekati mimbar, lalu bibirnya bergerak merapalkan ayat kursi. “Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum…”

Seorang anak yang sadar bahwa Mang Asep telah salah paham segera mendekat. “Mang, monster itu bukan jin. Itu cuma game handphone. Permainan di handphone. Gak perlu meruqyah gitu Mang.”

“Oh… Cuma game. Tapi kenapa maen game kok mondar mandir di dalam masjid? Mengganggu orang sholat. Coba kamu kasih tau temen kamu, Dilan. Supaya berhenti maen game,” ujar Mang Asep kepada anak tersebut yang bernama Dilan.

Dilan terdiam sejenak. Lantas ia menghimbau agar kedua temannya yang sedang mencari monster pokemon itu berhenti.

“Hey, kalian denger ya! Di dalam masjid itu mencari barang hilang aja dilarang. Apalagi mencari setan. Walaupun cuma maen game, tapi kelakuan kalian ini mengganggu orang sholat. Keluar sana! Keluar!” Mang Asep kembali bersuara keras.

Mendengar mereka diperintah keluar, dua anak tadi akhirnya berhenti bermain.  Kemudian mereka berjalan mengambil tas yang diletakkan di salah satu sisi masjid, lantas keluar dari rumah Allah itu.

Dilan hanya melongok melihat teman-temannya terusir. Beberapa saat kemudian kakinya melangkah tergesa menyusul kedua temannya.

*****

“Kalian gak marah kan?” Dilan bertanya sambal membuntuti langkah-langkah besar dua temannya di depan. Mereka teman satu kelas Dilan.

“Rese’ tuh orang. Cuma marbot aja berani ngusir-ngusir orang dari masjid. Padahal yang bayar kampus ini kan kita. Dia yang terima gaji sebagai marbot. Mikir dong,” jawab salah seorang temannya.

Dilan terkejut. Tak membayangkan akan dijawab dengan nada marah sedimikian rupa.

“Mampir dulu deh yuk, ke kantin. Kita ngobrol dengan kepala dingin,” tawar Dilan.

“Iya, kita memang mau makan siang kok.”

Langkah mereka bertiga bermuara di sebuah warung makan yang agak ramai dikunjungi mahasiswa. Terdapat sebuah meja kosong yang dikelilingi empat bangku kayu di pojok warung. Mereka buru-buru menempati bangku-bangku itu. Kemudian bergantian memesan makanan.

“Jadi kamu marah, Jalih?” Dilan bertanya sekali lagi kepada temannya yang menjawab ketus tadi.

“Siapa yang gak jengkel diusir di depan orang-orang begitu?” jawab Jalih di sela mengunyah makanan.

“Kalo kamu, Adi?” Seorang lagi bernama Adi. Dilan meminta pendapatnya.

“Ya jengkel juga, Dilan. Mungkin kita salah ya. Tapi apa gak bisa ditegor dengan baek-baek? Kenapa harus dipermalukan di depan umum?”

Dilan mengangguk-angguk. Mengerti perasaan mereka.

“Tapi kalian gak kapok ke masjid kan? Masih mau ikut mentoring kan?”

“Aku sih yes. Kecuali kalo diusir lagi sama Mang Asep. Tapi gak tau kalo mister Jalih,” Adi yang menjawab.

“Gwe no. Maaf. Gw gak mau ngeliat muka marbot itu lagi. Di gedung A ada musholla walaupun sempit. Gw kalo mau sholat, di sana aja,” jawab Jalih.

“Lho kok gitu?”

“Ya gitu.”

Dilan berjuang cukup lama dan tak mudah untuk mengajak kedua temannya agar rajin ke masjid. Di awal-awal kuliah, Dilan langsung dekat dengan Adi. Tak lama kemudian, mereka berdua juga akrab dengan Jalih dan beberapa teman lain. Lalu terbentuklah sebuah “geng“ yang sering berkumpul bersama di kosan salah satu dari mereka. Menginap, mengerjakan tugas, bermain game komputer, dll.

Namun begitu, tak serta merta Dilan bisa menularkan kebiasaan ke masjidnya kepada teman-teman. Dilan memang konsisten untuk ke masjid. Di kosan teman ketika gengnya sedang berkumpul, Dilan selalu berangkat ke masjid terdekat bila mendengar adzan. Pun ketika sedang menginap, adzan shubuh yang berkumandang di pagi buta tetap Dilan sambut.

Setiap berangkat ke masjid Dilan tak lupa mengajak teman-temannya. Awalnya mereka enggan. Tapi lama kelamaan mau ikut juga. Awalnya hanya maghrib, lalu isya’. Di kampus pun Dilan mengkondisikan teman-temannya agar sholat zhuhur atau ashar bila sedang tidak ada kelas. Lama-lama mereka ikut bangun untuk sholat shubuh berjamaah.

Yang paling terpengaruh oleh Dilan adalah Adi dan Jalih. Mereka berdua sampai mau ikut mentoring yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rohis, tempat Dilan aktif menimba ilmu bersosialisasi.

Kini Dilan harus menghadapi kenyataan bahwa kedua temannya sedang “ngambek” karena dimarahi Mang Asep, lulusan pesantren di Garut yang bekerja sebagai marbot masjid. Dilan khawatir mereka berdua malah memusuhi masjid kampus setelah kejadian ini.

*****

Malam harinya di dalam masjid kampus, Dilan menceritakan kejadian tadi siang kepada kak Mario, seniornya di Rohis. Segenap kekhawatiran telah ditumpahkan Dilan. Ia takut bila Adi dan Jalih tak mau lagi ke masjid. Dan ia juga takut bila Mang Asep melarang mereka kembali ke masjid.

Mario mendengarkan dengan seksama. “Ya udah. Sekarang kamu ikut kakak temuin Mang Asep,” ujarnya.

“Buat apa kak?”

“Kita mintakan maaf atas kelakuan Adi dan Jalih. Semoga mereka gak di-black-list dari masjid oleh Mang Asep. Kita coba juga sadarkan dia kalau sikapnya terlalu keras kepada mahasiswa.”

“Hah? Apa Mang Asep mau terima kalo kita bilangin?”

“Coba aja dulu. Yuk ikut kakak ke minimarket cari kopi. Dia paling seneng dibawain kopi. Kita buka dulu hatinya biar nyambung obrolannya.”

Mereka berdua bergegas menuju minimarket terdekat. Dan tak lama kemudian sudah berada di depan pintu rumah Mang Asep yang tinggalnya tak jauh dari masjid. Pintu terbuka setelah diketuk bersama ucapan salam. Seorang lelaki paruh baya mengenakan sarung dan berkaos singlet menerima mereka dan mempersilakan masuk ke dalam.

Obrolan dibuka dengan basa-basi. Menerima hadiah sebungkus kopi mahal, Mang Asep sumringah. Sigap ia beranjak ke dapur untuk menyeduh tiga cangkir kopi untuk dirinya dan dua orang tamu itu.

Obrolan berlangsung hangat.
“Bahkan mencari atau mengumumkan barang hilang saja tidak boleh di masjid. Apalagi ini cari setan-setanan di masjid. Masak maen game pake setan-setanan? Mau bikin Jelangkung?” tukas Mang Asep setelah Mario dan Dilan menyinggung kejadian tadi siang.

“Iya Mang. Kepada adek-adek, saya memang agak membebaskan mereka. Soalnya anak zaman sekarang susah diajak ke masjid, Mang. Saya khawatir kalo saya kerasin, mereka kapok ke masjid,” Mario berbicara.

“Mang Asep inget kisah seorang Arab Badui yang kencing di masjid?” tanya Mario.

“Oooh yang dimarahin Umar? Tapi Nabi diem aja, cuma nyuruh orang untuk nyiram bekas kencingnya di tembok,” jawab Mang Asep.

Kisah yang dimaksud ada pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. Suatu ketika seorang Arab Badui tiba-tiba kencing di salah satu sudut masjid. Orang-orang menghalangi, termasuk Umar r.a. yang marah besar. Tetapi Nabi saw. melarang orang-orang mengganggu Arab Badui tadi sampai hajatnya selesai. Setelah itu Nabi saw. memerintahkan agar disediakan seember air untuk diguyur ke tempat kencing tadi. Kemudian Nabi menegur orang Arab Badui tersebut dengan lembut. Akhlak Nabi itu begitu membekas, membuat kagum si Arab Badui.

“Iya Mang. Saya ingin mendidik mereka pelan-pelan. Yang penting hati mereka terikat dulu dengan masjid. Setelah itu, saya akan menerangkan kewajiban dan larangan di dalam masjid. Anak-anak itu kan tidak punya latar belakang pendidikan agama formal, seperti Mang Asep yang lulusan pesantren. Mereka, termasuk saya, masih minim ilmunya tentang Islam. Agak susah diajak belajar ilmu agama,” terang Mario.

Mang Asep manggut-manggut. “Anak-anak itu gimana sekarang? Apa mereka gak mau ke masjid lagi?”

“Yang satu sih masih mau Mang, kalo gak diusir Mang Asep lagi. Tapi yang satu lagi gak mau. Ngambek,” jawab Dilan.

Mang Asep tertawa. “Yaa… iya iya… Nanti kalo ketemu anak itu, saya akan nasehatin baek-baek.”

“Mereka gak dilarang ke masjid lagi kan Mang?” tanya Dilan?

“Enggaaaak… Boleh kok ke masjid lagi asal bener-bener ibadah. Sampein salam Mang Asep ke mereka ya. Bilangin, Mang Asep ini dari kampung. Gak makan bangku kuliahan kayak mereka. Ya maaf kalo ada kelakuan yang gak pantes.”

“Insya Allah, Mang.”

*****

Bukan kepada Avatar yang menguasai elemen tanah, air, udara, dan api, Dilan memohon. Tetapi kepada Allah swt yang menguasai hati-hati manusia. Agar kiranya kedua teman baiknya itu dilunakkan hatinya, dihilangkan rasa marahnya, dan digerakkan agar kembali ke masjid.

Di sepertiga akhir malam Dilan bersungguh-sungguh mengisi waktu mustajab dengan munajat. “Wahai Pemilik Hati Manusia, lembutkan lah hati teman-temanku. Tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan pancaran iman kepada-Mu dan tawakal kepada-Mu…”

Dan yang berdoa kepada Allah tidak akan menyesal. Esok siangnya, Adi dan Jalih mau kembali ke masjid menunaikan sholat zhuhur. Perjumpaan dengan Mang Asep tak dapat dielakkan. Namun bukan suasana tegang yang terjadi, melainkan salam hangat dan uluran tangan oleh Mang Asep yang dijawab dengan ramah oleh mereka berdua. Dan mereka saling memaklumi, mengambil pelajaran atas kisah kemarin siang, dan selangkah lebih mengenal satu sama lain untuk mengikatkan jalinan ukhuwah yang lebih kuat.

Dilan tersenyum dan bersujud syukur.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here