Yang Penting Ketaqwaannya

0
293

Hari ini ada yang sedikit menusuk hati saat safar, ada sebuah pesan masuk kepada saya “Neng, kalau lulusan stm bagaimana?”

Mak jleb, itu pertanyaan yang sudah sering terlontar ke saya. Langsung lah spontan saya melihat diri saya yang hina ini, kalau anak stm apa salahnya?

Sedih saat banyak yang mengira kalau saya akan mencari jodoh yang lulusan S2 atau S3, bahkan ada yang mengira bila saya akan mencari jodoh yang lulusan luar negeri, mengingat kata teman-teman bahwasannya saya lebih sering bergaul dengan pemuda pemudi Indonesia yang study ke belahan dunia lain, di tambah dengan perubahan sikap saya berubah drastis ke mereka, iya saya memang sedang menutup diri dari mereka bahkan komunikasi saya dengan teman-teman bisa dikatakan terputus. bukan hanya mereka tapi dari berbagai komunitas yang saya ikuti sayapun juga menarik diri. Saat ini hanya mengisolasi diri di rumah tanpa aktifitas ataupun kegiatan lain. Mungkin saya adalah salah satu orang yang merugi.

Balik ke anak stm, beberapa hari lalu memang ada yang menawari saya untuk beliau jodohkan dengan anak stm. Bismillah karena niatan baik beliau kepada saya, sayapun menyambutnya dengan hati lapang. Pertukaran cv antara saya dan anak stm itupun terjadi, kembali lagi pada Allah setelah ikhtiar dilakukan anak stm itu mengundurkan diri dengan alasan minder dengan saya. Lagi-lagi saya langsung melihat diri yang hina ini.

Adakah yang salah dengan saya? Atau terlalu hinakah saya hingga anak stm pun enggan melanjutkan proses dengan saya?

Atau hanya karena di cv saya tulis bahwasannya saya hanya anak seorang petani kah?

Berbagai praduga muncul di kepala, pertanyaan teman-teman terpatahkan. Anak stm saja enggan berproses dengan saya, apalagi yang S1, S2, atau S3?

Inilah teman-teman, kenapa saya tidak menulis detail kriteria imam saya kecuali “ibadah 5 waktu di masjid, tidak merokok, tarbiyah” karena saya takut, takut kecewa apabila yang diberikan Allah tidak sesuai dengan mau saya! Padahal apa yang Allah berikan untuk saya adalah sudah pasti itu terbaik bagi saya.

Balik lagi, bukan S1, S2, S3, tampan, kaya, mapan, duda, perjaka, terkenal, atau apapun itu embel-embel dunianya. Yang terpenting adalah ketaqwaannya pada Allah. Saya juga memandang siapa diri ini? Hanya seorang gadis yang berlumur dosa, hanya seorang gadis biasa saja hanya seorang gadis kampung yang mencoba merubah nasibnya dengan merantau ibu kota.

Siapalah itu S1, S2, S3 yang mau dengan saya?

“Siapkanlah hatimu untuk menerima jodohmu”

Aise

#seutasceritadarigadisrantau
#curhatanadikkelas
#JOSH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here